Penindasan atas nama kecantikan

7f422b11 Sejarah mencatat bahwa masyarakat manapun sangat mendambakan kehidupan yang adil dan damai. Namun kenyataannya, peperangan dan penindasan serta ketidakadilan makin merajalela. Penjajahan dan penindasan dikemas dengan rapi dalam bentuk ideologi di bawah sadar, sehingga menjadi semu seolah-olah bukan lagi penjajahan dan penindasan. Dalam wacana kesetaraan dan keperempuanan, akibat ideologi gender yang dominan, membuat relasi laki-laki dan perempuan sulit untuk keluar dari stigma masyarakat. Banyak stereotip manusia yang seolah tak bisa diganggu gugat. Apa yang nature dan apa yang nurture, sehingga dikacaubalaukan oleh berbagai kepentingan atas ideologi gender, dibungkus dengan mitos-mitos, tradisi, budaya dan bahkan pandangan agama.

Pandangan itu kemudian lebih dikukuhkan lagi melalui agama dan tradisi. Dengan demikian, laki-laki “diakui dan dikukuhkan” untuk menguasai perempuan, kemudian hubungan laki-laki dan perempuan yang hierarkis, (dianggap) sudah benar. Situasi ini adalah hasil belajar manusia dari budaya patriarkhi. Dalam budaya ini, berbagai ketidakadilan muncul di berbagai bidang dan bentuk.

Diakui atau tidak, dunia yang kita huni sekarang ini adalah dunia yang terus mewariskan tradisi masyarakat patriarkat selama berabad-abad. Selama itu pula kekuasan pribadi kaum perempuan telah dikerdilkan dan peran mereka selalu dipinggirkan. Namun demikian tidak tepat kalau hanya menyalahkan pria atas semua kasus penindasan itu. Karena sesungguhnya kaum pria juga tertindas. Semua orang mengalami penindasan yang serupa (kendati tidak sama) oleh pola budaya patriarkat ini. Penindasan mental dan spiritual.

Pola budaya patriarkat dikatakan menindas semuanya karena pola budaya ini selalu menghidupkan mitos kalau kaum pria adalah perwujudan energi maskulin (maskulin, asertif dan terarah keluar) sedangkan kaum wanita wujud energi feminin (sensitif, pemelihara dan reseptif). Tentu lain dalam prakteknya dengan dominasi energi maskulin. Dominasi itu tidak mendapat imbangan yang cukup hingga kaum pria-lah yang menentukan semua tatanan, baik nilai, etika, moral, sosial dan (mungkin juga) agama. Semua dibuat standar dengan dorongan alamiah kaum laki-laki. Akibatnya kaum wanita semakin terpinggirkan dan hanya menjadi semacam “perkakas budaya” yang harus tunduk dan menyesuaikan diri dengan paradigma budaya yang ada. Cantik dan tidak cantik juga ditentukan oleh standar kaum laki-laki.

Mitos kecantikan merupakan satu dari mitos terhadap stereotip perempuan. Dalam mitos ini perempuan harus punya keinginan untuk mewujudkannya, dan laki-laki harus mendapatkan wujud dari keinginan itu untuk memiliki perempuan yang serba cantik dan sempurna. Perwujudan itu merupakan sebuah imperatif bagi perempuan, dan bukan untuk laki-laki. Situasinya sedemikian rupa menjadi keharusan dari alamiah, karena situasi ini merupakan hal yang biologis, seksual, dan evolusioner.


Sekarang, “kecantikan “ seolah-olah menjadi sistem ekonomi di mana perempuan menemukan “nilai” dari wajah dan tubuh mereka telah berada dalam ruang orang lain, tidak dalam diri mereka, melainkan dalam diri perempuan lain. Sejumlah rasa sakit yang dialami perempuan melalui mitos kecantikan menunjukkan tidak adanya hubungan sama sekali antara bagaimana penampilan seorang perempuan dengan sosok yang ideal secara kultural.

Realitas ini juga secara gamblang tergambar dalam penelitian Naomi Wolf yang dituangkan dalam bukunya “Mitos Kecantikan(Kala kecantikan menindas Perempuan)” . Menurut Wolf, budaya ini (baca: mitos kecantikan) sebagai penghancuran dalam bentuk mutakhir atas reaksi mengenai kecantikan secara fisik yang juga telah merusak perempuan dan memangsa mereka secara psikologis.

Penelitian-penelitian terbaru juga secara konsisten menunjukkan bahwa meskipun mayoritas perempuan hidup secara terkendali dan tampil menarik, kita bisa melihat adanya “alam bawah sadar” rahasia yang nyaris meracuni semua pembicaraan tentang kecantikan. Alam ini dipenuhi gambaran yang muram tentang kebencian terhadap diri sendiri, obsesi fisik, teror atas usia yang terus bertambah tua, dan ketakutan atas hilangnya kontrol diri.

