Tentang Kisah Duka TKW Asal Cirebon: “Berharap segera sembuh, agar bisa membantu orang tua…”

arrival-of-the-victims1By: Alimah

Kalimat di atas meluncur dari bibir Un (45 tahun), ketika menceritakan kondisi kedua puterinya. Perempuan paruh baya itu adalah seorang ibu yang kini tengah resah memikirkan kedua putrinya, Yu (25) dan Im(23). Keduanya mengalami gangguan kejiwaan, tepatnya setelah kembali dari Jordania, negeri tempat mereka bekerja menjadi tenaga kerja wanita (TKW) sebagai pekerja rumah tangga (PRT).

Rasa was was tak henti-hentinya menggelayuti hati keluarganya. Bagaimana tidak, bukan sebulan dua bulan, dia dan suaminya Cim (50 tahun) merawat kedua puterinya dengan keuangan yang sangat terbatas. Pasangan suami isteri asal Ujung Semi, Kecamatan, Kaliwedi, Kabupaten Cirebon ini, harus membiayai pengobatan Yu dan Im yang tergolong cukup mahal. Oleh Dokter rumah sakit (RS) setempat, keduanya diduga mengalami gangguan jiwa akibat penyiksaan yang diterimanya semasa menjadi TKW.

Mau tidak mau, keduanya harus mendapat perawatan khusus. Sedangkan pendapatan suaminya, Cim, sebagai penambal ban sepeda angin (ontel), sungguh sangat tidak mencukupi. Belum lagi kebutuhan kedua putranya yang lain. Semua itu berawal dari kepulangan Im dan Yu sebagai TKW di Amman, Jordania. Terutama kepulangan sekitar enam bulanan lalu, tepatnya pertengahan September 2008. Saat itu Im dijemput keluarganya dari PJTKI yang telah menyalurkannya sebagai TKW, PJTKI Musafir Kelana Jakarta.

Ketika dijemput, Im sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri setelah sekitar 25 hari dirawat di penampungan PJTKI tersebut. Sementara Yu, kakak perempuan Im, hampir empat tahun berada di rumah dalam keadaan yang tidak jauh berbeda dengan Im. Yu pulang pada tahun 2005 dalam keadaan sudah terganggu jiwanya. Kondisi Yu, kini memang tak separah apa yang dialami oleh Im, yang membutuhkan biaya cukup besar untuk perawatannya. Namun prilaku dan kondisi lah, yang terkadang membuat keluarganya kian khawatir.

Menurut Un, Yu yang sebelumnya dikenal ceria, kini menjadi pemurung dan penyendiri. Sehari-hari hanya mendekam di kamarnya, tidak mau lagi berbaur dengan tetangga ataupun teman-teman sebayanya. Bahkan pola makannya pun sudah tidak sehat lagi. Dia jarang  makan, dan akhir-akhir ini hanya mau minum air putih. Dia terlihat ringkih, warna kulitnya yang memang putih terlihat semakin pucat, badannya kian hari kian kurus, dibandingkan sebelum pemberangkatannya ke Jordania pada tahun 2003 silam.

“Yu juga tidak pernah mau kalau disuruh minum obat. Berbeda dengan Im yang rutin minum obat. Tapi yang membuat kami takut, jika sudah tengah malam Im sering sekali menjerit. Selama ini kami juga sudah ke Dokter, Tabib, dan Kyai, tapi belum  ada hasil. Padahal Im pengennya berangkat lagi, tapi saya larang karena kondisinya belum sehat,” ungkap Un kepada Blakasuta, ketika ditemui di kediamannya, pada Jumat (5/2/09).

PJTKI Tidak Mau Bertanggung Jawab

Ketika Blakasuta berkunjung bersama Rozikoh dari Fahmina Institute, Sa’adah dari Mawar Balqis, serta Castra Adji Sarosa dari Forum Warga Buruh Migran Indonesia (FWBMI) dan Lilis dari Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI), Yu masih tidak mau keluar menemui kami. Berbeda dengan Im yang mau keluar dan menemui kami. Meskipun Im hanya diam dan menunduk ketika kami menanyakan sesuatu tentang dirinya.

