Uderzo, Monsieur Pembikin Tawa

Wajah Albert Uderzo tampak semringah saat meluncurkan edisi terbaru buku komik Asterix di Paris, Prancis, pekan silam. Tak henti-hentinya dia menebarkan senyum. Maklum, setelah empat tahun beristirahat, komikus jenius itu meluncurkan seri ke-33 Asterix berjudul The Sky Falls on His Head.

Seperti buku Asterix sebelumnya, buku terbaru ini menyajikan petualangan tokoh Asterix dan kawan-kawan yang mengundang tawa pembacanya. Uderzo memang memiliki kekuatan untuk memancing tawa seperti semboyan “Goscinnyrix Uderzorix Vis Comica” (kekuatan untuk membuat tertawa) yang ada dalam seri Asterix dan Puteri Rahazade.

Pada edisi itu, bukan wajah para pahlawan Galia yang muncul di halaman perkenalan, melainkan wajah Uderzo berbadan Obelix lengkap dengan menhir di punggung dan wajah Goscinny bertubuh Asterix lengkap dengan topi tanduk bulunya. Semboyan itu–berasal dari epigram zaman Romawi tentang Terence, seorang pujangga Latin–mengelilingi gambar Uderzo dan Goscinny yang tersenyum. Gambar serupa muncul pada edisi Obelix yang Malang (La Galere d’Obelix, 1996).

Ini mungkin kejahilan tukang gambar Uderzo. Tapi, bagi Rahartati Bambang Haryo, penerjemah yang ikut andil mempopulerkan Asterix di Indonesia–kejahilan ini punya arti lain. “Uderzo sangat menghormati Goscinny,” kata Rahartati.

Asterix dan Puteri Rahazade terbit pada 1987, sepuluh tahun setelah kematian Goscinny pada 2 November 1977. Karena itu, Rahartati menduga, gambar karikatur yang menggantikan wajah Asterix dan Obelix itu merupakan cara Uderzo menghargai sahabatnya.

Terlahir dengan nama asli Alberto, Aleandro Uderzo (dengan koma di belakang Alberto), Uderzo lahir di Normandia, Prancis, pada 25 April 1927. Namanya berasal dari sebuah desa bernama Oderzo (biasa disebut Uderzo) di Italia. Orang tua Uderzo, Silvio Uderzo dan Irla Christina Uderzo, memang imigran Italia yang menyeberang ke Prancis pada 1922.

Uderzo lahir dengan “kelebihan”: dua jari tambahan di ruas kelingking jarinya. Mungkin kelebihan inilah yang membuat Uderzo mahir menggambar Mickey Mouse, pujaannya semasa kecil. Kelak, jari tambahan ini dioperasi atas permintaan ibunya. Gambar Mickey ini sempat dimuat sebuah jurnal di Paris, Le Petit Parisien. Pada 1940, saat berusia 13 tahun, Uderzo bekerja di Paris Publishing Society, tempat dia belajar tentang dasar profesinya kelak, seperti desain teks dan gambar.

Meski pandai menggambar, Uderzo kecil bermimpi menjadi mekanik pesawat terbang. Kebetulan Uderzo buta warna. Selain itu, tukang gambar bukan pilihan menarik bagi kedua orang tuanya.

Ketika Perang Dunia II pecah, Uderzo sempat tinggal di Brittany (Bretagne dalam bahasa Prancis), provinsi tua di bagian barat Prancis. Pada 56 sebelum Masehi, provinsi ini dikuasai oleh bangsa Romawi di bawah kekuasaan Julius Caesar. Orang Romawi menyebut daerah ini Armorik, yang berarti distrik berpantai. Konon, bangsa Galia, nenek moyang bangsa Prancis, pernah tinggal di daerah ini.

Saat awal berkolaborasi menciptakan Asterix, Goscinny pasrah sepenuhnya kepada Uderzo untuk menentukan latar belakang cerita. Akhirnya, Uderzo memilih Brittany dan kehidupan bangsa Galia.

Di Brittany, Uderzo bekerja di pertanian dan membantu bisnis perabotan milik ayahnya. Kegiatan ini sempat membuatnya mandul menggambar hingga dia mengikuti sebuah kompetisi gambar strip yang diadakan penerbit Editions du Chene, yang kemudian menerbitkan gambar kartun Uderzo berjudul Les Aventures de Clopinard. Penerbit ini juga sudah menerbitkan kartun Flamberge karya Uderzo setahun sebelumnya.