Praktik kecantikan semakin ditekan, sehingga hubungan antara lelaki dan perempuan yang seperti itu akan terus merasa diktatorial, meskipun muncul gerakan sosial untuk mencapai kesetaraan (derajat). Menempatkan kesenangan perempuan—seks, makanan, atau harga diri—kedalam penilaian personal membuat lelaki berubah menjadi pembuat aturan (legislator) tentang kesenangan perempuan, lebih dari pada keterlibatan perempuan itu sendiri di dalamnya.

Yang lebih penting menjadi perhatian di sini adalah segala aturan dan larangan yang mengikuti mitos itu secara langsung ataupun tidak langsung punya tujuan menyenangkan kaum lelaki. Dalam hal ini benar sekali apa yang di katakan Naomi Wolf dalam bukunya, “The Beauty Myth”, kecantikan adalah tempat yang tepat untuk memelihara dominasi pandangan patriarkis. Maka dengan memperkuat citra diri seorang perempuan, tidak akan lagi merasa terganggu karena “kewanitaannya” dalam segala lapangan kerja dan kesempatan kehidupannya.

Penguatan citra diri perempuan yang ditawarkan Lynda Field ini pada prinsipnya memaksimalkan potensi dasar yang dimiliki perempuan sekaligus mengasah potensi kemanusiaan yang telah dimitoskan oleh budaya patirarkat sebagai milik kaum pria. Dengan kata lain, disamping mempertajam kepekaan batiniah seorang wanita juga harus mengasah daya nalar intelektualnya. Dan ini sangat mungkin dilakukan, karena hampir semua kemampuan “maskulin” itu relatif telah bisa dipelajari.

Yang tak kalah penting untuk di soroti dan ini menjadi titik nadir permasalahan kecantikan adalah permasalahan produk kecantikan dan kesehatan (kosmetik dan suplemen), seolah terbebani tanggung jawab untuk menyebarkan mitos dan citra kecantikan ke masyarakat melalui iklan—dengan bintang iklan wanita cantik tentunya—produk dengan segmen konsumen perempuan dan khalayak umum, realitas itu dapat kita lihat pada iklan televisi seperti produk shampo, sabun, pelembut pakaian, pemutih wajah dan berbagai produk lainnya. Belum lagi iklan di media cetak, khususnya majalah untuk remaja. Halaman demi halaman sesak diisi produk kecantikan remaja.

Bukti saktinya peradaban ini juga dapat disaksikan dalam parade iklan yang ada. Tidak saja pada produk kecantikan, tatapi juga semua jenis produk, tidak peduli minyak rem, mi instan, pompa air sampai pada minuman suplemen khusus pria, hampir semuanya memakai sosok wanita cantik sebagai figur sentral iklan. Dalam teritorial ini seakan tidak diperlukan lagi alur logika akal waras. Seolah, kalau ada gambar wanita cantik produk itu pasti menarik. Tidak perlu lagi mencari keterkaitan minyak rem dengan rok yang tersingkap, maupun rasa nikmat mi instan dengan goyang liar perempuan sintal setengah telanjang. Akhir dari semua logika yang dibangun pasti akan bermuara pada nalar kemesuman.

Sungguh tak ada yang salah dengan perawatan tubuh untuk merawat kecantikan. Yang perlu direnungkan adalah bagaimana kita menyikapi tren dan rayuan mautnya itu, lalu secara tegas berkata tidak untuk berbagai treatment yang memang tidak perlu dijalani. Hal ini penting karena perempuan sebagai kaum yang diincar oleh para pemilik kapital memang mudah dibuat tidak percaya diri dan tidak nyaman dengan kondisi fisiknya.

Menurut Lynda Field, peradaban ini harus segera diruwat (dibenahi) agar semua kutukan penderitaan ini bisa dihilangkan. Pembenahan ini bisa dilakukan dengan mengembalikan energi feminin sesuai dengan poros hukum keseimbangan alam, karena energi feminin selama ini terpinggirkan maka harus dibawa kembali ke tengan dengan jalan memperkuat citra diri kaum perempuan yang sejak lama dikerdilkan itu.

Seperti yang pernah dikatakan oleh Antropolog feminis terkenal pengikut jejak Derrida, Gasle Rubin, bahwa there is nothing out of the text: tidak ada sesuatu di luar teks. Menurut Gasle Rubin, maksud Derrida adalah bahwa tidak ada kenyataan yang berada di luar bahasa. Tidak ada kodrat atau konstruksi biologis yang mendahului tanda bahasa. Misalnya kategori laki-laki perempuan dengan semua atribut dan peran yang melekat padanya bukanlah konstruksi alamiah, melainkan produk sejarah dan representasi. Menurut konsep ini, perempuan menjadi mahluk halus (feminim) bukan karena identitas biologis yang melekat padanya, akan tetapi akibat pencitraan negatif terhadapnya baik oleh diskursus sains maupun agama yang kemudian menjadi budaya.