nyaris tak sadar menjadi tak biasa…

image004aku nyaris tak menyadari ketidakbiasaanku. ini tentang ritme hidup, yang beberapa pekan menjadi tak biasa. tentang rasa tak nyaman berjam-jam di ruang pelepas lelah. tentang keinginan menggebu, untuk terus berada di ruang yang nyaris membuat tulangku lepas satu demi satu. tentang penelusuran tengah malam, di sebuah Gang yang tak ramah. tentang rasa malas menggerakkan tubuh, meski hanya sekadar menyapa tetangga di segala arah. ya, itu yang tejadi padaku beberapa bulan terakhir.

dan tentang ruang pelepas lelah itu, dulu, aku memang menganggapnya sebagai duniaku. dimana aku bisa menjadi apapun yang aku mau. bahkan tanpa sadar, ketika itu aku menjelma sosok yang memilih bungkam dari siapapun. aku ingin mereka memberiku kesempatan untuk setiap polahku. toh, saat itu aku tidak begitu merepotkan. seperti aku yang tak ingin menoleh, aku yang tak ingin bermanis-manis, aku yang tak ingin dicibir, dan aku yang ingin dibedakan.

itu dulu. dan kini aku tetap ada, meski dengan spirit yang lain. tentang ritme yang tak biasa, aku memang nyaris tak menyadarinya. tak heran, sejumlah orang terdekat mendadak panik di belakang aku yang ternyata nyaman dengan ketidakbiasaanku. tapi sepertinya aku juga harus kembali lagi pada ritme semula, ritme yang biasa, ritme yang tak lagi membuat panik mereka, ritme yang wajar, dan ritme-ritme lain yang membuat nyaman siapapun.

kemudian tentang rasa yang tak biasa lainnya, lagi-lagi aku tak menyadarinya. seharusnya aku menyadari ketika percikan itu mulai menampakkan diri. tapi aku lebih memilih diam. aku terbiasa membuat benang tetap kusut, membiarkan diri menerjang dan diterjang, terlempar, terbuang, tersisih, tercibir, dan membiarkan mereka resah dengan rasa yang mereka ciptakan sendiri. karena ketika aku diam dan bereaksi, pun tak ada pengaruhnya. apalagi rasa yang hanya melelahkan itu diciptakan mereka sendiri. yang pasti aku tak ingin menyulut, karena tak disulut pun mereka akan membakarku. aku memilih menikmati duniaku. menggerakkan pikiran, tenagaku, dan mempersiapkan nuraniku agar siaga merasa apa yang patut dirasa.