Sebulan Setelah Bencana Situ Gintung

0958546pKOMPAS/WINDORO ADI
Minggu, 26 April 2009 | 14:34 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Nyaris sebulan berlalu dari bencana tragis jebolnya Situ Gintung. Pada awal bencana, seluruh perhatian tersedot ke sana. Bantuan membanjiri para korban, tetapi setelah beberapa lama seakan kejadian tersebut semakin dilupakan.

Ratusan warga sampai saat ini masih belum mempunyai tempat tinggal, mereka terpaksa mengungsi di berbagai tempat pengungsian dan rumah sewaan. Selain rumah, banyak juga yang kehilangan mata pencarian mereka. Pasalnya, mayoritas warga bermata pencarian sebagai wirasawasta yang modal usaha mereka diletakkan di rumah. Mereka belum mengetahui bagaimana akan meneruskan hidup mereka ke depannya.

Seperti yang dituturkan oleh Kartini (41), ibu tiga anak ini belum mengetahui ke mana ia dan keluarganya akan tinggal. “Sekarang saya tinggal di Huntara (hunian sementara) yang ada di RT 1/8. Tapi batas waktunya hanya 3 bulan. Habis itu, saya enggak tahu lagi harus ke mana. Mana suami juga sudah enggak kerja lagi,” tuturnya sedih.

Semula suami Kartini, Sofiyan (43), berprofesi sebagai tukang ojek. Namun dalam bencana tersebut, motor semata wayang miliknya ikut hanyut entah ke mana. Sebelum bencana, Kartini juga bekerja, ia mengasuh dua anak tetangganya,tetapi karena terlalu lama di pengungsian, majikan Kartini pun mencari orang lain, dan dengan terpaksa ia juga harus kehilangan mata pencariannya itu.

Saat ini, untuk memenuhi kebutuhan ia dan keluarganya, Kartini mengharapkan bantuan dari beberapa pihak. “Kalau untuk makan beras ada, lauk bisa pakai mi instan. Bantuan mi banyak,” terangnya.

Yang membuat Kartini pusing adalah bagaimana ia harus membiayai sekolah anak-anaknya. Ketiga anak Kartini masih bersekolah di SMU, SMP, dan SD. Ia mengaku belum belum membayar uang sekolah anak-anaknya. “Waktu itu sehari sebelum kejadian, saya baru aja dapat arisan sebesar Rp 5 juta. Tapi semuanya hanyut, kebawa arus. Niatnya uang itu akan dipakai untuk biaya sekolah anak,” kata dia.

Beberapa kali Kartini memang mendapatkan bantuan dalam bentuk uang tunai, uang tersebut habis ia pergunakan untuk membayar uang sekolah anak-anaknya. Bahkan ia belum membayar uang ujian untuk anak keduanya yang duduk di kelas IX SMP Mabad, beruntung pihak sekolah memberinya kelonggaran.

Derita yang sama juga dirasakan Yani (35), ibu dua anak ini juga belum mengetahui apa yang akan ia lakukan untuk meneruskan hidupnya. Suami Yani semula bekerja sebagai sopir angkot jurusan Gintung-Pondok Jagung, tetapi setelah bencana itu nasib suami Yani menjadi tidak menentu.

Awalnya suami sudah mendapat angkot yang bisa dipakai setiap saat, tetapi saat ini ia hanya menjadi sopir tembak yang penghasilannya tidak menentu. “Dulu saya juga kerja sebagai buruh cuci, tapi sekarang majikan saya sudah cari orang lain,” kata Yani.

Sama seperti pekerjaannya, nasib tempat tinggal Yani juga sama tidak jelasnya. Untuk saat ini ia dan keluarganya tinggal di rumah yang disewakan oleh Dompet Dhuafa, tetapi itu hanya 3 bulan. “Setelah 3 bulan, saya harus bayar sendiri. Enggak tahu deh nanti gimana,” kata dia pasrah.

Pada tanggal 27 April lalu tanggul Situ Gintung yang terletak di daerah Cirendeu-Ciputat jebol. Bencana naas tersebut menewaskan 100 orang. Ratusan warga dari beberapa RT terpaksa mengungsi karena rumah mereka hanyut dan rusak berat. Sampai saat ini ratusan warga masih menempati tempat pengungsian dan beberapa rumah yang disewakan bagi mereka.

Selain itu, berdasarkan pengamatan Kompas.com, sampai saat ini tanggul Situ Gintung yang jebol juga belum terlihat tanda-tanda akan diperbaiki, alat-alat berat dan para petugas yang semula ramai, saat ini telah menghilang.

RDI

Dapatkan artikel ini di URL:
http://www.kompas.com/read/xml/2009/04/26/14341558/sebulan.setelah.bencana.situ.gintung