Pada 1950, Uderzo menggambar beberapa bagian episode dari jagoan Amerika Captain Marvel Jr. untuk majalah Bravo!. Kemudian dia bertemu dengan wartawan Belgia yang memperkenalkannya dengan komikus kondang dari Brussel, semacam Victor Hubinon, Eddy Paape, dan Mitacq, juga penulis Jean-Michel Charlier.

Pada masa-masa ini, Uderzo juga bertemu dengan Goscinny, pria berdarah campuran Polandia dan Ukraina yang lama tinggal di Argentina. Goscinny lahir di Paris pada 14 Agustus 1946. Pria bermuka bulat ini bermimpi menjadi tukang gambar dan pelawak. Ia pandai merangkai kata humor dan dianugerahi senyum dan lirikan mata yang terkesan jahil.

Pada akhir 1951, lahirlah Oumpah-Pah, karya kolaborasi pertama mereka. Ini adalah kisah tentang pahlawan Indian yang mampu bergerak secepat angin. Ide serupa muncul pada Lucky Luke–cerita koboi yang bisa menembak lebih cepat dari bayangannya sendiri–karya Goscinny bareng komikus Morris dari Belgia yang muncul pada 1955.

Lalu, pada 1959, majalah Pilote lahir. Di sini, Uderzo mengawali serial Petualangan Tanguy, yang teksnya diisi oleh Charlier. Pada tahun yang sama, lahirlah Asterix, yang naskahnya digarap oleh Goscinny. Gambar Uderzo mampu menghidupkan humor cerdas Goscinny, membuat cerita perlawanan bangsa Galia menentang invasi bangsa Romawi ini segera populer di Prancis.

Uderzo dan Goscinny bersahabat dan keduanya jahil. Persahabatan itu dibawa ke dalam karya mereka. Uderzo sering menggambar wajah mereka dalam beberapa petualangan Asterix. Dalam seri Asterix di Olimpiade, wajah mereka muncul dengan kostum ala Yunani kuno pada sebuah pahatan marmer. Ada sebutan “raja lalim” dan “tiran” di bawah pahatan wajah mereka.

Wajah mereka sering muncul dengan tawa menyeringai seperti dalam Asterix dan Panci Sup Bawang (Asterix et le Chaudron, 1969) atau pada seri Perjalanan ke Mesopotamia (L’Odyssee d’Asterix, 1980).

Biasanya Uderzo muncul dengan hidung panjang, sedangkan Goscinny muncul dengan hidung tomat plus senyum jahilnya. Namun, kadang mereka juga muncul dengan wajah buruk dan sengsara, seperti saat menggotong tentara mabuk dalam Obelix dan Kawan-kawan (Obelix et Compagnie, 1976).

Kejahilan lainnya, Uderzo juga memunculkan gambar tokoh kartun lain ke dalam Asterix. Thomson dan Thompson milik serial Tintin sempat muncul di seri Asterix di Belgia (Asterix chez les Belges, 1979). Adegan perpisahan ala Romeo dan Juliet juga muncul dalam Desa Belah Tengah (Le Grand Fosse, 1980).

Uderzo juga menuangkan perasaan dalam simbol gambar. Pada bagian akhir cerita Asterix di Belgia, muncul gambar kelinci murung yang meninggalkan riuhnya penghuni kampung Galia menikmati celeng panggang–masakan favorit Obelix. Menurut situs resmi Asterix, ini perlambang kesedihan Uderzo atas kematian Goscinny yang tak terduga. Kelinci itu menggambarkan peliharaan Gilberte, istri Goscinny.

Biarpun ditinggalkan Goscinny, Uderzo masih menghidupkan Asterix. Ada sembilan judul yang terbit tanpa Goscinny, termasuk seri teranyar The Sky Falls on His Head, yang beredar mulai 14 Oktober 2005. Uderzo juga masih menulis nama Goscinny pada halaman depan komik Asterix.

Rahartati Bambang, penerjemah 19 komik Asterix ke dalam bahasa Indonesia, pernah dua kali bertemu dengan Uderzo. Pertemuan pertama terjadi di Paris pada Juni 1995. Saat itu Uderzo sempat mengungkapkan kekagumannya terhadap gaya terjemahan Rahartati yang lincah dan membumi. “Saya tidak menerjemahkan. Saya mengadaptasinya,” Rahartati mengoreksi komentar “Bapak Asterix” ini. “Bravo,” ujar Uderzo.

Rahartati bertemu lagi dengan Uderzo pada 1997. Saat itu Uderzo sempat berjanji akan menyerahkan penerjemahan Asterix dalam bahasa Indonesia kepada Rahartati. Uderzo juga sempat memberikan coretan gambar Rahartati. Buah tangan dari Bapak Asterix. MULTAZAM

(sumber: http://www.ruangbaca.com)