tentang kerikil-kerikil yang aku abaikan…

img7
aku tak ingin lagi bertanya bertubi tentang mata dan kepala yang terus tertuju padaku. aku hanya ingin berjalan lurus, meski aku tau kerikil itu selalu ada dan siap menghampiri. tidak. mereka, kerikil-kerikil itu, tidak hanya diam di satu tempat. mereka ibarat sosok yang ada di pikiran kita. kadang muncul tanpa diundang dan disulut, kadang diam menunggu kita terkantuk dan siap menjatuhkan, ada juga yang membiarkan kita jalan lurus dan terbuai dengan kenyamanan yang diberikannya. jadi sejatinya, kerikil ada di manapun, selalu siap menghampiri kita kapanpun.

kawan, kenapa aku tergoda untuk berkisah tentang kerikil. karena kerikil itu bisa jadi kita. kita bisa jadi kerikil bagi yang lain. sepertihalnya aku yang dengan sombong ingin berjalan lurus. aku yang dengan polosnya menginginkan sunyi itu, kosong itu, dan tenang itu. tidak, kawan. aku pernah menghindar dari segala. aku takut hati dan pikiranku tergoda menjadi kerikil bagi yang lain. bodohnya aku, ternyata tanpa sadar aku menjadi kerikil bagi diri sendiri. tapi aku tak ingin kerikil itu menjadi kerikil bagi yang lain. aku tak ingin. tapi bagaimana dengan bara yang telah lebih dahulu menguasai kerikil-kerikil itu?. tentang ini, aku sempat berfikir “ya sudahlah…”. yang pasti, aku bisa mengendalikan diri yang menjadi kerikil bagi yang lain. biarlah kerikil itu muncul di ‘sini’, di hatiku, agar aku bisa mengendalikannya setiap saat aku ingin. dan tentang bara yang tak jua redup membakar kerikil, biarkan saja. biarkan dia menikmati kesenangannya. entah aku akan berbalik membakarnya atau tidak, tergantung seberapa besar panasnya.