Awalnya Jadi Korban, Kini Pejuang Pembela TKI

la-teta-asustadaIni tentang sosok perempuan lagi. Ya, jangan tanya kenapa aku terlalu sering menceritakan sosok perempuan. Karena waktuku pun kuhabiskan untuk membaca, berfikir, bergerak, dan menyuarakan persoalan perempuan. agar dunia mendengar, bahwa masih ada jalan terjal yang siap kapanpun menghadang perempuan untuk berkembang. mengerikan, jalan terjal itu akan selalu ditemui dimanapun perempuan melangkah.

seperti yang kutulis untuk mengingatkan, setiap kepala punya cerita tentang segala. lebih-lebih perempuan, dan seperti biasa, aku akan diam mendengarkan ceritanya, mengikuti alurnya dan menyimpulkannya. aku tak mau menilai, karena aku sadar penilaianku hanya berdasar pikiranku saja. dalam hal ini aku tak mau menjadi sosok yang hanya berfikir dengan pikirannya sendiri.

kali ini, aku kembali belajar pada sosok perempuan lainnya. sosok tersebut bernama Lilis Sri Sukaesih. Keberaniannya mampu menggugah kesadaran kaumnya, untuk lebih berani bergerak dan memperjuagkan hak-hak perempuan. Padahal diakuinya, tidak ada latar belakang khusus yang menyebabkan dirinya terlibat dengan dunia aktivitas sosial, kecuali pengalamannya menjadi TKW di Hongkong. Dari pengalaman itu, dia terus terdorong memperjuangkan hak-hak perempuan yang senasib dengannya. Yakni perempuan yang mengalami ketertindasan dan ketidakadilan. Dia adalah Lilis Sri Sukaesih (37), yang kini aktif di Bidang Advokasi dan Hukum Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Cirebon.

Semuanya berawal dari perlakuan tidak adil yang diterima diri dan teman-temannya, ketika di asrama penampungan TKW di Jakarta. Ada sesuatu yang tidak beres di tengah penantiannya sebagai calon TKW di Hongkong. Ketidakberesan itu kian terasa, ketika menyaksikan sikap perlakuan petugas asrama dan satpam dalam memperlakukan calon TKW.

“Saat itu di penampungan banyak sekali teman-teman termasuk saya, mengalami penyakit keputihan dan kelainan lambung. Dari situ saya tahu, ternyata penyebabnya adalah makanan yang dikonsumsi setiap hari. Nasinya dimasak kurang air, selain itu dari beras yang sudah tidak lazim di makan manusia. Beras yang bercampur dengan kutu, dan sayurnya labu siem,” ungkap dia mengenang pengalamannya.

Lilis, begitu sapaan akrabnya, tak mampu lagi menerima perlakuan dari petugas asrama yang kurang pantas. Akhirnya dengan modal nekad, dia berontak dan menggerakkan teman-teman asramanya untuk aksi di dalam asrama.

“Karena kami ini bukan budak belian. Apalagi Satpam yang selalu memperlakukan kami bagai binatang, sering bentak. Salah satu tuntutan kami, juga meminta agar satpam itu dipecat. Akhirnya tuntutan kami didengar, yang sebelumnya hanya nasi dan labu siem, setelah itu bertambah tempe satu.”

Tak Henti Memperjuangkan Hak-Hak Perempuan

Seakan tak pernah putus asa, Lilis tak henti-hentinya memberi semangat teman-temannya. Hal serupa juga dilakukannya di Hongkong. Bersama anggota Kotkiho, dia melakukan orasi dengan lebih semangat lagi. Dia juga tak segan-segan mencurahkan segala apa yang pernah dialaminya.

“Setelah saya tiba di agency di Hongkong, perlakuan tidak mengenakkan juga tetap berlangsung. Sebelum ditempatkan, saya tinggal di kamar seukuran 2×2 dengan empat orang TKW lainnya. Setiap kali kami hanya makan dua mie instan. Belum lagi aturan yang melarang kami pergi ke toilet dari pukul 07.00-10.00, tapi saya biasanya nekad,” ujar dia.

