tak ingin terburu…

_MG_4386

entah benar adanya, entah salah adanya. Aku hanya mencoba meraba tentang diri. tentang aku yang tak jua beranjak. Tapi mereka menyangkal pikirku, katanya sejatinya aku telah jungkir balik tak berkesudahan. Bahkan hingga detik kini. sepertihalnya yang lain, aku tidak terlalu yakin apa yang aku prediksikan beberapa detik kemudian. Begitu juga arus yang tanpa sadar menggiringku ke segala arah. kawan, ini sungguh rumit. Tapi aku yakin ini sesuatu yang pasti. Tapi aku tak ingin secara tegas meng-iya-kan. Tentu saja, banyak hal terjadi yang tak terduga sebelumnya. Dan semua itu nyata ku alami detik ini.

aku tak ingin terburu, kilahku. Karena benar adanya. Ah, aku jadi kembali terbawa pada petualangan Ikal dan Arai yang menyusuri Eropa dengan berbagai pengalaman yang mencengangkan, mencekam, membuat terbahak, sekaligus berurai air mata. (tentang ini, tentunya kau telah membacanya. Ya, sampai saat ini aku masih terngiang setiap kata dalam “Edensor”-nya Andrea Hirata.

Seperti yang terdekap kuat dalam jiwa mereka, aku pun sama, aku ingin mendaki puncak tantangan, menerjang batu granit kesulitan, menggoda mara bahaya, dan memecahkan misteri dengan sains. Aku ingin menghirup berupa-rupa pengalaman lalu terjun bebas menyelami labirin lika-liku hidup yang ujungnya tak dapat disangka. Aku mendamba kehidupan dengan kemungkinan-kemungkinan yang bereaksi satu sama lain seperti benturan molekul uranium: meletup tak terduga-duga, menyerap, mengikat, mengganda, berkembang, terurai, dan berpencar ke arah yang mengejutkan. Aku ingin ke tempat-tempat yang jauh, menjumpai beragam bahasa dan orang-orang asing. Aku ingin berkelana, menemukan arahku dengan membaca bintang gemintang. Aku ingin mengarungi padang dan gurun-gurun, ingin melepuh terbakar matahari, limbung dihantam angin, dan menciut dicengkeram dingin. Aku ingin kehidupan yang menggetarkan, penuh dengan penaklukan. Aku ingin hidup! Ingin merasakan sari pati hidup!.

It’s complicated!!. Lagi-lagi aku rasa dan lidah ini kelu. Kelu berlebih. Sungguh. Sungguh. Sungguh sulit untuk melontarkan dan meyusunnya. Aku harus memulai dari mana. Tentang misteri hidup yang sudah ke sekian kalinya membuatku terkejut dan tergagap. Dan aku tetap kelu. Aku memilih tak terburu menyimpulkannya. Memutuskannya. Menilainya. Biarkan segalanya terjang menerjang. Kusut. Tak teratur. Berantakan di segala arah. biarkan segalanya tak terduga. Agar aku mau belajar dari segala kegentingan setiap ke-ada-an.