Maraknya Aborsi: Cermin Jaminan Kesehatan Reproduksi yang Masih Buruk

0051by: Alimah

Sepekan ini isu aborsi kembali mencuat ke permukaan. Tepatnya Kamis 22 Januari lalu yang hingga kini terus berlanjut, public kembali dikejutkan dengan tertangkapnya dr Ownie, salah satu dokter yang melakukan praktik aborsi. Dari pembongkaran dua septic tank di tempat klinik miliknya, Polisi menemukan sebuah janin embrio berusia 3 bulan dan satu gumpalan darah berusia 1 bulan.

Pembongkaran tempat klinik tersebut terus berlanjut di hari-hari berikutnya. Hingga ditemukan embrio atau janin. Titik penggalian juga dilakukan petugas di samping klinik yang letaknya tidak jauh dari septic tank. Sebelumnya aparat telah berhasil menemukan dua janin. Kemungkinan masih ada delapan janin yang terkubur di sekitar klinik Dokter Ownie.(dari berbagai sumber media).

Terbongkarnya klinik dr Ownie, seakan kembali mengingatkan kita akan peristiwa Pasuruan beberapa bulan lalu. Salah satu SMA Negeri di Kota Pasuruan nekat melakukan aborsi ke seorang dukun. Hebohnya proses aborsi itu terekam dalam kamera ponsel yang saat ini telah beredar luas di masyarakat. Kasus ini terkuak setelah rekaman aborsi pelajar itu tersebar luas dan banyak dijumpai di masyarakat.

Dalam rekaman video format MP4 yang berdurasi sekitar 45 menit itu, memperlihatkan seorang perempuan muda berinisial D sedang menahan sakit lantaran perutnya dipijat oleh tangan seorang laki-laki tua yang diperkirakan seorang dukun aborsi. Tentu saja, kedua fakta tersebut masing-masing saling berkaitan. Dan lagi-lagi, ini adalah persoalan perempuan. Perempuan selalu menjadi korban bertubi-bertubi. Korban secara fisik, psikis, moral maupun agama. Meskipun aborsi dianggap sebagai tindakan kriminal.

Namun kenyataannya, sekitar dua juta perempuan Indonesia melakukan aborsi setiap tahunnya. Dan kebanyakan dilakukan secara tidak aman atau tidak dilakukan oleh tenaga kesehatan terampil di fasilitas pelayanan yang memadai. Bahkan tahun ini, berdasarkan data yang dihimpun badan koordinasi keluarga berencana nasional (BKKBN), kasus aborsi di tanah air telah mencapai 2,6 juta.

Masih kuatnya diskriminasi terhadap perempuan

Sampai saat ini, perempuan memiliki risiko kesehatan lebih besar karena kurangnya kepedulian dan pelayanan untuk memenuhi kebutuhan kesehatan yang berhubungan dengan seksualitas dan reproduksi. Aborsi tidak aman membahayakan hidup perempuan, mewakili masalah kesehatan masyarakat yang serius, banyak menimpa remaja yang berisiko paling tinggi. Banyaknya perempuan yang melakukan praktek aborsi yang tidak aman karena masyarakat masih memandang persoalan aborsi sebagai peroalan moralitas dan kriminalitas semata.

Kematian seorang ibu yang melakukan aborsi di Indonesia cukup tinggi. Data menunjukkan sebanyak 307 ibu meninggal dari 100.000 angka kelahiran. Sebanyak 50 persen diakibatkan karena praktek aborsi yang tidak aman. Demikian juga dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004, ketentuan mengenai aborsi belum sepenuhnya ditempatkan sebagai isu kesehatan.

Hak-hak kaum perempuan dan marginal masih terpinggirkan. Pengaturan UU Kesehatan belum merespon tingginya angka kematian ibu saat melakukan aborsi. Revisi UU Kesehatan No 23/1992 harus mencantumkan persoalan aborsi dengan mengakomodasi hak reproduksi perempuan. Seperti diketahui, tindakan aborsi menurut Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dan UU Kesehatan masih dikriminalkan tanpa pengecualian. Dalam revisi UU tersebut aborsi hanya dibatasi pada indikasi medis dan perkosaan, tidak dalam perspektif kesehatan untuk melindungi perempuan atas hak reproduksinya. Sedangkan selama ini isu aborsi tak pernah dilihat dari aspek kesehatan, tapi dari aspek hukum dan moral.

Buruknya jaminan pelayanan kesehatan bagi perempuan maupun masyarakat umum memang merupakan fakta di tengah masyarakat yang harus diselesaikan dengan tuntas dan segera. Bagaimanapun, isu Hak dan Kesehatan Reproduksi Perempuan yang digembar-gemborkan selam ini harus diseimbangkan dengan peningkatan kualitas kesehatan perempuan.

Dalam hal ini, maka untuk menurunkan angka kematian ibu ataupun calon ibu, maka aborsi harus dilakukan dengan aman. Aturan dengan standar layanan aborsi yang aman akan mengurangi praktik aborsi ilegal selama ini. Dan tentunya layanan aborsi dengan tenaga kesehatan yang terlatih, fasilitas yang mendukung dan memenuhi syarat serta pendampingan konseling, semuanya itu harus dipenuhi dalam aturan yang baru. Pemerintah juga harus berusaha menyediakan sarana pelayanan aborsi yang aman untuk menekan tingkat kematian ibu akibat praktik aborsi tidak aman yang hingga kini masih tinggi.

