dan para perempuan itu tetap ada…

perempuan-perempuan pekerja keras

perempuan-perempuan pekerja keras

Sampai sekarang aku terus bersyukur, bersyukur dan bersyukur. Aku masih bisa merasakan bagaimana rasa sakit dan perih itu. Ya, aku tidak bisa membayangkan jika nasibku ditukar dengan nasib mereka kini. Mereka, perempuan-perempuan itu, yang secara gamblang dan blak-blakkan diperlihatkan dalam film dokumenter “Pertaruhan”. Mereka seakan mengajarkan kita, tentang makna pertaruhan yang sebenar-benarnya pertaruhan.

Ya, hari ini, Selasa (27/4/09) di Studio 21 Grage Mall Kota Cirebon, adalah hari pertama pemutaran film gratis sekaligus talk show dengan narasumber KH Hussein Muhammad (Ketua Dewan Kebijakan Fahmina Institute) dan film maker yang terdiri dari Nia Dinata, Ucu Agustin, Ani Ema Susanti dan Lucky Kuswandi. Kalyana Shira Foundation memang bekerjasama Fahmina-Institute Cirebon dalam program nonton film “Pertaruhan” gratis hingga tanggal 30 Maret 2009 ke depan.

Dalam Pertaruhan, dapat terlihat dan terasa bagaimana sebuah pertaruhan yang sebenarnya. Gambaran Pertaruhan yang biasanya selalu mencoba dibaca dari berbagai perspektif, namun film persembahan Kalyana Shira Films dan Kalyana Shira Foundation, ini mencoba mengajak penontonnya dari perspektif nurani. Demikian Nia Dinata, sang Produser, mencoba menjawab beragam tanya dari penonton.

Film ini mengajak penonton untuk resah di lingkungan sekitarnya. Kian resah, kian peka, kian care, hingga berinisiatif melakukan pergerakan untuk kaum perempuan. Film yang mengangkat sebuah wacana tentang perempuan dan hak atas tubuhnya adalah sesuatu yang berani dan jujur. Para subyek dalam film ini, juga membagi masalah kepada masyarakat untuk memahami apa yang terjadi pada tubuhnya dan bagaimana masyarakat memandang mereka.

Mereka, para perempuan itu begitu nyata. Mereka adalah perempuan Indonesia, saudara kita, mereka perempuan laiknya Ibu kita, kakak perempuan kita, bibi, ponakan dan ade-ade kita. Dan mereka ada, mereka hidup, mereka tengah berusaha menjadi ada untuk anak-anak mereka dan orang-orang yang mereka sayangi. tak peduli mereka harus menjual tubuh mereka. Aku bahkah tak habis pikir dengan para lelaki yang tak pernah coba memakai nuraninya. mereka selalu mengabaikan kesadaran mereka, bahwa mereka lahir dari rahim perempuan-perempuan itu. Ahhh……mereka begitu mengerikan.

Sekali lagi, tanpa sadar film itu membuatku ingin terus menangis. Tentu saja, film dokumenter ini berbeda dengan film yang dokumenter yang pernah ada. Film ini berusaha memfokuskan pada sisi protogonisnya, bukan sepertihalnya berita yang selalu mencoba melihat dari berbagai sisi. Sang film maker berusaha melihat bagaimana persoalan perempuan di mata perempuan itu sendiri. Seperti kisah suram tentang khitan perempuan. Dalam tayangan tersebut, diperlihatkan sebatang silet dan seorang bayi berusia beberapa bulan. Lalu apa yang terjadi? Bayi yang usianya baru beberapa bulan itu terbaring di atas kasur dengan wajah polos.