Sesekali, ketika di antara kami ada yang bertanya, Im menjawab dengan diam dan menggelengkan kepalanya dengan tatapan mata kosong. “Yu memang selalu begitu, tak mau keluar dari kamarnya. Kami paksa juga percuma, dia masih merasa takut kalau ketemu orang. Kalau Im masih trauma atas penyiksaan yang dilakukan majikannya. Karena dulu, pertama kali di rumah majikan, dia cerita kalau dia sering disiksa sama majikannya. Terkadang hanya karena sepotong roti, kepalanya dibentur-benturin di tembok oleh majikannya, dijambak rambutnya, dan sering dipukulin,” ungkap Un  sambil menahan jatuh air matanya.

Selama berbulan-bulan berada di rumah dalam keadaan terganggu jiwanya, nasib Lim dan Im memang tidak diketahui sama sekali oleh pihak PJTKI  yang menyalurkannya ke Jordania. Seperti PJKTI Musafir Kelana, PJKTI penyalur Im ke Jordania. Sampai saat ini belum bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada Im. Meskipun selama ini Im dan Yu mendapat bantuan jaminan kesehatan masyarakat (Jamkesmas), namun Un dan suaminya harus tetap menanggung biaya untuk menebus obat perbulannya,  yaitu 1.300.000 rupiah per bulan.

Menurut Castra, Ketua FWBMI (Forum Warga Buruh Migran Indonesia)yang tengah mendampingi kasus Yu dan Im, PJKTI Musafir Kelana sama sekali tidak bertanggung jawab. Padahal seharusnya mereka ikut memonitor dan bertanggung jawab atas nasib yang dialami oleh TKI-nya. “Sebenarnya dari awal pengembalian Im ke orang tuanya, masalah itu sudah muncul,” ungkap Castra. Pertama, lanjut Castra, kepulangan Im dan selama 25 hari dirawat di PJKTI, orang tuanya tidak pernah diberitahu oleh pihak PJKTI. Orang tua Im diberitahu setelah hari ke-25. Kedua, ketika di tengah perjalanan pulang menuju rumah, mereka dipaksa menandatangani dokumen yang sama sekali tidak mereka pahami isinya.

Mereka juga diancam akan diturunkan di tengah jalan, jika tidak menandatangani dokumen tersebut. Sedangkan selama 17 bulan kerja, Im baru digaji delapan bulan kerja. Sampai saat ini tidak ada informasi lebih lanjut terkait gaji yang harus diterima Im. “Kami (FWBMI, SBMI dan Mawar Balqis) akan berusaha membantu mengurus masalah ini hingga selesai, terutama berkaitan dengan hak-hak LM,” ujar Castra.

Langkah pertama yang akan dilakukan oleh FWBMI, SBMI, dan Mawar Balqis adalah bagaimana membantu agar kondisi Im dan Yu kembali normal. Karena ini juga akan mempermudah proses berikutnya, yaitu mengurus persoalan gaji Im. “Kebetulan ada salah satu rumah sakit (RS) di Jakarta, yaitu RS Dr Soetomo, yang mau menanggung pengobatan dan perawatan Im dan Yu. Sedangkan untuk transportnya, atas biaya sendiri. Untuk itu kami masih mengusahakannya, agar korban tidak keluar biaya,” jelas Castra.

Castra juga merasa yakin dan optimis segalanya akan berjalan lancar, apalagi sekarang banyak pihak yang mendukung. Seperti Fahmina Institute, Mawar Balqis di Cirebon,  serta Bagian Permberdayaan Perempuan  (PP dan KB) Kab. Cirebon. “Sekarang tinggal bagaimana Im dan Yu, mereka mau diajak ke Jakarta atau tidak. Informasi terakhir yang diterima dari keluarganya, mereka sudah bersedia untuk ikut ke Jakarta, untuk berobat dan dibawa ke psikiater,” tegas Castra.

Pemerintah Masih Abai Nasib TKI.

