Martin van Bruinessen: ketika granit tak lagi menjadi terjal…

Dia menguasai seni menggali data di lapangan. Puluhan tahun dia melakukan penelitian di Indonesia tentang NU, tarekat, pesantren, dan perkembangan gerakan Islam kontemporer. Kajian-kajian yang dilakukannya begitu komprehensif dan tidak memihak. Dia juga mampu menguraikan hasil penemuannya dengan cukup terinci. Setidaknya itulah kesanku tentang sosok pak Martin, demikian saya dan teman-teman menyapa Prof Martin van Bruinessen setiap berkunjung ke lembaga kami, The Fahmina-Institute Cirebon.

Suatu siang di awal Maret lalu, dengan santai pak Martin melenggang mendatangi kami yang tengah menunggunya. Rupanya pak Martin memilih berjalan kaki dari hotel menuju kantor kami, meskipun sebenaranya kami siap menjemputnya. Hari itu adalah hari kedua pa Martin di Cirebon untuk melakukan penelitian terbarunya. Ya, kedatangan pak Martin ke lembaga kami adalah kali ke sekian setelah beberapa kali melakukan penelitian di Cirebon. Dan kali ini, kedatangannya tak melulu untuk keperluan penelitian terbarunya, melainkan siap mengawal kami selama sebulan melakukan penelitian. Selama sebulan pula, kami terus berbagi pengalaman ketika di lapangan.

Tentu saja, momen itu tak mungkin kami abaikan. Saya bangga bisa berguru langsung dengan sang ahli di bidang penelitian. Berbagi dan mendengarkan cerita tentang pengalaman-pengalamannya di lapangan adalah sesuatu yang sangat berharga. Pa Martin juga tak segan-segan menceritakan kegagalan-kegagalannya ketika melakukan penelitian. Dia begitu care. Dalam setiap lakunya, ia seakan ingin menunjukkan bahwa kita setara dan sedang sama-sama belajar. Tak heran mengapa Anas Saidi, peneliti LIPI, terus memuji kedisiplinan dan kegigihan pa Martin ketika mencari data di lapangan. Karena sosok aslinya memang luar biasa meski telah dibalut kesederhanaanya.

Pak Martin adalah salah seorang peneliti senior asal Belanda. Ia belajar fisika teoritis dan matematika di Universitas Utrecht, Belanda (1964-1971). Pada 1978, ia berhasil mempertahankan disertasi doktornya yang berjudul “Agha, Shaikh and State” yang membahas sejarah dan struktur sosial masyarakat Kurdi, juga di Universitas Utrecht. Setelah menyelesaikan tugasnya sebagai supervisor LIPI pada proyek penelitian mengenai ulama Indonesia, sejak 1 Mei 1991, ia ditunjuk INIS sebagai dosen tamu di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Pertama kali mengenal pa Martin, saya hanya mengetahui dari sebuah bukunya yang berjudul ”NU, Tradisi, Relasi-relasi Kuasa, Pencarian Wacana Baru” terbitan LkiS tahun 1994. Di buku itulah pa Martin menulis kajian paling komprehensif dan tak-memihak mengenai Nahdhatul ‘Ulama (NU), sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, untuk saat itu.
Dari buku ini saya coba ulas sedikit. Dulu, ketika mendengar kata “NU”, barangkali yang segera tergambar di benak orang pada umumnya adalah sosok bersarung dan berpeci, yang bejalan menunduk sambil satu tangannya memegang kitab kuning, sementara satu tangan lainnya menggenggam untaian tasbih. Atau jika tidak, NU bagi sementara orang tak lebih dari salat dengan usalli, doa qunut, tarawih 23 rakaat, tawassul kepada para wali, dan seterusnya. Mungkin tak banyak yang memperhatikan bahwa di luar semua gambaran stereotip diatas, NU sebenarnya adalah salah satu denyut terpenting dalam totalitas kehidupan negeri ini.
Dengan keteguhannya (yang diimbangi dengan fleksibilitas) dalam memegang apa yang dengan nada sedikit minor disebut sebagai “tradisionalisme”, dan dengan segala kekhasan dalam gaya berpolitiknya, NU telah banyak mewarnai bukan saja wacana keagamaan, tapi juga setting sosial kemasyarakatan, bahkan politik dan ideologi bangsa. Tapi rasanya telah menjadi keluhan yang klasik, bahwa NU dalam kurun waktu yang cukup lama telah begitu saja terabaikan dalam kajian ilmiah yang serius, terutama karena kebanyakan pengamat telah sejak dini tersilaukan oleh “modernisme” dan “kaum modernis”, sementara NU pada umumnya dianggap tidak dapat digolongkan ke situ. Di buku itu, pa Martin mampu menguraikan dengan cukup terinci keterabaian itu. Ia menyesalkan betapa NU kerap hanya disebut secara sambil lalu, ketika sebuah kajian mestinya memberikan proporsi perhatian yang lebih pada NU.

