Refleksi Hari Raya Nyepi: Pencerahan dari Brata Penyepian

_ggKETIKA Yudhistira ditanya oleh Yaksa yang merupakan jelmaan Bathara Yama (Dewa kematian) tentang apakah yang ditinggalkan manusia yang membuatnya akan dicintai sesama. Yudhistira menjawab dengan mantap yaitu keangkuhan. Dengan meninggalkan keangkuhan manusia akan dicintai sesama. Kehilangan apakah yang membuat manusia akan bahagia, Yudhistira menjawab amarah. Dengan meninggalkan amarah manusia tidak akan dikejar kesedihan.

Jawaban inilah yang kemudian mampu membebaskan keempat saudaranya yang telah mati di tepi telaga ajaib saat di pengasingan. Berkaca dari cuplikan cerita di atas jika dicermati ternyata musuhmusuh manusia yang paling berat adalah diri sendiri, dalam Weda disebutkan Ragade Musuh Maporo Tan Madoh Ring Awak. Manusia selama hidupnya harus berperang melawan keangkuhan, amarah, iri, dengki, serakah, dan sejenisnya.

Hal ini lantaran dalam diri manusia terdapat berbagai nafsu sehingga menyebabkan manusia sengsara, mengalami penderitaan, menimbulkan ketakdamaian, dan sebagainya. Manusia menjadi lupa diri, ingin menguasai dunia, haus kekuasaan, lapar kedudukan, menginjak-injak si miskin, dan menelantarakan orangorang yang dirasa tidak berguna bagi dirinya.

Untuk memperoleh kesadaran diri agar mampu memerangi hawa nafsu yang ada dalam diri sendiri tidaklah mudah, perlu melatih diri setiap saat. Latihan ini berupa pengendalian diri baik pengendalian pikiran, ucapan, maupun tindakan. Ketiga perilaku ini bagi agama Hindu tercermin dalam Tri Kaya Parisuda (tiga perilaku yang disucikan).

Energi positif Pengendalian diri bukan hal yang mudah laksanakan. Walaupun mungkin setiap hari sudah berusaha namun kadang-kadang harus gagal di tengah jalan. Bagi Umat Hindu sendiri selain setiap hari harus berlatih untuk mengendalikan. Salah satunya Hari Raya Nyepi.

Umat Hindu pada saat melaksanakan hari Raya Nyepi diwajibkan untuk mengendalikan diri dengan cara catur brata penyepian, yaitu amati geni (tidak menyalakan api), amati karya (tidak melakukan pekerjaan), amati lelanguan (tidak menikmati hiburan), dan amati lelungan (tidak berpergian). Pengendalian diri harus dilaksanakan karena pikiran sebagai sumber nafsu. Jika manusia ingin selamat dalam hidupnya pikiran harus dikendalikan.

Nyepi tahun saka 1931 kali ini berbeda dengan Nyepi pada tahuntahun sebelumnya. Hari Raya Nyepi yang diperingati tahun ini berlangsung antara perayaan Hari Galungan dan Kuningan dalam dua minggu ini. Tepatnya tanggal 18 Maret 2009 Hari Raya Galungan, 26 Maret 2009 hari raya Nyepi, dan tanggal 28 Maret 2009 Hari Raya Kuningan.

Galungan sebagai hari kemenang dharma melawan adharma. Nyepi sebagai tahun baru saka, dan Kuningan hari untuk menghaturkan doa bagi para leluhur patut diperingati dengan khikmad, penuh keikhlasan, dan menjadikan sebagai momen religius bagi umat Hindu. Rangkaian hari raya tersebut dapat dijadikan sebagai sarana untuk menghaturkan rasa syukur, berserah diri, introspeksi, dan mengendalikan diri agar tidak terjerat oleh nafsu dan awidya (ketidaktahuan). Kegiatan religius tersebut sekaligus melatih diri untuk melepaskan sejenak masalah keduniawian, pekerjaan, keinginan, problematika kehidupan, serta hiruk-pikuk kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Untuk selanjutnya diisi dengan kegiatan- kegiatan rohani yang mampu menjernihkan kembali alam pikir manusia, menyucikan jiwa raga untuk memperoleh energi positif yang dapat membangun perilaku yang positif pula.

