hari-hari menikmati kegagapan

tree_snowing_800

rasanya klise jika lagi-lagi terlintas, bahwa nasib begitu misteri. meski benar adanya. seperti hari-hari itu. dimana secara sadar duniaku terasa bergeser. ya, tepat setelah kau menawarkan hari-hari dimana kita akan memulai masa. tawaranmu memang bukan untuk mengikatku, laiknya yang selama ini terfikir oleh mereka. kau, mereka dan aku, tentu memiliki beragam alasan dari muasal yang juga beragam. kau tau, detik itu aku begitu merasa berharga dari sebelumnya. sampai aku tergagap oleh sesuatu yang kupikir sangat simpel. lalu, hari-hari setelah kau menawariku, aku tergagap bukan kepalang. ya, aku merasa sedang mengalami fase tergagap. hingga sulit berdamai dengan rutinitas yang biasanya akrab kusapa.

“kau harus tetap seperti biasa, menjadi apa adanya, tak perlu merubah apa yang telah ada,” bisikmu di seberang sana. spontan aku mengangguk dengan hatiku. aku memilihmu. tentu saja aku memilihmu. karena bagiku, aku telah menjelma aku. begitupun kau yang telah menjelma dirimu. ya, tepat seperti yang disajakkan dalam sajak-sajak kecil tentang cintanya Sapardi Djoko Damono. boleh kulantunkan? mencintai angin, harus menjadi siur. mencintai air, harus menjadi rincik. mencintai gunung, harus menjadi terjal. mencintai api, harus menjadi jilat. mencintai cakrawala, harus menebas jarak. mencintaimu, harus menjelma aku.. dan kini, aku kian tergagap. tapi aku tak pernah tak tersadar. seperti yang kau bisikkan di suatu waktu, “kaki kita masih berpijak di bumi,” begitu bisikmu. lalu aku mengerti. kita baru memulainya. aku siap dengan segala terjal. untuk ke sekian kalinya, terima kasih telah menawarkan duniamu kembali.