dan ketakutannya bertubi…

lonely-night


beberapa pekan lalu, aku selalu tak sempat untuk berbagi di setiap hasil reportaseku. Tapi memang saat itu aku masih tahap pengumpulan data untuk beberapa edisi di bulan yang sama. Sebenarnya yang aku liput tidak melulu tentang persoalan perempuan, tapi juga tentang sebuah kawasan di daerah tertentu yang memiliki potensi dalam sisi ekonomi maupun budaya. hanya saja, di ruang ini aku selalu tertarik berbagi tentang kasus-kasus yang seakan terus bermunculan. dan siapa lagi kalau bukan perempuan yang dijadikan korban.

pernah dalam artikelku yang kesekian kalinya, secara tersamar memohon kepada pembaca untuk tidak merasa bosan. Itu karena terlalu seringnya aku membahas tentang persoalan perempuan. Karena persoalan tentang perempuan mungkin tidak hanya mereka lahap dari artikel yang kutulis, tapi juga dari segala penjuru.

kembali lagi ke pengalaman reportaseku beberapa pecan lalu. Saat itu aku menemui sosok perempuan muda. Dan seperti sejumlah perempuan yang terjebak dalam perdagangan orang (trafiking) lainnya, dia awalnya terkesan menutup diri. namun dengan dengan berbagai ungkapan dan cerita dariku, ditengah obrolan dia mulai terbuka kepada. dari situ aku juga tahu, pembawaannya yang tampak ceria seakan menutupi beban yang tengah dirasakannya. Ya, sebut saja namanya Indah (16), bukan nama sebenarnya. remaja asal Kuningan Jawa Barat (Jabar) itu masih terlihat pucat, kantung matanya juga kian jelas melingkari mata cekungnya. benar adanya ketika Mar (48), ibunya indah, mengatakan berat badan indah turun drastis setelah pulang dari Banyu Putih. Banyu Putih adalah sebuah pangkalan (transit) mobil truk di Batang, Pemalang, Jawa Tengah (Jateng). di sanalah Indah dijual oleh Hendra (29) asal Cirebon, yang selama ini menjadi pacarnya.

sebagai orang tua, Mar dan suaminya mengaku sangat terpukul dan sangat mengutuk perbuatan Hendra. Hendra bukan hanya ”menodai” Indah, tapi juga telah menjualnya secara paksa. apalagi indah masih di bawah umur. Dia tidak pernah membayangkan, anaknya yang masih kecil dan polos seperti harus melakukan pekerjaan semacam itu (perempuan penghibur, red). Dia benar-benar tidak menyangka, kepercayaannya terhadap Hendra malah dibalas dengan kejahatan

selama kurang dari satu tahunan, indah menjalin hubungan dengan Hendra. selama itu pula di mata orang tua indah, Hendra terlihat sebagai pemuda yang baik dan turut membantu mencarikan pekerjaan buat Indah. namun semingguan sebelum Indah dijual di tempat prostitusi, ada yang janggal dari sikap Hendra. yakni, Hendra berusaha melarang Indah untuk bekerja dengan orang lain yang sudah dikenal baik oleh keluarga Indah. ternyata, menurut Mar, pelarangan itu dikarenakan Hendra sendiri telah lama memiliki niat jahat untuk menjual indah. dengan alasan memberikan pekerjaan sebagai pekerja rumah tangga (PRT) di Tegal, Indah pun akhirnya memilih pergi bersama Hendra. jahatnya lagi, sebelum Indah dijual sebagai “perempuan penghibur”, Hendra telah “menodai” Indah terlebih dahulu.

sementara itu menurut Indah, Hendra sebenarnya telah lama memiliki niat jahat untuk menjual Indah. sayangnya, Indah baru sadar atas kejahatan Hendra setelah Indah dijual paksa oleh Hendra. Bahkan selama ini Hendra dikenal baik dan santun di depan kedua orang tuanya.

sebenarnya tawaran Hendra untuk menjual Indah ditolak oleh pemilik prostitusi (Germo), karena saya masih di bawah umur. tetapi karena Hendra memaksa dan tidak peduli, maka Indah pun akhirnya dijual dan tidak bisa berbuat apa-apa. Indah juga mengaku tidak bisa kabur begitu saja. karena ketika berangkat dari rumah, Indah sama sekali tidak membawa uang. Hendra melarangnya dengan alasan semua biaya akan ditanggung Hendra. hingga akhirnya Indah mulai curiga ketika bus yang ditumpanginya berhenti di sebuah rumah sederhana tetapi begitu ramai. di rumah itulah indah dipaksa tinggal. sedangkan hendra meninggalkannya begitu saja.

Menurut Indah, di dalam rumah itu hanya ada dua kamar tidur. ada juga anak seumurannya yang sama-sama dipaksa bekerja sebagai perempuan penghibur. setiap hari Indah dan temannya dipaksa melayani para lelaki tanpa upah. karena upahnya selalu direbut sama germo di sana, jadi terkadang dia diam-diam menyembunyikan uang sendiri. waktu istirahat bahkan sangat minim. sampai akhirnya dia terjatuh sakit, karena kondisinya sangat lemah. Bahkah karena terus menerus dipaksa melayani lelaki, dia mengalami pendarahan yang begitu parah.

setelah beberapa pekan Indah tersekap, Indah bertekad untuk kabur. Tepatnya pukul pukul 04.30 pagi WIB, Indah berniat kabur usai shalat subuh. Indah pun akhirnya berhasil keluar dari rumah prostitusi itu dengan ditolong oleh seorang bapak tua yang biasa berjualan di depan rumah tersebut. bapak tersebut membantu menunjukkan dan memberhentikan mobil bus jurusan Cirebon.