Untuk membangun rohani yang positif diperlukan kecerdasan spiritual, emosional, dan intelektual. Dengan tiga kecerdasan tersebut jiwa yang positif akan membentuk mental manusia yang sehat. Kesehatan mental sangat diperlukan manusia agar dapat memanfaatkan pengetahuannya demi kemakmuran, kesejahteraan, dan kedamaian dunia.

Wiweka

Bagi umat Hindu tentunya memahami bahwa segala pikiran, ucapan dan perilaku harus didasarkan pada dharma. Ajaran entang dharma sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Seperti yang dipetikkan dari buku Mahabarata tentang percakapan Yaksa penjelma Bathara Yama dengan Yudistira di tepi telaga ajaib. Yaksa bertanya tentang siapakah yang menemani manusia dalam kematian. Dharma, hanyalah dharmalah yang menemani jiwa dalam perjalanan sunyi setelah kematian. Demikian jawaban Yudhistira.

Manusia hidup tidak bisa lepas dari perbuatan. Perbuatan manusaia ada dua yaitu baik dan buruk. Perbuatan baik menghasilkan karma baik dan perbuatan buruk akan menghasilkan karma buruk. Perbuatan akan menghasilkan karma baik jika didasarkan pada ajaran dharma. Untuk melaksanakan perbuatan yang baik yang didasarkan pada dharma tidaklah mudah, karena dalam diri manusia dikuasai oleh sifat buruk dan baik. Salah satu aspek kehidupan manusia sebagai pancaran daya pikir ialah kemampuan untuk menimbang, membedakan, dan akhirnya memilih antara baik dan buruk, salah dan benar, dan sebagainya.

Dalam ajaran Hindu kemampuan demikian disebut Wiweka. Hari Raya Nyepi kali ini saat yang tepat untuk mengasah kembali wiweka agar bisa memilih perbuatan yang baik dengan lebih bijak yang didasarkan pada dharma. Apalagi Nyepi dilaksanakan di tengah-tengah Hari Raya Galungan dan Kuningan, terasa makin memiliki makna yang lebih mendalam. Bagi umat Hindu ini merupakan momen penting, dengan adanya tiga rangkaian kegiatan religius tersebut harapannya semakin mendekatkan diri pada Ida Sanghyang Widhi Wasa, semakin mampu mengendalikan diri, rajin melaksanakan kegiatan suci untuk membersihkan diri dari karma buruk, melatih kekuatan pikir, hati, dan jiwa.

Pertalian antara Hari Galungan, Nyepi, dan Kuningan saat ini memiliki makna spiritual sangat kuat. Setelah melakukan ritual Galungan Umat Hindu memperoleh kemenangan Dharma melawan Adharma. Kemenangan ini hendaknya tidak menjadikan manusia menjadi congkak, sombong, dan adigang, adigung, dan adiguna. Oleh karena itu, perlu adanya pengendalian diri untuk melawan nafsu keserakahan dan kesombongan itu dengan melakukan catur brata penyepian yang merupakan ritual di Hari Nyepi bagi umat Hindu.

Kemenangan dharma dan kesucian hati setelah melaksanakan catur brata penyepian akan memudahkan manusia mengantarkan doa bagi para pitara (leluhur) yang telah menjadi tumpuan, pendahulu keberadaan manusia untuk melakukan dharma guna memperoleh pencerahan dari Sang Hyang Widhi. Semoga dengan kekuatan Galungan, Nyepi, dan Kuningan ini umat Hindu lebih memahami, menghayati, mengamalkan agamanya sebagai dharma yang akan mendatangkan kedamaian di buana agung (alam semesta) dan buana alit (jiwa manusia).

(ditulis oleh R Tantiningsih SPd Umat Hindu, guru SDN Anjasmoro Semarang. sumber: http://www.wawasandigital.com)