Hadapi saja…

Tulisan diatas bukan lagi menjadi judul salah satu lagu Iwan Fals, meski memang benar tak ada bedanya. ini hanya tentang perasaanku saja. ini tentang aku dan dia. dan dia kali ini adalah temanku, yang berhasil membuat sesak dadaku saat itu. aku pernah merasakan sesaknya dada ini. Kian sesak lagi karena aku harus bertahan dengan situasi yang sangat ganjil di mataku. Ini tentang aku dan seorang teman yang tanpa kusadari menganggapku sebagai saingannya. Dia adalah seorang teman perempuan, yang tetap menjadi teman meski telah kuketahui sosok aslinya. Ketika itu, bagaikan di cerita dongeng bawang merah dan bawang putih. Tapi ini nyata. Dan aku benar-benar merasakan sesaknya nafasku saat itu.

Seumur hidupku, baru kali itu aku merasa semua orang tak ada yang berpihak, peduli, atau bahkan menyapaku. Perubahan sikap mereka terhadapku begitu cepat. Ketika itu statusku masih mahasiswa. Dan rasa sesak itu aku rasakan diakhir-akhir masa kuliahku. Hingga baru kusadari, ternyata, begitu hebatnya pengaruh sebuah ‘fitnah’. Aku baru sadar, aku tengah berhadapan dengan sosok teman yang merasa tersaingi olehku. Awalnya aku memang sengaja membutakan diri, untuk tidak terlalu banyak turut campur pada sikap dan pembicaraan mereka. Aku tak peduli, karena memang aku tak pernah mengganggu kehidupan mereka.

Tapi ternyata ada yang tak bisa dipaksa untuk merasa tak jujur. Dan itu adalah hatiku. Hatiku mulai tercemar. Karena sekuat apapun aku menahan rasa kecewa ini, tetap tak akan bisa. Yang bisa kulakukan, berusaha bersikap bahwa segalanya baik-baik saja. Dan setiap kali dia menampakkan sikap ramahnya padaku, aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya diam dengan tetap bersikap seperti biasanya.

Dulu, di awal pertemuanku dengannya, aku sudah merasakan keganjilan sikapnya padaku. Dari cara dia menatapku, menanggapi pembicaraanku, dan semua sikapnya yang bagiku terbilang berubah-ubah. Terkadang dia terlalu over memujiku, terkadang juga secara spontan dia mengungkapkan kekecewaannya padaku. Ya, aku anggap sikap tersebut sebuah kewajaran.

Yang tidak wajar adalah sikapnya yang selalu terkesan membedakanku dengan teman-teman lainnya. Itu sungguh aku rasakan. Namun dulu, lagi-lagi aku tak mau menyibukkan diri untuk berprasangka terhadap sikapnya padaku. Sikap menutup mataku terus berlangsung selama beberapa tahun. Hingga di akhir masa studiku, aku seakan diberijawaban kenapa dia bersikap berbeda terhadapku. Aku seakan dibangunkan dari sikap tak peduliku. Lalu? Apakah aku harus mengatakan rasa kecewaku padanya?. Tentu saja tidak. Saat itu aku berkeyakinan, biarlah waktu yang akan membuktikan kebenarannnya.

Aku katakan sekali lagi, dadaku benar-benar sesak dibuatnya. Bahkan hingga kami berada dalam satu perusahaan, sikapnya tak berubah. Bahkan lebih mengerikan di mataku. Bukan hanya teman-teman kuliah saja yang dibuat membenciku, tapi juga teman-teman kerjaku. Saat itu, aku berfikir untuk membutakan diri lagi. Tutup mata tutup telinga, dan bayangkan segalanya baik-baik saja.

Tapi ternyata sulit, kawan. Akhirnya aku memutuskan untuk tidak berada dalam perusahaan yang sama. Aku punya rencana hidup sendiri. Aku dan dia berbeda. Aku bukan sosok yang mau membenarkan segala cara untuk meraih mimpinya. Dan aku juga tak mungkin membiarkan diriku berada di tengah orang, yang tak pernah ingin membiarkanku berkembang. Saat itu pula, dengan tegas memilih duniaku. Ini juga berarti aku membiarkan dia tenang meraih mimpinya. Aku berharap, suatu saat dia mampu merenungkan segala sikapnya padaku atau korban-korban lainnya.

Sepertihalnya aku yang telah menyadari, bahwa ternyata memang benar apa yang ditulis Andrea Hirata, dalam bukunya Edensor. Bahwa hidup dan nasib memang bisa nampak berantakan, misterius, fantastis, dan sporadis. Namun setiap elemennya adalah subsistem keteraturan dari sebuah disain holistic yang sempurna. Menerima kehidupan, berarti menerima kenyataan bahwa tak ada hal sekecil apapun terjadi karena kebetulan. Ini fakta yang tak terbantahkan. (Dari “Edensor” Andrea Hirata yang terinspirasi pada Harun Yahya).

Dan satuhal yang akan aku lakukan, aku akan terus “melaju”. Melakukan pengembangan, ekspansi, karena itu adalah kehidupan. Seperti yang diungkapkan Anand Krishna, dalam bukunya “Renungan Harian Penunjang Meditasi”, penciutan, kontraksi, adalah kematian. Cinta adalah ekspansi. Ego atau mementingkan diri adalah kontraksi. Cinta merupakan satu-satunya hukum kehidupan. Ia yang mencintai sedang hidup. Ia yang egois, yang mementingkan dirinya, berada dalam keadaan sekarat. Cintailah demi cinta itu sendiri.

Dari cerita masa lalu ini, terkadang aku bersyukur. Tapi dengan sedikit narsis, bahwa ternyata, aku benar-benar dipedulikan oleh teman-teman. Sosokku begitu penting bagi mereka. Dan mungkin bisa dikatakan, aku cukup berpengaruh. Tapi semua rasa itu tak pernah merubahku untuk merasa menjadi lebih dari yang lain. Aku tetap orang yang sama dengan yang lainnya. Mencoba tak mengusik siapapun. Kalaupun ada yang merasa terusik, tersaingi, maka aku menganggap itu sebagai sebuah konsekuensi dalam hidup.

Terimakasih sudah membaca. Dan untuk sosok teman yang merasa dirinyalah yang aku ceritakan dalam tulisan ini, dengan sepenuh harap aku memohon “anggaplah aku sebagai temanmu”, “aku ingin kita berbagi cerita, tanpa ada rasa merasa lebih dan bisa satu sama lain.”