Tentu saja, Indah perasaan Indah sangat tidak enak ketika mencoba kabur. Karena dia sendiri tidak berdaya menghadapi para penjaga berbadan besar yang dalam setiap saat mamu menangkapnya. apalagi Indah tidak pernah menghubungi dan tidak bisa dihubungi. ternyata memang hp-nya dirampas oleh Hendra. sampai akhirnya dia pulang dengan muka murung, dari situ kecurigaan orang tuanya terbukti. awalnya Indah memang tidak mau cerita, tetapi lama-lama cerita semua pada orang tuanya.

setelah mengetahui persoalan yang sebenarnya, Mar dan suaminya melaporkan Hendra ke Polres kuningan. namun karena Hendra asli Cirebon, maka kasusnya dialihkan ke Polresta cirebon.

ditakut-takuti dengan biaya cukup banyak

persoalan indah ternyata belum selesai begitu saja. karena selain harus keluar banyak biaya untuk pemeriksaan dan pengobatan penyakitnya, dia juga harus menghadapi aparat kepolisian yang menurutnya selalu terkesan mengeluh tentang biaya.

Indah merasa bingung, apakah kasusnya akan seesai sesuai harapannya dan kedua orang tuanya. Apakah kasus itu akan terus berlanjut atau tidak. karena Kanit Polresta Cirebon sendiri, menakut-takutinya dengan harus menyediakan biaya yang bagi keluarga Indah cukup banyak. apalagi orang tua Indah benar-benar kurang mampu. Baaknya hanya sebagai penjual sapu bambu. Hanya menjual secara berkeliling. Dan sapu-sapu itu hanya dijual Rp 1.500 per sapu. selama pengobatan, bahkan Indah dibantu oleh mantan majikannya dulu. tetapi Indah juga menyadari tidak mungkin terus-terusan mengandalkan mereka.

hal senada diungkapkan Mar, dia sangat menyayangkan sikap aparat yang malah terkesan menakut-nakuti puterinya yang dalam hal ini sebagai korban trafiking. Bahkan setiap pulang dari kantor polisi, Indah selalu menangis. polisi yang sedang mengejar germo di Batang juga sering meminta digantikan pulsanya rp 50.000 setiap kali menelpon Indah untuk mendapat keterangan. Indah juga bercerita, ada yang janggal dari kasusnya. Seperti germo yang telah dibebaskan dan dikembalikan ke tempatnya semula. Padahal, beberapa hari sebelumnya telah berhasil ditangkap oleh polisi.

Ya, bagiku memang terasa janggal. Kenapa polisi dengan mudah melepaskan germo yang memang menjadi salah satu pihak yang menjadi bagian dari trafiking?. Namun aku memang tidak mau terlalu banyak bertanya-tanya sendiri. Lalu aku konfirmasi kepada Kanit PPA Kapolresta Cirebon. Kawan, seperti Kanit PPA pada umumnya, dia adalah seorang perempuan. Namun yang disayangkan adalah, ketika dia berhadapan dengan korban, kenapa dia tidak berusaha menenangkan dan memberikan perlidungan secara psikologi. Dia malah menakut-takuti.

Ya, kini kasus Indah masih dalam tahap pengumpulan berkas-berkas untuk persiapan sidang. Tentang kasus Indah, aku dan segenap jaringan masyarakat anti trafiking di lembaga tempatku bekerja, terus mencoba mendampingi Indah dalam mengahadapi sidang dan menghadapi pihak kepolisian. Karena realitasnya, jika tanpa pendampingan dari LSM, maka korban sepertihalnya Indah akan diperlakukan dengan tidak sepantasnya. Meskipun hanya berawal dari sesuatu yang sepele, kecil, sederhana seperti sikap meremehkan, menakuti, dan godaan-godaan/guyonan dari polisi lelaki. Apalagi kondisi seperti perempuan korban trafiking, sangatlah sensitif.

Bicara tentang sikap polisi yang sulit berubah, terkadang aku merasa pesimis polisi mampu mereformasi dirinya. Bahkan karena terlalu sering menghadapi para polisi yang sok, cabul, birokratis, bertele-tele, lambat, mata duitan dan lain sebagainya, aku dengan sangat sadar melontarkan kata-kata kesalku kepada mereka ”meskipun berpuluh tahun diberi kesempatan, bermiliar-miliar diberikan anggaran untuk program perbaikan struktural, instrumen, dan kultur kepolisian, semua itu tidak ada pengaruh dan perubahan seperti yang diharapkan masyarakat. Apalagi para polisi yang bekerja jauh dari jangkauan atasan dan kantor tempatnya bekerja. Mereka bisa kapan saja berlaku melenceng dari tanggungjawabnya sebagai pengayom dan pelindung masyarakat. Dan maaf, saya tidak menerima alasan cengeng bahwa polisi juga manusia. Karena tubuhnya polisi memang tubuh manusia. Tapi ketika dia bekerja dan menjalankan tanggungjawabnya, maka dia tidak hanya membawa diri sebagai manusia biasa. Apalagi sudah ada komitmen. Dan jangan menyangkal soal anggaran, karena beberapa tahun terakhir, anggaran Polri terus bertambah dengan munculnya beragam program seperti Polmas, Quick Wins, dan program lainnya. Kita semua bekerja, dan kita menjalankan tanggungjawab kita masing-masing sebaik mungkin. Dan kita juga ”manusia”.

dan setelah ini, tunggulah lagi. karena akupun akan terus berkisah…