Sebatang silet berkilat tajam itu kemudian melakukan ”pekerjaannya”. Tak lama, bayi itu menjerit kencang. Tak butuh waktu lama untuk melakukan khitan. Namun khitan ini bukan untuk bayi lelaki. Si bayi kecil adalah perempuan. Kisah suram ini terjadi di berbagai tempat di Indonesia. Sebuah tradisi yang dianggap biasa saja. Sebuah tugas yang dibebankan atas nama agama dan kepercayaan

Dalam tayangan tentang sunat bagi perempuan itu, salah seorang tokoh agama dari sebuah desa di Indramayu, Jawa Barat, mengungkapkan bahwa sunat pada perempuan ada beberapa manfaat, antara lain supaya ia tidak liar dan selingkuh. Karena menurutnya, perempuan itu berahinya lebih besar dari lelaki. Waw, jika selama ini perempuan dianggap memiliki berahi yang lebih besar, lalu kenapa laki-laki yang dianjurkan untuk poligami?

Lalu apa tujuan dari film tersebut?

Film karya Iwan Setiawan dan M. Ichsan, menjadi salah satu bagian dari empat film dokumenter yang tergabung dalam kompilasi berjudul At Stake (pertaruhan). Menurut mereka, soal sunat-menyunat perempuan selama ini dianggap hal yang ”biasa”, meski ucapan tokoh agama itu sungguh mengejutkan. Keempat film ini mengutarakan persoalan politik dan wacana tubuh perem¬puan di Indonesia. Kisah pertama tentang buruh migran Indonesia di Hong Kong. Di sana ada cerita me¬ngenai keperawanan dan lesbianisme. Film ber¬tajuk Mengusahakan Cinta ini menampilkan pergulatan masalah Wati dan Ryan.

Kisah kedua adalah permasalahan khitan perempuan. Pendekatan berbeda dilakukan oleh Iwan dan Ichsan. Bagian ini menggunakan beberapa narasumber yang pernah mengalami khitan ataupun para tokoh yang pro dan kontra mengenai tema ini. Ini Ini juga dibuat dengan menggunakan banyak lapisan.

Kisah ketiga berjudul Nona ¬Nyonya karya Lucky Iswandi. Dalam kisah ini, ia menunjukkan bahwa diskriminasi dapat terjadi pada perempuan urban. Mereka yang masih memiliki status nona dan punya uang pun tak selalu mendapat akses untuk memeriksakan kesehatan reproduksinya. Adapun kisah terakhir adalah tentang mereka yang kalah, perempuan miskin yang harus memecah batu pada siang hari dan melacur pada malam hari demi sedikit rupiah untuk buah hati. Film bertajuk Ragate Anak ini dibesut oleh Ucu Agustin.

Pertaruhan yang menjadi judul antologi dokumenter ini, bercerita tentang isu perempuan lewat wacana tubuh perempuan. Lewat tema-tema soal mitos keperawanan, sunat perempuan, pekerja seks komersial dan diskriminasi dalam hak kesehatan reproduksi perempuan tidak menikah, lima sutradara yang terpilih ini mampu dengan jeli membedah wacana soal tubuh perempuan dan diskriminasi dalam kesehatan reroduksi perempuan lewat pendekatan dokumenter bercerita.

Sedikit ekspresi riuh rendah usai menonton dan talk show di Studio 21 Grage Mall Kota Cirebon

aku (berkerudung warna kuning), Mba Eni Ema Susanti, Mba Ucu Agustin dan Mba Rozikoh, usai menonton "Pertaruhan"

aku (berkerudung warna kuning), Mba Eni Ema Susanti, Mba Ucu Agustin dan Mba Rozikoh, usai menonton \”Pertaruhan\”

aku, sejumlah staf Fahmina-Institute dan movie maker "Pertaruhan" di depan kantor Fahmina-Institute Cirebon

aku, sejumlah staf Fahmina-Institute dan movie maker \”Pertaruhan\” di depan kantor Fahmina-Institute Cirebon

movie maker memberi sambutan sebelum pemutaran film

movie maker memberi sambutan sebelum pemutaran film

talkshow usai pemutaran "Pertaruhan"

talkshow usai pemutaran