detik serasa “bermakna”…

raven

raut wajah dan bahasa tubuhnya kian jelas terlihat. perempuan paruh baya, itu lagi-lagi terkejut, terheran, terpaku dan tak berkata sejenak. sore itu, seperti biasa, dia akan kembali ke pematang sawah sebagai buruh tani. namun kehadiranku bersama seorang kawan menghentikan langkahnya. ya, kami kembali menemui Engkoy. begitu kami menyapanya. dia adalah kakak perempuan Eti Rohaeti yang akan dihukum pancung di Arab Saudi. tentang Eti, tentunya kau telah membaca di salah satu tulisanku di blog ini pada satu bulan lalu. kami datang untuk memberikan kabar terakhir tentang perkembangan kasus Eti. selain itu kami juga terus memberikan spirit pada keluarga Eti. Engkoy mengaku terkejut, karena tidak menyangka kami akan kembali lagi dan memberikan kabar perkembangan kondisi Eti. apalagi, dari Cirebon kota menuju pelosok pucuk pegunungan di ujung Kabupaten Kuningan.

lalu ada juga keluarga salah satu korban perdagangan orang (trafficking) dari pelosok Indramayu. mereka adalah keluarga Sri (nama samaran), ABG korban perdagangan perempuan di Tangerang Jakarta. dia tak hentinya berterima kasih, ketika tiba-tiba kami memberikan majalah hasil reportase kami beberapa minggu sebelumnya. lebih-lebih, ketika kami juga membawa kabar bahwa ada beberapa pihak yang bersedia menampung dan membantu Sri agar mau kembali belajar lagi. pihak tersebut adalah dari kepolisian yang bersedia menyelesaikan kasusnya hingga tuntas dan Kiai Pemilik dari salah satu Ponpes di Indramayu. Keluarga kiai tersebut bersedia mengangkatnya sebagai anak, memberikan spirit dan menyekolahkannya kembali.

selain Sri dan keluarga besar Eti, ada banyak reaksi dari sosok-sosok yang membuatku secara sadar, bahwa aku baru saja menjadikan diri bermakna bagi yang lain. jika benar adanya, terima kasih Tuhan, setidaknya hidupku kian bermakna bagi yang lain.