Agama memandang tindakan Aborsi

Tak ada siapapun di muka bumi ini yang berhak membatasi hak hidup lebih baik bagi semua orang. Setiap orang belajar dari kesalahan mereka, dan seperti yang lainnya, mereka memeiliki hak yang sama untuk memperbaiki kualitas kehidupan mereka. Lalu, apakah aborsi benar adalah sebuah kesalahan? Yang salah, aborsi itu sendiri atau ketidaksiapan mental pelaku yang salah?. Nilai salah atau tidaknya suatu aborsi tidak absolut bagi semua orang. Salah atau tidaknya aborsi didasarkan pada pemahaman bahwa aborsi adalah suatu tindak pembunuhan.

Pemahaman ini sangat rancu, karena perdebatan mengenai kapan kehidupan itu sendiri tidak pernah selesai hingga hari ini. Setiap agama bahkan memiliki keyakinan yang berbeda-beda mengenai awal mula kehidupan. Dalam agama islam, kehidupan dianggap telah ada ketika ruh ditiupkan kepada janin yang ada dalam rahim sang ibu. Jika aborsi dilakukan sebelum ruh ini ditiupkan apakah kemudian aborsi dapat dikatakan sebagai sebuah pembunuhan? Pembunuhan memberi makna penghentian hidup secara paksa pada makhluk yang sudah hidup.

Lalu jika janin tersebut belum dianggap hidup, dapatkah aborsi dikatakan sebagai sebuah pembunuhan?. Dalam hal ini, menarik apa yang diungkapkan KH Husein Muhammad, salah satu anggota Komnas Perempuan sekaligus pimpinan Pondok Psantren Dar At Tauhid Arjawinangun. Dalam beberapa tulisannnya, beliau mengungkapkan bahwa penggunaan kontrasepsi dan cara-cara lain untuk meniadakan kehamilan tidak dengan serta merta menjamin bahwa dia tidak akan hamil.

Keputusan menghidupkan (hamil) atau tidak (mematikan) merupakan urusan Tuhan. Kehamilan yang tidak dikehendaki karena berbagai factor mungkin saja terjadi, bahkan dewasa ini sering terjadi. Dalam keadaan demikian, dapatkah dia menggugurkan kandungannya? Pada prinsipnya Islam mengharamkan segala bentuk perusakan, pelukaan dan pembunuhan terhadap manusia.

Nabi dalam salah satu sabdanya mengatakan : “Janganlah membuat kerusakan (hal yang membahayakan) atas diri sendiri dan atas orang lain”. Dalam ayat al-Qur’an juga dinyatakan: “janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah membunuhnya kecuali karena kebenaran”. Akan tetapi dalam kehidupan kita seringkali dihadapkan pada pilihan-pilihan yang sulit.

Pada persoalan pengguguran kandungan, misalnya ada dua pilihan yang sama-sama berat. Menggugurkan janin dalam kandungan dapat berarti membunuh jiwa yang sudah hidup, tetapi membiarkannya terus hidup di dalam perutnya karena alasan tertentu boleh jadi mengakibatkan penderitaan atau bahkan kematian ibu. Agama dan kelompok-kelompok lain memiliki acuan yang berbeda mengenai hal ini. Ada yang melihat aborsi adalah sebuah pilihan, dengan mengedepankan hak asasi si ibu.

Dalam hal ini perempuan yang hamil memiliki hak atas apa yang paling baik untuk dirinya, termasuk pilihan untuk melakukan aborsi. Ada juga yang kemudian membantah hal ini dengan mempertanyakan hak hidup si bayi. Kelompok lainnya lagi, memandang aborsi sebagai sebuah ketimpangan di mana si perempuan yang hamil hanya mementingkan hak hidupnya tanpa melihat hak hidup si anak yang berada dalam kandungannya.

Pertentangan tersebut memang tidak ada habisnya, setiap kelompok memiliki landasan yang kuat untuk tetap mempertahankan keyakinannya. Terlepas dari pertentangan tersebut, sebagian besar, perempuan sendiri tidak memiliki persiapan mental untuk menghadapi berbagai konsekuensi akibat aborsi. Kebanyakan perempuan yang melakukan aborsi cenderung mengambil keputusan tersebut karena faktor-faktor di luar dirinya. Karena merasa hal itu menjadi aib bagi dirinya dan keluarganya.

Karena merasa malu telah melakukan dosa. Karena merasa takut pada keluarga dan malu pada lingkungan. Alasan-alasan inilah yang kemudian tumpang tindih dengan suara hatinya sendiri. Sedangkan di tengah masyarakat kita dimana akses informasi mengenai aborsi sangat terbatas, tingkat aborsi yang tidak aman meningkatkan resiko keselamatan jiwa dan mental perempuan paska aborsi.

Aborsi hanya sebuah isu di permukaan, namun di dalamnya isu-isu lain menjadi sangat krusial dan berpengaruh dalam keputusan seseorang melakukan tindakan aborsi. Agama, budaya dan ekonomi adalah hal yang paling mempengaruhi seseorang dalam mengambil keputusan untuk melakukan aborsi.