hela nafas setelah menerjang granit…

lljh aku tak ingin memulai dengan tanya. kali ini aku hanya ingin menghela nafas dan membayangkan segalanya baik-baik saja. meski mata tak mau terpejam, hati tak henti mengambil makna, pikiran terus berevolusi, dan tubuh yang ingin bergerak dan bergerak lagi. I’m normal. karena di kerumitan itu ada kehidupan yang sebenarnya. dimana mampu menginjakkan kakiku dan tetap bertahan di sana. menemukannya, menyaksikannya, merasakannya, berfikir, dan bergerak lagi.

dulu aku mengeluh bertubi karena ruang kepalaku tak jua menjadi kosong. ke-enggan-an yang akut, terlalu lama mengikatku. hingga dengan sangat sadar aku bertekad untuk menerjang granit. laiknya Andrea Hirata?. tentu saja tidak, ini hanya persoalan istilah kutip istilah dari sang empunya yang mempopulerkannya. tentang tekad itu, dengan polos aku ingin berdarah-darah menerjang granit itu. aku ingin rasa diri sebagai yang terbuang, hingga aku merangkak lagi menjadi sang. tapi menjadi sang, itupun bukan tujuan. aku hanya ingin kehidupan yang hidup. kaki, tangan, kepala, pikiran, dan semua materi dan imateri berevolusi. dan biarkan segalanya tak terasa. agar tak ada keluh yang menjadi. agar selalu tersadar bahwa di luar sana ada yang lebih dari keluh ini.

lalu?. lalu kini aku berhenti dan diam sejenak. berkuasa sejenak mengendalikan detak jantung. mungkin itu yang mereka maksud ber-refleksi. dimana aku ingin menimbang apa yang belum terbuang. belum lagi tentang rasa syukur yang tak patut aku tekadkan. karena sejatinya setiap upaya gerak untuk menghidupkan adalah buah syukur itu sendiri. aku hela nafas, aku bersyukur, aku kembali mempersiapkan diri untuk kesempatan yang akan diberiNya.

tentang jiwa-jiwa yang sempat menengok dan menanamkan perciknya, aku hanya bisa berharap semoga kita kian mampu memaknai setiap titik dan detik. sepertihalnya aku yang tengah berjuang menerima segala yang membangunkanku, bahwa posisi sudut di sebuah ruang tak bisa kita ubah posisinya. dan untuk memuaskan kehendak itu, jalan terbaik adalah mengubah cara kita berfikir tentang segala. get it simlpe. dan biarkan mereka menemukan dirinya seperti aku menemukan diriku tentang segala.

Advertisements