Dari situ, lagi-lagi dia menyaksikan perlakuan tidak adil yang diterima TKW. Karena dengan perlakuan seperti itu bisa membuat calon TKW tidak sehat. Tanggal 28 Agustus 2008, dia baru ditempatkan di rumah majikan. Pertama kali kerja, dia mau tak mau harus menahan lapar dan jarang makan makanan yang ada di dapur. Karena selain makanannya banyak yang tidak halal, majikannya juga melarang saya makan jika tidak disuruh. namun, lagi-lagi dia memilih diam. karena dia berfikir, saat itu dia masih baru. Sehingga dia menurut saja. Alhasil, dia lebih sering memakan buah-buahan, itupun terkadang sembunyi-sembunyi. Karena sering kelaparan. Dia pun tidak tahan juga, dia ambruk pingsan pada tanggal 21 September 2008. Kemudian dibawa ke klinik. Ibu jarinya bernanah, karena alergi detergen. Tapi karena dianggap tidak ada penyakit yang berbahaya, maka dia dipulangkan ke rumah majikan. Di rumah majikan, dia dari pagi sampai sore tidak makan apapun, kondisinya makin lemah.

“Sampai tanggal 22 September, saya jatuh pingsan tidak sadarkan diri lagi. Kondisi saya sangat lemah, tapi majikan malah meninggalkan saya tanpa memberikan nomor teloon ataupun alamat. Saat itu saya divonis menderita infeksi saluran kandung kemih, karena sering menahan air kencing. Karena ditelantarkan oleh majikan, akhirnya saya minta dikembalikan ke agency, di Mongkok Hollywood Plaza. Kebetulan ada orang baik yang memberikan saya ongkos ke sana,” ujar Lilis.

Kemudian saya melaporkan diri ke agency, lanjut dia, bahwa saya ditelantarkan oleh majikan di rumah sakit. Saya juga minta pertanggungjawaban agency, tapi saya dibilang oleh agency kalau saya akan di interminite, karena sakit. Tapi saya membalikkan sikap lepas tangan agency, berdasarkan hukum dan peraturan yang pernah saya baca di buku. Dalam peraturan tersebut disebutkan, TKI tidak boleh di PHK sepihak. Akhirnya dengan perkataan itu saya diovertime satu hari satu malam, tanpa dibayar. Karena bayaran saya sudah diambil agency.

“Padahal saat itu kondisi saya masih lemah. Agency juga mengancam mau membunuh saya, dengan cara mencekik leher saya. Hingga suatu saat saya bertemu anggota Kotkiho, mereka menyarankan agar saya tidak usah kembali ke agency. Karena menurut mereka agency itu jahat, dan mereka juga biasa memperjualbelikan TKW. Akhirnya, saya bergabung dengan Kotkiho, saya juga ikut orasi dalam aksi yang dilakukan Kotkiho seminggu sekali.”

Dalam orasi pertamanya di Hongkong, dia mencurahkan segala apa yang telah menimpanya. Terutama terkait kebijakan agency yang kejam. Hingga akhirnya orasi saya didengar oleh media. Konjen KBRI juga mulai datang untuk meminta maaf kepada teman-teman Kotkihonya. Ketika dia akan pulang, agency mencorat-coret paspornya. Karena tahu ada yang tidak beres, maka dia pun menghubungi polisi setempat. Ternyata benar, paspor tersebut dinilai melecehkan hukum. Dari situlah akhirnya dia mendengar informasi tentang Forum Warga Buruh Migran Indonesia (FWBMI).

“Dari situ akhirnya saya mengenal Pak Castra, Ketua FWBMI. Dan ketika sampai di Indonesia, saya aktif dalam unjuk rasa tentang cara kerja BNP2TKI. Pak Castra mengajak saya untuk bergabung di SBMI, hingga saya menekadkan diri untuk membantu kaum perempuan yang tertindas, terutama membela hak-hak TKI. Karena saya pernah merasakan bagaimana terhina, tertindas dan tersisih di Negara orang.”

Baginya, ironis sekali ketika TKI sampai di depan bandara, ada tulisan “Selamat Datang Pahlawan Devisa.” Tapi TKI malah diperlakukan sangat berbeda, seperti ketika petugas menyuruh TKI menyingkir, malah di-syut-syut. “Kemudian saya bilang. Hei, emang kita bebek, disuit-suit?, kalau mereka mengaku dari orang BNP2TKI, maka seharusnya kita dihormati, jangan memanggil kita seperti bebek,” tandasnya.

Sejak Desember 2008 dampai sekarang, dia sudah mendampingi sekitar sepuluhan kasus yang menimpa TKI. Karena pada bulan November, dia mengaku masih di Jakarta, sambil mengurus kasusnya sendiri. Selain itu, dia juga aktif di organisasi Islam, di Fatayat NU. Saya baru dilantik Januari 2009 lalu. Di Fatayat NU Cabang Kabupaten Cirebon, dia sebagai koordinator bidang advokasi dan hukum. Di Fatayat, dia juga mengangkat isu KDRT dan TKI.