belajar tentang apapun…

Masyitohingin terus belajar dan belajar. setidaknya itu kesan kali pertama aku berbincang dengannya. ketika itu di suatu siang bulan April 2009, tepatnya hari Jumat. beberapa pekan sebelumnya, dia baru saja mendapatkan tropi penghargaan juara II atas karya ilmiahnya yang berjudul ”Islam, Perempuan, dan Ketidakadilan Gender.” Ya, itu adalah pengalaman pertamanya mengikuti lomba karya ilmiah yang digelar Unit Kegiatan Mahasiswa Center for Study Philosophy of Community (UKM CSPC), Fakultas Ushuluddin STAIN Cirebon. Rasa syukur dan bahagia tentu saja tak henti dirasakannya. Bagaimana tidak, bisa meneruskan kuliah di Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) saja dia sangat bersyukur, apalagi dengan mendapatkan penghargaan lomba karya ilmiah.
Namanya Masyithoh (30). Orang-orang di sekitarnya biasa menyapa Ithoh.

Kini selain menjadi ibu rumah tangga dan berwirausaha, dia juga menjadi mahasiswa semester tiga Fakultas Tarbiyah Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) di ISIF Cirebon. Sebagai mantan TKW di Malaysia, Ithoh bisa dibilang mendapatkan keberuntungan yang tidak semata keberuntungan. Dia bersyukur, bertahun-tahun menjadi TKW di Malaysia tidak pernah mendapatkan persoalan seperti yang dirasakan teman-temannya. Tapi keberuntungan itu, bukan berarti tanpa pengorbanan dan usaha. Sebelum bekerja di Malaysia, Ithoh bekerja di sebuah pabrik di Batam selama tiga tahun.

”Ketika berangkat ke Malaysia, saya juga benar-benar mengikuti prosedur yang tidak sembarangan. Saya mengikuti beberapa kali tes, hingga akhirnya saya bisa diterima. Saya berangkat dengan legal. Di Malaysia saya sebagai auto checker di bagian HRD (Human Resource Development) di Perusahaan Nippon Elec,” kenang Ithoh.

Pertama kali di Malaysia, dia bertemu dengan teman sesama dari Indonesia yang mendapat masalah. Keberadaan mereka di Malaysia banyak yang ilegal, sehingga mau tidak mau mereka selalu mendapat masalah.

”Apalagi para polisi di Malaysia sangat ketat, mereka bahkan bisa muncul di setiap sudut kota Malaysia. Tentu saja saya sedih dan prihatin. Kepada beberapa teman, saya hanya bisa menengok mereka di penjara. Seakan-akan, di penjara itu hanya dipenuhi oleh orang Indonesia. Memprihatinkan sekali, belum lagi ratusan perempuan pekerja rumah tangga (PRT). Di asrama KBRI, mereka tumplek blek dan semuanya menganggur karena mendapat masalah dengan pekerjaannya,” ungkap dia sambil sesekali mengusap air matanya.

Masyitoh

Aktif Menulis dan Berorganisasi

Meski baru pertama kali mendapatkan penghargaan dalam bidang tulis-menulis, tetapi menekuni dunia tulis-menulis sudah lama ditekuninya. Terutama pada saat bekerja di Batam. Dia menjadi salah satu kontributor tabloid Etos. Dia juga aktif sebagai aktifis Remaja Masjid Nurul Islam (RMNI) di Biro Pendidikan Agama dan Bahasa Arab (PAB). Bahkan selama bekerja di Batam dan Malaysia, Ithoh berkali-kali mendapatkan penghargaan the best ten of operator di bagian auto checker PT Nippon Elec. Kini di kampus ISIF Cirebon, selain aktif sebagai salah satu pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), juga sebagai Pimpinan Redaksi Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) ISIF.

”Kalau di PAB, saya juga aktif mengajar anak-anak TPA di RMNI,” ujarnya. Tiga tahun di Malaysia, Ithoh pun mendapatkan pasangan hidup asal Indonesia. Namun setelah menikah, Ithoh dan suami lebih memilih membuka usaha konveksi di daerah kelahirannya di Indramayu. Kendati begitu, bukan berarti dia merasa puas dengan kondisinya. Dia memiliki keinginan lain yang belum terwujud. Yaitu, kehausannya untuk menguasai ilmu pengetahuan. Dia ingin meneruskan pendidikan ke jenjang tinggi setelah sekian tahun menanti kesempatan itu. Ithoh bahkan tidak peduli dengan posisinya yang sudah menikah, berkepala tiga, dan mantan TKW. Dia hanya ingin belajar, belajar dan belajar.

”Saya merasa jiwa saya hampa tanpa pengetahuan, namun saat itu belum ada kesempatan. Saya harus bekerja membiayai sekolah adik-adik, kebetulan juga saya anak pertama dengan dua adik. Jadi waktu saya memang terkuras untuk itu,” ujar dia.

Tapi keinginan untuk terus belajar dan belajar tidak pernah surut. Hingga akhirnya, atas dukungan sang suami, Ithoh meneguhkan diri untuk mendaftar kuliah S1 di ISIF Cirebon. ”Saya bersama adik perempuan saya kuliah di ISIF, saya mendapatkan banyak kemudahan. Apalagi ISIF memberikan beasiswa. Kemudahan ini semakin memperkuat keinginan saya untuk terus belajar. Pikiran dan wacana saya juga semakin terbuka, terutama hal-hal yang berkaitan dengan wacana gender dan persoalan perempuan. Metode pembelajarannya juga tidak membosankan, menyenangkan, dan membuat kami kreatif. Kami lebih banyak berdiskusi,” papar dia.

Dengan setengah tertawa, dia kembali tersadar bahwa apa yang selama ini dilakukannya di Malaysia adalah bagian dari perjuangan mewujudkan kesetaraan. di mana ketika itu dia bekerja di perusahaan pembuat mesin. Pekerjaan yang dilakukannya adalah pekerjaan yang biasa dilakukan oleh lelaki. Tetapi pada saat itu dia mengerjakan, bahkan dia adalah satu-satunya karyawan perempuan yang memegang tanggung jawab tersebut. Dia mampu bertahan, bahkan prestasi kerjanya pun menjadi kebanggaan tersendiri bagi perusahaannya.

”Ya, jujur saja yang membuat saya menikmati kerja di sana adalah kami dihargai. Saya tidak tahu di perusahaan lainnya, tapi saat aku kerja di sana, saya benar-benar merasakan bagaimana tidak ada sekat antara atasan dan bawahan. Berbeda sekali dengan di Indonesia yang pada umumnya gila hormat,” tandas dia.

Ithoh juga berharap mampu meneruskan pendidikannya hingga ke jenjang Master. Dia sangat tertarik dengan persoalan perempuan. Karya ilmiahnya berjudul ”Islam, Perempuan, dan Ketidakadilan Gender” menjadi bukti keprihatiannya atas sekian persoalan yang menimpa kaum perempuan.

(tulisan serupa pernah ditulis Alimah dalam majalah Blakasuta edisi 19)