dan ia memilih tegar…

”saya selalu yakin, bisa keluar dari tempat itu.” Demikian, untuk kesekian kalinya dia meyakinkan diri bahwa kesempatan itu masih ada. satu bulan lalu, dia masih tersekap dan disiksa bertubi-tubi di salah satu tempat prostitusi yang ada di Tanggerang. kendati begitu, detik-detik jelang pembuktiannya keyakinannya, dia tak segan-segan meyakinkan sejumlah teman yang senasib dengannya, dan mengajak mereka untuk keluar dari tempat prostitusi itu. keyakinannya yang tak pernah redup untuk lepas dari jerat perdagangan orang (trafiking). namun, entah rantai apa yang mengikat teman-temannya. bujukannya untuk keluar bersama-sama melalui ruang bawah tanah, pun sia-sia. Dia, sebut saja dia Sri (15), asal Indramayu.

awalnya aku ragu, mungkin saja Sri tak mau menemuiku dan berbagi pengalamannya denganku. namun tidak lama kemudian, akhirnya Sri pun datang dengan ditemani bibinya. Perawakannya kecil, tutur katanya tegas dan terkontrol. dia begitu care. selama beberapa jam dan berdebar-debar menunggunya, akhirnya dengan suara pelan dia menuturkan kisahnya ketika terjebak trafiking. dalam setiap tuturnya, aku menangkap ketegaran dan kemauan kuatnya untuk keluar dari jebakan trafiking.

Di usianya yang belum cukup umur, Sri telah dijual oleh bibi-nya (adik dari Ibunya). awalnya, Sri diiming-imingi kerja di sebuah pabrik roti dengan gaji besar. namun siapa sangka bibi-nya malah menyerahkannya pada orang lain. Ya, Sri dijual untuk dijadikan sebagai perempuan penghibur di diskotek Tanggerang.

“Akhirnya saya ditempatkan di asrama yang menyatu dengan gedung diskotik, katakanlah asrama bagi para mucikari. Diskotik itu ditutup dengan gerbang yang cukup besar, sehingga tidak sembarangan bisa keluar masuk. Apalagi dijaga ketat oleh para penjaga berbadan besar,” katanya dengan ekspresi wajah yang menampakkan kesedihan. tak gentar akan ancaman di asrama itu, Sri dikurung selama beberapa hari. karena ketika mendengar akan dipekerjakan sebagai pelacur, Sri tak henti-hentinya memberontak dan berusaha kabur dari tempat itu. meskipun lagi-lagi usahanya selalu gagal.

“Pada saat ditawarkan untuk bekerja, saya hanya diberitahu bahwa
saya akan diantar bekerja di pabrik roti, tetapi tenyata saya akan dijual di sebuah tempat prostitusi,” tutur Sri ketika

di asrama, Sri berkenalan dengan perempuan bernama Poppy. dari Poppy pula Sri mengetahui bagaimana cara kabur dari prostitusi itu. jika mau kabur, menurut Poppy ada jalan keluar di ruang bawah tanah. “Semacam got, tapi itu juga percuma, karena akan semakin disiksa,” kenangnya.

Sehingga, lanjut Sri, mau tak mau Poppy terpaksa bekerja sebagai pelacur. Berbeda dengan Poppy, Sri bertekad untuk tetap keluar dari tempat prostitusi itu. Sri juga selalu menolak melayani tamu lelaki hidung belang. ”Ketika saya ditawar-tawarkan pada beberapa tamu, saya selalu menolak. Karena saya hanya ingin jadi pelayan diskotik, bukan perempuan yang melayani lelaki. Tetapi ditolak oleh mami dan saya dipukulin lagi.”

Pernah suatu ketika Sri mencoba kabur, dengan bantuan sejumlah tamu
yang bersimpati padanya. Namun lagi-lagi gagal. Akhirnya Sri kembali
lagi bekerja. ”Tetapi setiap ada tamu, saya tidak bisa melayani, melainkan mengajaknya mengobrol sehingga kebanyakan dari mereka simpati pada saya. Meski memang ada beberapa di antaranya malah menyiksa saya karena tidak mau diajak berhubungan badan,” ungkap Sri.

Kendati tidak ada pilihan untuk tidak melayani lelaki, bukan berarti
niatnya untuk kabur menjadi redup. Upaya kabur terus dilakukannya,
meskipun lagi-lagi dia harus menerima siksaan karena selalu tertangkap
basah. Bahkan siksaan terakhir yang diterimanya, membuat matanya buta selama beberapa bulan.

”Di malam hari saat terakhir saya disiksa, saya kembali mencoba
kabur setelah semua orang di tempat itu terlelap. Sebelum kabur, saya juga berusaha untuk membantu teman-teman yang senasib dengan saya. Bahkan sebagian uang saya diberikan untuk mereka agar mereka memiliki ongkos pulang. Namun, mereka semua tidak ada yang bersedia diajak kabur. Sehingga dengan berat hati dia harus kabur sendirian melewati ruang bawah tanah.

”Perjalanan ruang bawah tanah harus saya tempuh selama satu jam.
Ruangan itu baunya seperti bau mayatmayat,” ujar Sri yang saat itu hanya berbekal tang atas pemberian salah seorang pelayan mau membantunya.

tepat pukul 07.00, Sri berhasil keluar dari gedung diskotik. Kantor Polisi terdekat pun menjadi sasaran tujuannya. sayangnya, Sri malah dipertemukan dengan orang-orang yang telah menjualnya, yakni kerabat
dari ibunya. namun dia menolak untuk pulang. Akhirnya dia meminta
diantarkan kepada orang tua angkatnya yang dainggap masih menyayanginya. dari mereka, Sri pun dirawat di rumah
sakit selama beberapa hari hingga kembali sehat. setelah kejadian itu, Sri lebih memilih diam dan mengikhlaskan semuanya.