memburu jawab…

sendiri

jangan tanya sudah seberapa sering aku dipertanyakan. karena pertanyaan itu bukan hanya terlontar dari mulut mereka. tapi juga dari mata mereka. dari hati mereka. dari pikiran mereka. dari polah mereka. dari ketidaksadaran mereka. dari segala yang melekat dari mereka. aku pun sadar, bukan hanya aku yang pernah diburu beragam tanya. hingga aku pun bereaksi memburu jawab. tapi yang kuburu adalah jawaban dari sekian mulut, hati, pikir, sikap, dan setiap polah yang mempertanyakanku. mau tidak mau aku harus berhenti sejenak mengukur diri. menelaah diri. dan menganalisa diri kenapa raga ini menjadi pemicu utama atas sikap mempertanyakan mereka. aku lelah, memang. tapi itu bukan bagian dari jawaban. hingga kurasa, lelah itu muncul hanya sekejap mata dan satu tarikan nafasku. lalu sirna. dan aku kembali memburu jawab. sampai kini, aku pantang berhenti memburu jawab. dalam sesaat aku menangkap pemburuanku. dan aku kembali menemukan kerumitan-kerumitan. tapi itu membuatku kian ingin terus memburu dan memburu lagi.

beberapa tahun lalu, tepat ketika sedang semangat-semangatnya memburu jawab, aku mulai menangkap secuil dari jawaban itu. kawan, tangkapan sementaraku, bahwa salah satu dibalik semua sikap mereka adalah nilai. lalu akupun terdorong mencari tahu tentang filsafat nilai. juga, aku kian sadar, aku berada dalam lingkaran nilai-nilai. aku dan mereka adalah manusia. dan bagi manusia, nilai menjadi sesuatu yang penting dalam kehidupannya. hingga menjadi pegangan dan prinsip hidup seseorang. tak heran jika nilai terus mempengaruhi tindakan seseorang. Perbuatan manusia tersebut senantiasa mengarah pada kebahagiaan bagi dirinya. laiknya aku dan mereka yang terus memburu inginnya. manusia yang selalu ingin dianggap dan terlihat lebih dari satu dan lainnya. jadi?? jadi perlahan aku menangkap jawab itu. meski baru secuil. dan mereka? mereka terus menyapu ragaku, kemanapun kubawa. laiknya aku yang bisa jadi menyapu raga mereka. kawan, aku tak berharap kau merasa bingung berlebih. karena setiap diri kita memiliki kebingungannya sendiri. kesibukannya sendiri. keinginannya sendiri. maka aku menghargainya. seperti aku yang juga menghargai diri untuk terus memburu jawab atas segala sesuatu. tapi akupun ingin mengetahui lebih banyak lagi, selain nilai. namun aku tak ingin tergesa bergeser. karena tentang filsafat nilai, aku tetap harus mencari lebih dalam tentang nilai, fakta dan manusia. hingga beralih pada budaya dan sekian jawaban yang belum kutangkap. mohon maaf, tulisan ini bagian dari bawah sadarku yang kembali menuntut untuk dilontarkan. terimakasih sudah berkeras untuk membaca.🙂