lelaki dan sisa peradaban itu…

sampahini tentang sosok lelaki yang lebih memilih menjadi akar dari pada bunga. namanya Dasma Adi WIjaya (54). jangan heran jika kau menemukannya tengah berada di tengah-tengah sesuatu yang tebuang. sesuatu itu sisa-sisa peradaban, sesuatu yang kotor, sesuatu yang dinilai tak menarik dari segi manapun. Ya, sesuatu itu adalah sampah. namun bagi sosok yang akrab disapa Dasma, ini memiliki cara pandang yang cukup bijak dari orang kebanyakan. bahkan tentang puluhan tahun jatuh bangun, dia tidak semata memutar otak bagaimana cara mengambil dan memanfaatkan sesuatu yang terbuang itu. Melainkan, jatuh bangun meyakinkan masyarakat akan pentingnya memelihara potensi alam.

mallesnrsiis-4330

‘….Alam ini tidak pernah berbohong. Yang tidak butuh adalah manusia. Tetapi ketika alam membutuhkan, manusia akan didesak oleh alam. Karena pada dasarnya manusia akan melakukan sesuatu ketika dia dalam kondisi terdesak. Manusia juga akan melakukan sesuatu, ketika dia membutuhkan sesuatu yang menguntungkan dirinya. Ketika dia kepepet, tapi tidak melakukan apapun, maka di akan rugi….”

tutur Dasma ketika aku mengajaknya berkisah. Dasma, lelaki warga Desa Tambi Lor, Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu, ini sudah belasan tahun menghabiskan waktu, tenaga dan pikirannya untuk memanfaatkan sampah menjadi kompos. kompos adalah pupuk yang dibuat dari sampah organik. kompos berguna untuk memperbaiki struktur tanah, zat makanan yang diperlukan tumbuhan akan tersedia. mikroba yang ada dalam kompos akan membantu penyerapan zat makanan yang dibutuhkan tanaman. Tanah akan menjadi lebih gembur. tanaman yang dipupuk dengan kompos akan tumbuh lebih baik. hasilnya bunga-bunga berkembang, halaman menjadi asri dan teduh. Hawa menjadi segar karena oksigen yang dihasilkan oleh tumbuhan.

berawal dari keprihatinannya pada potensi alam yang kian terabaikan di negeri ini, Dasma tertuntut untuk memanfaatkan sampah. tepatnya 1986-1987, dia masih menjadi sukarelawan di Dispertan Indra¬mayu, mencoba banting setir dari dagang sayuran di Pa¬sar Jatibarang, ke usaha pengelolaan sampah. saat itu, niatnya memanfaatkan sampah menjadi kompos belum begitu kuat. alhasil, rintangan kecilpun belum bisa terlampaui. tidak lama kemudian, dia memutuskan merangkul adiknya, Sunadi (44), yang saat itu lebih dikenal sebagai si pembuat onar. Bila kampungnya terlibat tawuran, Sunadi selalu berada di garis depan menghunus senjata dan menyerang warga kampung lain yang menjadi seterusnya. dari situ dia mencoba memberikan pemahaman bahwa jangan melihat sampah sebagai uang atau bukan, tapi lihatlah sebagai sesuatu yang bisa menghasilkan uang

apalagi menurutnya, sampah organik secara alami akan mengalami proses daur ulang, dan itu tidak bisa dibiarkan. karena akibatnya akan mengalami pencemaran lingkungan, maka harus ditangani. selain itu juga mengganggu ruang estetika dan lain-lain. apalagi kita di Indramayu ini kebanyakan pertanian, juga perlu dijaga dari pencemaran, baik organik maupun non organik.”

optimis, kompos akan Semakin dibutuhkan

dari kegelisahan itu, Dasma bertekad mengelola tumpukan sampah di pasar yang terbuang percuma. belum lagi, di Indramayu banyak limbah sekam padi dan kotoran ternak. Rasanya sangat sayang, jika semua terbuang begitu saja. bersama Sunandi, dia mengawali pengelolaan sampah di atas sebidang tanah di bekas gudang lantai jemur di Jalan Raya Jatibarang-Karangampel. Berbekal pengetahuan terbatas soal pembuatan kompos, mereka memulai usaha. dari semula hanya 5 kuintal per tahun, hingga tahun 2005 produksi komposnya mencapai 200 ton.

sejumlah karyawan yang tergabung dalam kelompok usaha tani “Buana Bakti”, di antaranya bertugas menyortir sampah organik dan non organik, pengumpul sekam, limbah pabrik tahu, serta pencari kotoran ternak. Dalam proses pembuatannya, sampah organik dicampur dan diaduk dengan sekam bakar, limbah pabrik tahu, dan kotoran ternak. dari sampah menjadi kompos dan kompos bokasi butuh waktu sampai 7 minggu.
Awalnya, produk kompos Dasma dan Sunadi diujicobakan ke tanaman hias. Lama-lama ke tanaman padi, ternyata hasilnya sangat bagus.

dia memasok kompos bukan hanya ke sejumlah desa untuk demplot. Sawah yang memakai kompos kami, kualitas berasnya juga lebih bagus dan lebih pulen. Dalam perkembangannya, Sunadi dan Dasma juga memproduksi kompos yang kualitasnya lebih bagus, yakni kompos bokasi. Kompos bokasi dibuat setelah berhasil menciptakan mesin pengayak sampah sendiri yang dibuat dengan memanfaatkan besi-besi rongsokan. Kini dia menjual kompos pruduknya senilai 10.000 rupiah per 10 kg. Selain itu, dia juga menciptakan alat yang berfungsi untuk membuat kompos. Alat itu dinamakannya komposter. Komposter ciptaannya ini dijual senilai 250.000 rupiah per komposter. Namun, komposter ini khusus untuk menanggulangi sampah rumah tangga, bukan untuk sampah di tempat pembuangan sampah (TPS).

Dulu awalnya dia mengalami kesulitan mempromosikan produk kami. Tapi kami tetap optimis, kalau kompos dan kompos bokasi merupakan pupuk masa depan. Tren pupuk kimia dari pabrik akan menurun, alternatifnya ialah kompos, yang sepenuhnya ramah lingkungan dan tidak menimbulkan efek pada lingkungan. Dalam memenuhi gaji karyawannya, selama ini Dasma beternak puluhan kambing dan sapi. Baginya, ternak-ternak itu laiknya tabungan yang siap digunakan kapanpun, untuk mencukupi gaji karyawannya. dia memang sengaja tidak melakukan peminjaman ataupun penyimpanan di bank setempat, karena dia mengaku trauma berurusan dengan bank.

sekarang aktifitasnya tidak sebatas petani dan peternak saja, tapi juga aktif menjadi narasumber dalam pelatihan-pelatihan. dia selalu terbuka dan merasa senang bisa memberikan motivasi kepada generasi muda khususnya. baginya, hidup ini tidak ada yang gratis, hanya orang yang tidak tahu diri saja, yang maunya gratis. kalau orang hanya mau mengambil, tanpa mau memberikan sesuatu dari apa yang dia terima, maka hidupnya akan mengambang. kita harus memberikan imalan dari apa yang kita terima. Kalau orang terlalu banyak mengambil tanpa memberikan imbalan, maka dia ngambang dan hidupnya tidak akan balancing (seimbang).