Di buku itu, pa Martin mampu menguraikan dengan cukup terinci keterabaian itu. Ia menyesalkan betapa NU kerap hanya disebut secara sambil lalu, ketika sebuah kajian mestinya memberikan proporsi perhatian yang lebih pada NU. Selain buku ini, tentu saja masih banyak sejumlah buku hasil penelitian pa Martin yang tidak harus saya sebutkan di ruang ini.

Tak Ada Sekat Meski Ragam

Tak ada sekat meski dalam ragam. Kata-kata itu aku pilih karena sejatinya di Belanda, betapa tidak terlihat adanya garis pemisah antara warga negari penjajah dan penduduk wilayah penjajahannya. Ini seperti yang dirasakan Sutan Sjahrir sang sosialis, yang menginjakkan kakinya pada akhir musim panas 1929 di Hindia Belanda. Sjahrir, pemuda itu, segera terpikat oleh suasana masyarakat belanda yang begitu hidup, seakan tak pernah beristirahat. Pun hal yang sama aku rasakan betapa pa Martin mengajarkan kita menjadi sosok yang menghargai siapapun yang menjadi lawan bicara kita.

Pak Martin, sosok asal Belanda itu, tak henti-hentinya mengajarkan bagaimana menjadi pendengar yang baik. Ia juga terus mengajarkan kita agar bersikap jujur sebagai peneliti. Sekalipun berhadapan dengan obyek penelitian yang tingkat kesulitannya cukup tinggi, diupayakan agar tetap jujur. Jujur dalam menganalisis data, maupun jujur dalam membuka identitas sebagai peneliti ketika di lapangan. Sedangkan jujur dalam menuliskan informan dalam sebuah penelitian kasus yang sensitif, bisa dilakukan dengan inisial. Karena menurut dia, hal ini berkaitan dengan keselamatan informan. Sehingga harus dirahasiakan ataupun dianonimkan dalam rangka melindungi keselamatan korban.

“Dalam kondisi paling sulit, apakah peneliti tidak boleh jujur? Bagi saya ini sangat sulit, karena walau bagaimanapun penelitian kita akan diketahui juga. Contohnya Fahmina meneliti golongan yang berbeda prinsip dengan Fahmina, kalau kita bilang kita dari Fahmina, mungkin kita akan ditolak. Jadi mungkin kita bisa dengan cara lain. Seperti “berbohong” itu tadi. Tapi apakah kita akan merasa betah? Kalau saya pribadi, berusaha menghindari itu. Jadi waktu itu, saya perlu pendekatan dengan orang lain. Karena kalau tidak begitu, maka mereka akan curiga,” papar Martin pelan dengan bahasa Indonesia yang cukup tertata.

Ya, sejatinya apa yang diungkapkannya hampir seperti yang ditekankan dalam buku-buku panduan penelitian. Tetapi kawan, mendengar pengalaman pak Martin sungguh sangat berbeda. Apalagi sosoknya yang selalu mau bersabar mendengarkan dan menimpali obrolan kami. Bahkan tak jarang saya terhanyut dalam setiap pengalamannya di beberapa negara seperti ketika di bercerita tentang Islam di Maroko. Ya, mengenal dan belajar bersama pak Martin, membuat kami termotivasi dan optimis bahwa kami mampu menyelesaikan penelitian kami baru-baru ini.

Dan bagi saya, pa Martin telah mampu menerjang granit itu, sekat itu, dan sejumlah paradoksal yang selalu menjadi kegelisahan sebelum terbukti kebenarannnya. Dari situ saya berfikir, sosok pa Martin yang secara kewarganegaraan saja mampu meneliti di Indonesia dengan ragam budaya dan suku, kenapa saya tidak? Tapi kini saya yakin mampu menerjang granit itu, agar tak lagi menjadi terjal. Dan saya akan terus beajar di manapun dan pada siapapun. Tak peduli apapun komunitasnya, karena saya hanya ingin belajar lagi, menulis lagi, berpikir lagi, bertindak lagi, dan seperti yang diungkapkan James YC. Yen, 1920, pada Perform PDPP, 2003, “Datanglah kepada rakyat, hidup bersama rakyat, belajar dari rakyat, rencanakan bersama rakyat, bekerja bersama rakyat, mulailah dengan apa yang diketahui rakyat, ajarilah dengan contoh, belajarlah dengan bekerja”.

Dan di Holland, saya ingin menjadi bagian dari komunitas global itu. Dimana tak ada sekat meski dalam ragam. Beragamnya budaya menyebabkan Belanda menjadi negara pertemuan ilmu pengetahuan, ide-ide dan budaya dari seluruh dunia. Negeri dengan segudang kebebasan, bahkan hal-hal yang terkait dengan agama, termasuk Islam, terus dicoba didekonstruksi.