kenangan ada untuk ditertawakan

_mg_0653Hari ini, aku kembali semangat menggerakkan tubuhku. entah kenapa, bagi sebagian orang termasuk aku, awal pekan selalu memberikan nuansa tersendiri. ini benar. meski tak sedikit dari mereka yang mengaku masih terbawa liburan akhir pekan. kupikir, aku dan mereka tak ada bedanya. aku juga tak jarang merasakan kelelahan. ya, sisa-sisa kelelahan di akhir pekan terkadang masih sedikit menggelayuti kita. tapi aku yakinkan, bahwa kelelahanku hanya kelelahan fisik semata. karena kurasa intuisiku secara alami selalu memunculkan semangat baru.

kali ini, aku hanya ingin melontarkan tentang kekosongan pagi, yang telah terisi oleh sesuatu yang baru. tapi aku merasa telah akrab dengan sesuatu tersebut. di pagi buta, sesorang yang hingga kini masih menjadi guru atas segala pola pikirku, kembali menggugahku. maksudku, kami saling menggugah satu sama lain. dia memang tak henti-hentinya memberi inspirasi. hal serupa, juga diungkapkannya padaku.  sepertihalnya pagi ini, dia mengungkapkan sebuah kalimat. ketika megungkapkan kalimat itu, aku bisa membayangkan raut mukanya. karakter suaranya terlihat senang, meski saat itu dia mengungkapkannya dengan tenang.

“Teh…,” begitu dia menyapaku, “ternyata benar, kenangan ada untuk ditertawakan,” ungkapnya di akhir obrolan kami. seperti biasa, otakku mulai tergelitik untuk tau makna di balik kata-katanya. saat itu, kami usai membicarakan banyak hal tentang sejumlah kenangan empat tahun silam. kenangan ketika kami masih mampu meluangkan waktu bersama-sama mempelajari banyak hal. ternyata memang benar, kenangan-kenangan tersebut pada akhirnya spontan membuat kami ingin menertawakan diri kami sendiri. tentu saja selain mengambil hikmah dari kenangan-kenangan tersebut. obrolan kami pagi itu memang semacam evaluasi dari kebersamaan kami selama ini.

ya, begitulah kami mengistilahkannya. evaluasi. namun tak pernah terencana dan jangan coba2 merencakannya. “biarlah segalanya mengalir begitu saja, tak usah direncanakan,” begitulah kata-kata kami untuk mengingatkan satu sama lain. dalam kenyataannya memang begitu, kami saling belajar banyak hal. meski kami tak lagi mampu meluangkan waktu untuk sekadar bertatap muka, namun cerita kami terus mengalir. aku bercerita tentang duniaku, dan dia bercerita tentang dunianya. dunia itu satu, dunia bagi mereka yang tak tahan untuk tidak berfikir. di sanalah kami dipertemukan.