Ketika berfikir dengan pikiran sendiri..

asian_art_reflection22Pernah aku berfikir ingin merasakan bagaimana rasanya patah hati. Patah hati yang membuatku menjelma sesosok perempuan yang menutup diri. Ketika membayangkannya, segalanya terasa nyata. Perempuan yang dikecewakan oleh seorang lelaki. Lelaki yang pernah mampu merubahnya, menghentikan langkahnya lebih jauh, membuatnya merasa sebagai perempuan pada umumnya.

Perempuan itu ada dan nyata, dia adalah penyatuan perempuan-perempuan yang aku ciptakan dari kesakitan-kesakitan perempuan yang pernah kutemui. Perempuan itu lebih memilih sepi. Sepi dari apapun dan siapapun, termasuk dari lelaki itu. ia bukan perempuan yang mau menerima. tak mau disakiti. tak mau dipaksa. dan ia bukan perempuan yang lebih memilih rasa nyaman sebuah sanjungan.

Siapa sangka dia akan melangkahkan kaki di tempat yang tak ingin dipijaknya. Tapi memang tak ada lagi pilihan. Dia harus melangkah mengikuti kemauan hatinya. Dia juga harus kuat. Dengan begitu dia mampu memuaskan inginnya. Dia pernah pernah bilang, dia perempuan yang ingin menciptakan dunianya sendiri. Dia memiliki keputusan atasdirinya. Keputusannya untuk memilih melebur dan menghindar dari apapun dan siapapun.

Keputusannya untuk tidak berkomitmen pada siapapun dan apapun. Jangan katakan dia lemah, hanya karena tak mampu mempertahankan lelakinya. Mungkin kau tak pernah tahu dia bahkan sangat menikmati betapa gaib perasaannya ketika itu. Bahkan hingga kini, setelah sekian lama dia dan si lelaki saling meninggalkan satu sama lain. Mereka saling berlomba siapa yang lebih cepat meninggalkan siapa. Perih memang terasa. Demi kebahagiaan, siapapun dan apapun pasti akan mengalami hal serupa.

Dulu dan kini, cintanya selalu mampu memaafkan segalanya. Harusnya dia mampu mengambil resiko menjadi diri yang tak lagi digerogoti rasa takut akan lelaki yang nyata-nyata meninggalkannya. Ia lebih memililih ruang yang kurasa sunyi dan sesak. Tapi dia tetap di sana, mencoba menguatkan diri untuk sekadar mendengarkan lelaki itu membohonginya lagi. Mungkin kini dia lebih siap menerima resiko itu. Tak seperti beberapa tahun silam, setelah lama jejak lelakinya hilang.

Di tengah kegalauannya untuk kembali mempercayainya, lelaki itu tiba-tiba datang. Tapi tak sendiri, lelaki itu datang dengan keputusannya untuk berkomitmen dengan perempuan yang mungkin lebih segalanya darinya. Spontan dia tertawa. Mungkin menertawakan dirinya yang kata mereka dia begitu tolol, dan menertawakan kisahnya bersama lelakinya.

“Kau keterlaluan!” protesnya pada si lelaki. Setidaknya kata-kata itu mampu mewakili kekecewaannya pada si lelaki.

“Bukankah ini yang kau inginkan? Kau selalu menciptakan kebenaran sendiri. Aku lelah berdebat denganmu. Itu satu hal yang menggangguku!,” kebenaran itu seperti pisau merobek harga dirinya.

“Ini berbeda! Kau berdusta di saat aku mencoba mempercayaimu lagi. Apa dia lebih segalanya dariku? Apakah lelaki selalu begitu? Selalu ingin memulai dan memutuskan?” si lelaki hanya diam.

Artinya dia harus segera menghentikan pembicaraannya. Kalau tidak, suasana bisa buruk, hingga berakhir di pertengkaran. Bagaimanapun bila menyentuh soal perasaan tentu sangat sensitif. Sangat egois.

“Well! hal-hal yang kita pelajari dari orang yang kita pikir kita kenal. Sudahlah lupakan!.” dia mencoba bersikap bijak, namun si lelaki pergi meninggalkannya begitu saja. Dia hanya bisa tertawa. Tertawa yang hamper histeris. Matanya adalah mata perempuan yang terbakar penderitaan. Dan dia takkan membiarkan lelaki itu menerobos banhkan mengoyak hatinya lagi. Berfikir bahwa akhirnya, lelaki itu, telah membuatnya gila.

Kini dia harus menerima, sepertihalnya menerima kepura-puraannya tentang pertemuan-pertemuan dengan si lelaki selama ini. Takkan ada lagi yang mampu memecahkan lamunannya. Dia adalah pihak yang terluka. Dia tak ingin lagi berkata terlalu banyak, berbuat terlalu banyak. Apalagi jika mengingat kata-kata di akhir pertemuan mereka. Penyesalan bertumpuk-tumpuk mengusiknya di setiap kesunyian malam.

Dia juga tiba-tiba merasa takut akan datangnya musim yang tak pernah tak berganti. Dia tak mau berfikir, bahwa dia pantas dibenci oleh si lelaki. Tuhan tahu itu, seperti yang tak pernah disadari, dia sudah cukup disakiti. Sejak dia yakin lelaki itu takkan lagi menolehnya, dia seakan berada di dunia lain. Seperti terlempar ke dinding batu. Dan dia sadar, ini harus dihentikan. Mencoba melawan emosinya sendiri terbukti tidak berhasil.

Ketika akan melihat lelaki itu, dia merasa semakin sakit. Itu berarti dia harus menutup hatinya. Sudah cukup dia bertahun-tahun menanti lelaki itu, berharap, dan menderita, hanya agar bisa bersama lelaki itu. Sudah cukup dia hidup dalam penantian. Dia harus mencari kehidupan untuk dirinya sendiri tanpa lelakinya. Kini dia siap mengambil resiko. Tanpa harus merasa kehilangan apapun. Dia tetap dengan dirinya. Dan dia bukan lagi perempuan yang akan membiarkan kesendirian menggerogoti akar kehidupannya.

Dia akan ingin hidup dengan caranya sendiri, dengan tak harus mematok segalanya dengan penuh kekhawatiran. Dia terbiasa melewati jalan yang penuh terjal. Penuh perdebatan. Membiarkan segalanya begitu kusut, dan jangan coba-coba mengambil benang merahnya atau bahkan coba-coba meluruskannya. Dia ingin semuanya tumbuh dan mengalir apa adanya. Dengan begitu dia akan berusaha membuat segalanya seperti yang diinginkannya, tidak kurang tidak lebih. Hal itu juga membuatnya terlindung dari segala macam keterlibatan emosional. Dia akan tetap mendaki, berpikir dan bergerak lagi untuk meluruskannya sendiri.

Dia akan meraih dunia yang diinginkannya. Bukan dunia yang seperti mereka pikirkan. Baginya, banyak cara manusia untuk tetap hidup tanpa harus mengikuti arus kehidupan yang ada. Dia perempuan yang mempunyai sejarahnya sendiri, dan bukan perempuan yang mau mengulang sejarahnya dengan lelaki yang nyaris membuat dunianya terasa sempit, terbatas, dan membingungkan. Dia yakin, tak semua perempuan adalah perempuan, karena Tuhan tidak menggunakan jari-jarinya dari satu tangan. Membiarkan segalanya berjalan apa adanya. Dunia yang sebenarnya, terlihat begitu munafik. Semua manusia ingin diperhatikan, ingin diakui lebih dan berbeda. Mustahil segalanya berjalan tanpa ada kepentingan.