buncahlah, meski tak ada bedanya…

224270648_c6b6eba026_b[1]beribu kali mengingatkan diri. api itu akan tetap menyulut tanpa harus kau sulut. tapi detik itu juga kau memaksa menyulutnya. buncahlah sudah, tak ada lagi tanya di sana. semuanya kongkrit. padahal sebelumnya kau menikmati keabstrakan itu. keganjilan dalam kediaman itu. tapi ya sudahlah, meski terkesan munafik dan hanya bermanis di depan mata, tapi setidaknya tak ada lagi pening berlebih. loh, bukannya selama ini kau juga tak merasakannya sebagai terjal? ya, itu benar. tapi bahwa aku yang memiliki jiwa berindera, pun itu sangat benar. jadi biarlah. aku sudah mencoba biarlah. biarlah. biarlah. mereka memiliki segala. sedang aku?. aku hanyalah siapa?. zaman nenek moyang dulu, mereka memang sudah seperti itu. dan sekarang? sekarang mereka mewarisi bertubi dari apa yang disikapkan nenek moyangnya. dengan dada tegak membusung, sikap sok priyayi, tata cara kata tertata, sindiran yang aneh dan pahit, dan sifat sikap takut tersingkir lainnya. mengerikan. memprihatinkan. kasihan. ya, karena selamanya mereka akan terbelenggu dengan sikap itu. tak ingin tersingkir. takut tersingkir. takut akan segala hal yang akan mengusik kenyamanan ada-nya. sayangnya mereka tak pernah menyadari, bahwa sejatinya tak ada yang perlu diperebutkan dari apa yang mereka miliki. dan dengan tegas kukatakan, maaf, aku sama sekali tak berambisi menyingkirkan apapun. karena aku telah memiliki duniaku sendiri yang tak terbandingkan dengan apapun. termasuk membandingkanya denganmu, dia dan mereka. maaf. tapi itulah kejujuran.