Nasib yang menimpa Im dan Yu memang menyedihkan. Betapa tidak, keinginannya untuk bekerja dan memperoleh penghasilan yang tinggi harus dibayar mahal dengan pukulan, tendangan, dan ulah kejam majikannya. Setibanya di tanah air, mereka juga masih harus menderita dengan kondisi yang sangat mengenaskan dan memprihatinkan. Dalam kondisi tidak berdaya, kedua orang tuanya,  hanya mampu meminta dibuatkan surat keterangan jaminan kesehatan masyarakat (Jamkesmas) dari pemerintah desa. Sedangkan pemerintah selama ini hanya mau meraup keuntungan dari hasil keringat TKW seperti Im dan Yu ini.

Pemerintah seakan tidak tahu atau memang pura-pura tidak tahu. Kasus Im dan Yu pun adalah sedikit dari banyak kasus yang terungkap. Masih banyak kasus lain yang menimpa TKW dan TKI. Di luar sana, masih banyak masalah serupa yang sama sekali belum tersentuh perlindungan pemerintah maupun lembaga sosial lainnya. Kontribusi TKW dan kaum perempuan lainnya dalam menggerakan ekonomi keluarga dan perekonomian negara, belum mendapat apresiasi yang layak dari pemerintah.

Perempuan, hingga kini belum mendapatkan haknya untuk memperoleh jaminan hukum sebagai pekerja. Padahal TKW dan TKI pada umumnya adalah penghasil devisa terbesar bagi pemerintah negeri ini, setelah devisa dari sektor Minyak dan Gas Bumi (Migas). Namun pemerintah nyata-nyata masih menelantarkan mereka. Pemerintah sebagai pemangku kebijakan, justru diduga melestarikan dan abai terhadap berbagai ketidakadilan yang menimpa PRT Migran Indonesia. Tak heran, begitu permintaan TKI naik, jumlah perusahaan pengirim tenaga kerja juga menjamur. Tidak semuanya mempunyai izin. Apalagi keuntungan dari pengiriman TKI memang menggiurkan, terutama TKW.

Sejumlah perusahaan memang mempunyai kantor cabang di daerah. Tapi yang umumnya mencari dan merekrut TKI adalah calo. Ada calo resmi yang dibekali dengan surat keterangan dari perusahaan, tapi sebagian besar calo yang gentayangan umumnya calo liar. Imbalan buat mereka juga memikat, apalagi dengan diiming-iming gaji yang lumayan, dengan mudah para calo ini dapat memikat warga desa untuk jadi TKI, terutama kaum perempuan. Belum lagi ditambah dengan janji: setelah dua tahun bekerja, para TKI ini bisa menunaikan ibadat haji.

Seperti yang diakui salah seorang pamong desa Ujung Semi, Mansur, usaha calo dan perusahaan pengirim tenaga kerja (PJTKI) untuk memburu untung terkadang dilakukan dengan segala macam cara. Misalnya karena pemerintah desa (Pemdes) sekarang makin ketat menyeleksi calon TKI, banyak calo yang mengubah KTP calon TKI. Persyaratan dasar, seperti pendidikan, sering juga tak dipenuhi. Dengan kata lain, telah terjadi manipulasi. Puluhan ribu TKI agaknya diberangkatkan tanpa seleksi yang benar dan tanpa dibekali pendidikan dan latihan yang memadai. Hingga pantas bila di negara penerima TKI kemudian terjadi berbagai kerepotan. Jika tujuannya bekerja, mestinya para TKI dibekali keahlian  khusus, kebiasaan-kebiasaan di sana  atau budaya di sana juga mesti dipelajari.

Persiapan dan pembekalan ini mestinya dilakukan oleh para PJTKI, sebelum para TKI atau TKW diberangkatkan kerja ke luar. Sehingga seharusnya tidak ada lagi istilah TKI yang tidak siap secara mental. Disarankan kepada para calon tenaga kerja ke luar negeri, sebaiknya meminta waktu atau kesempatan pembekalan dan latihan kerja, sesuai dengan lapangan kerja yang hendak ditekuni di luar negeri.

(Dikutip dari Majalah Blakasuta Edisi 16 Februari 2009)