tentang rendezvous

sunyi

Ada-mu sepekan lalu, seperti biasa. Seperti yang sering kuungkapkan, kita tetap sama. Seperti lalu-lalu yang lain. Kau ada, lalu tak ada. Seperti sejenak menghilang. Tapi, kita memang begitu. aku tak ingin mengaku-aku, bahwa hanya kita yang seperti itu. karena yang lain, pun banyak yang memilih untuk ada dan lalu tiada. Kita hanya bagian kecilnya saja. Jadi tak perlulah kita mengungkitnya. Toh, itu hanya persoalan raga. Karena jiwa kita tetap ada di satu ruang.

Kau ingat? tentu saja ingat. dan harusnya memang selalu ingat, meski tidak mencoba untuk mengingat-ingat. kita terbiasa terbang kesana kemari. Tapi tujuan kita jelas. Tak seperti yang mereka pikirkan. Kita juga mencoba terjaga, jika suatu saat ada kerikil yang siap menjebak kita saat terkantuk. Kita juga terbiasa menjadi diri yang apa adanya. Memang tak perlu diada-adakan. Karena jika begitu, maka kita tak pantas untuk itu. kita hanya punya “yakin”. Seperti yang selalu kau bisikkan dalam setiap sajak-sajakmu untuk kita.

Dan ketika mereka berfikir kita telah menyatu dan akan terus menyatu secara raga, maka mereka akan kecewa. Karena raga kita terbiasa tiada. Hanya jiwa kita. Seperti biasa, tanpa sadar, dalam setiap detik, kita merencanakan untuk pertemuan-pertemuan berikutnya. Seperti aku yang berkutat dengan sekian kehidupan lain. karena kita terbiasa berfikir, bergerak, menuliskannya, menyimpulkannya, menilainya, berfikir, bergerak, menuliskannya, menyimpulkannya, menilainya, dan begitu seterusnya. Kita akan tergagap, jika dan hanya jika dikejutkan oleh misteri.

Tapi kita terbiasa membiarkan segalanya terjadi tanpa prediksi. Seperti pertemuan-pertemuan kita yang lalu, dibiarkan begitu saja. Bahkan tak pernah terlintas akan ada kejutan atau tidak. Meski tanpa sadar, kita memang merencanakan sesuatu yang tak mampu mereka baca. Sekali lagi, kita hanya punya “yakin”. Tak peduli mereka meragukan atau tidak. Tapi keyakinan itu kian kuat. Seperti mimpi-mimpi kita. Aku selalu yakin, mimpi kita segera terwujud. Biarkan mereka ragu. dan kita? Kita cukup membangun kekuatan-kekuatan itu.

Advertisements