menyusur wajah-wajah kuyu di Jarak-Dolly (1)

Menyusur kawasan Putat Jaya, tiba-tiba debaran kencang menyerang jantungku. Padahal menurut salah seorang kawan, ini belum apa-apa, maksudnya tempat yang pertama kami susuri belumlah seberapa. “Ini baru di Jarak, masih ada gang Dolly dan sejumlah gang lainnya. Ini hanya bagian kecil dari tempat prostitusi di kawasan Putat Jaya,” ujarnya setengah berbisik.

Ya, reaksi itu yang pertama kali terasa. Padahal beberapa menit menjelang memasuki gang bising itu, aku masih tenang dan biasa saja. Tak ada getar di sana. hingar bingar musik menyambut langkahku dan sejumlah kawan. Posisiku, tanpa sadar beringsut merapat pada salah seorang kawan. Sementara jiwaku yang lain, menyindir tajam akan reaksiku sendiri. Akupun mulai menjadi tertuduh yang sok moralis. Namun itu hanya berlangsung beberapa menit, karena setelah itu aku mulai mengumpulkan kekuatanku agar kembali seperti semula.

Malam itu adalah hari kedua kunjungan lembaga kami (Fahmina-Institute) bersama forum kemitraan polisi dan masyarakat (FKPM) Cirebon, dalam rangka studi banding dengan community oriented policing (COP) Cirebon, Jogjakarta, dan Surabaya. Hari sebelumnya, tepatnya Jumat (17/7/09), kami telah berkunjung ke sejumlah FKPM binaan Pusat Studi HAM (Pusham) UII di Jogjakarta.

Usai berinteraksi dan berbagi pengalaman, kami pun meneruskan perjalanan ke Surabaya untuk berkunjung ke sejumlah FKPM binaan Pusham Unair Surabaya. Di sanalah, malam pertama kami habiskan berbagi pengalaman dengan aktifis COP dan FKPM di kawasan Putat Jaya. Sembari menyusuri Jarak dan Dolly. Dolly tepatnya terletak di kawasan kelurahan Putat Jaya, kecamatan Sawahan, kota Surabaya. Surabaya sendiri dikenal sebagai kota terbesar ke dua di Indonesia dan dikenal sebagai kota industri dan pelabuhan. Dolly sebenarnya merupakan bentangan jalan kurang lebih sepanjang 150 meter dengan lebar 5 meter dan beraspal bagus, hasil dari Proyek Perbaikan Kampung pada tahun 1977. Dolly dikenal sebagai daerah lampu merah “kelas menengah” . Tidak jauh dari Dolly (bersebelahan) ada jalan Jarak, yang dikenal sebagai lokasisasi pelacuran “kelas bawah-miskin”.

Dan perempuan-perempuan itu tak dimanusiakan lagi…

Menginjakkan kaki di kawasan Putat Jaya, sama sekali tak terfikirkan sebelumnya. Ya, aku menyebutnya Putat Jaya karena pada dasarnya warga sekitar tak lebih senang menyebutnya Dolly, tapi cukup Putat Jaya. Sebelumnya aku hanya mendengar kabar dari sejumlah kawan. Namun selama ini aku hanya mendengar kabar Dolly sebagai daerah pelacuran, bahkan menjadi “Ikon” kota Surabaya. Sedangkan Jarak, sama sekali baru saja kudengar beritanya. Dolly-lah nama yang lebih terkenal itu.

Di Jarak, sepanjang gang tak pernah sepi dari suara musik. Terutama disko-dangdut yang terus menggema keras antar wisma, tepatnya rumah biasa yang disetting sebagai tempat singgah untuk hiburan. Menurut Nurcahyo, Ketua COP Putat Jaya, biasanya musik mulai berdentum dari pukul 09.00 pagi hingga jam 02.00 atau 03.00 dini hari. Malam itu, kami memulai kunjungan sekitar pukul 19.00 hingga sekitar 22.45, suasana bordil sudah mulai hidup. Begitupun warung-warung kecil dan pedagang kaki lima yang kian meramaikan suasana. Masuk ke dalam gang, kami pun semakin merasa berada di tengah-tengah pasar malam.

Geliat sejumlah lelaki sudah mulai terlihat, mulai dari sekadar nongkrong sambil ditemani perempuan pekerja seks komersial (PSK) di dalam wisma, hingga berjoged ria dengan iringan musik dangdut, ditemani perempuan, botol minuman, serta kepulan asap rokok. Sementara bagi para PSK yang masih sepi konsumen, lebih terlihat duduk-duduk di depan bordil, sambil berbincang dengan teman-temannya. Suasana di Jarak memang tidak seramai gang Dolly. Usia mereka nampak antara 20-an, 30-an dan 40-an. Sesekali terlihat anak-anak kecil dan pedangang yang lewat. Di antara bordil ini ada juga yang rumah biasa, rumah yang dihuni oleh rumah tangga. Deretan bordil itu nampak suram dan gelap. Gang yang membelah kanan kiri deretan bordil itu sempit, hanya muat untuk 3 orang berderet.

Di daerah Jarak memang banyak sekali rumah-rumah penduduk yang disewakan untuk dijadikan rumah bordil. Di antara mereka yang tadinya hanya menyewakan lama-lama ada yang “naik pangkat” menjadi germo juga. Atau orang lain menyewa rumahnya untuk dijadikan rumah bordil. Karena marak rumah-rumah bisa disewakan, seorang germo biasa menyewa 2 -3 rumah untuk dijadikan bordil.

Masih menurut pak Nur, demikian aku menyapanya, banyak pihak terkait dengan keberadaan lokalisasi pelacuran tersebut. Tidak jauh dari lokalisasi ada masjid, rumah yatim piatu, rumah penduduk, toko-toko, warung nasi, tempat cuci, tempat parkir dan segala kegiatan yang menandai sebuah kehidupan urban pinggiran. Menurut pak Nur, ia tinggal di daerah Jarak sejak kecil. Kepada kami, ia juga tak segan menceritakan pengalaman tragis masa kecilnya.

Di Jarak, perempuan memang tidak dipajang sepertihalnya di gang Dolly. Dimana perempuan-perempuan itu duduk-duduk di dalam satu ruangan seperti boneka yang dipajang di etalase. Perempuan-perempuan di Jarak nampak lebih “bebas”, bisa duduk dan berkaraoke menemani tamu-tamunya untuk kemudian dibooking ke kamar atau hanya sekedar menemani saja.

Seperti pengalaman Faiza Mardzoeki dalam risetnya, ia benar, perempuan-perempuan itu sudah tidak dimanusiakan lagi. Perempuan-perempuan itu sudah diubah esensinya sebagai manusia menjadi barang peliharaan, dikurung sebagai barang milik para germo dan dijual sebagai barang dagangan kepada para lelaki dan dianggap sampah oleh masyarakat. Bukankah demikian yang terjadi? Siapakah sesungguhnya yang pelacur? Merekalah para germo, calo, laki-laki pembeli tubuh perempuan dan agen-agen lain yang menindas, merampas kemerdekaanya dan memanfaatkan tubuh perempuan-perempuan itu. (tunggulah ceritaku selanjutnya…)