berbaur dengan diri…

hasilakhiraku tak ingin sekadar. aku tak ingin stagnan. detik itu harus ada. detik di kala renung menjadi begitu berharga. dimana banyak hal terabaikan. tak peduli setitik ataupun melebihinya. tapi detik itu harus ada. detik aku disapa iba. iba pada diri. lalu berbaur. sudahlah, abaikan apa yang terlanjur. tak perlu berlebih menyindir, bahkan menyunggingkan diri. benar, diri ini sungguh berharga dibanding segala. maka berbaur dan memaafkan diri adalah bijak. agar tak selalu membuang rasa dan pikir untuk lalu. di luar sana, begitu banyak yang butuh dan mendesak untuk diselesaikan. dan aku berbaur, memafkan diri dari lalu yang sungguh terbuang tak berharga.