Nilai Belanja Iklan Partai Politik Rp 1,06 Triliun

Bisa jadi berita ini ketinggalan, tetapi aku tertarik untuk mengangkatnya di blog ini. okey, berita dari http://www.hidayatullah.com ini tetap menarik untuk dijadikan referensi. dan seperti biasa, selamat membaca!!!


Berdasarkan penelitian AGB Nielsen Media Research, belanja iklan kampanye partai politik di Media kuartal pertama 2009 Rp 1,06 Triliun

Hidayatullah.com–Penelitian yang dilakukan AGB Nielsen Media Research mengungkapkan, untuk iklan politik di media pada kuartal pertama 2009 (Januari-Maret) saja, telah dibelanjakan dana sekitar Rp 1,06 triliun. Angka tersebut meningkat tiga kali lipat dibanding Pemilu 2004 lalu.

Dari total dana yang dibelanjakan untuk iklan media tersebut, 67 persen di antaranya dari partai politik. Selebihnya, iklan politik yang dikeluarkan pemerintah.

Khusus untuk parpol, hasil riset memperlihatkan, Partai Golkar menempati posisi teratas dengan belanja iklan Rp 185,2 miliar, dengan sekitar 15 ribu spot iklan. Lalu, Partai Demokrat Rp 123 miliar dalam 11 ribu spot, dan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Rp 66,7 miliar lewat 4 ribu spot iklan.

PDIP memiliki jumlah spot yang besar, namun nilainya masih di bawah Gerindra. Sayang, tidak diungkapkan nilai nominal partai lain di luar Golkar, Demokrat, dan Gerindra.

“Kecenderungannya, parpol memang lebih giat beriklan sebagai strategi kampanye dalam pemilu kali ini,” ujar Maika Randini, manajer senior Business Development Nielsen Media Research, saat melansir hasil riset lembaganya, di kantor Nielsen, Jl Sudirman, Jakarta, kemarin (28/4).

Menurut dia, di antara jenis media yang ada, iklan politik tersebut (partai politik dan pemerintah) paling banyak dibelanjakan di koran dengan nominal sekitar Rp 739 miliar. Sedangkan iklan televisi sekitar Rp 316 miliar. Tabloid dan majalah hanya mendapat sekitar Rp 10 miliar.

Mengapa koran lebih besar daripada TV? ” Bisa jadi, iklan TV dianggap hanya selintas lalu, tapi kalau koran informasinya bisa lebih detail. Tentu ini sebagai usaha parpol meraih suara sebesar-besarnya,” ujar Maika.

Dalam riset tersebut, Nielsen memantu 102 koran, 163 majalah atau tabloid, dan 19 stasiun televisi di seluruh Indonesia, baik yang berskala nasional maupun lokal. Penghitungan besaran iklan dilakukan didasarkan tarif iklan normal, atau tidak, termasuk potongan harga maupun promosi yang didapat. Hasil riset juga tidak memasukkan iklan baris dalam penghitungan.

Secara keseluruhan, menurut Maika, belanja iklan di Indonesia sepanjang 2009 diprediksi tetap tumbuh sekitar 19 persen.

“Hingga kuartal II tahun ini, belanja iklan politik masih menopang pendapatan utama iklan media yang ada, sebab masih ada pilpres,” tambahnya.

Bidang telekomunikasi yang sebelumnya hampir selalu menjadi penyumbang iklan terbesar, pada kuartal I dan II pada 2009 diperkirakan masih tetap tertinggal dari pencapaian iklan politik. Pada kuartal I 2009, iklan di bidang itu hanya naik 5 persen dari Rp 954 miliar menjadi Rp 1,004 triliun. [jps/www.hidayatullah.com]