menyusur wajah-wajah kuyu di Jarak-Dolly (2)

b-171011

“Anggota TNI Dilarang Masuk”

Kalimat larangan itu tertulis di depan pintu setiap wisma. Merata. Seakan wajib untuk dipasang. Tentu saja, aku yang baru pertama kali menginjakkan kaki di kawasan merah itu, tergelitik untuk menelisik lebih jauh. Namun rupanya pa Nur sudah menangkap kebingunganku.

Rupanya, hal itu dilakukan sebagai peringatan kepada anggota ABRI yang notabene tidak bertanggungjawab jika usai menerima pelayanan dari PSK. Selain tak ingin membayar upah kepada PSK yang sudah melayaninya, mereka (anggota ABRI) juga tak segan-segan melakukan kekerasan fisik, terutama pada saat mabuk berat.

Sementara itu, hingar-bingar musik disko-dangdut kian menggema. Dilengkapi dengan bar yang penuh minuman, para perempuan dan lelaki tak lagi rikuh bermesraan di sofa dengan warna menyolok membentuk setengah lingkaran.

Para perempuan itu memang diharuskan dandan penuh dengan berbedak tebal dan berlipstik menyala di bibirnya. Di sepanjang Jarak, aku tak hanya menyusuri gang sempit, tapi juga wajah-wajah perempuan yang resah. Di Jarak memang merata seperti di Dolly. Di Jarak, kita bisa menemui perempuan dengan usia mulai dari anak-anak sekitar 8 tahunan hingga 30 tahun keatas. Anak-anak itu, menurut pak Nur, hanya bermain biasa. Mereka terdiri dari anak-anak mucikari (pemilik wisma), juga tak sedikit adalah anak-anak PSK sendiri. Mereka berbaur. Dalam setiap geliat manusia dewasa yang ada di Jarak.

Di Jarak, masing-masing wisma memang tidak menyediakan karyawan seperti yang ada di Dolly untuk menggaet konsumen dan menawarkan perempuan yang ada di dalam ruangan. Karyawan tersebut terdiri dari kaum lelaki berseragam batik. Ya, sebagian besar mereka berpakaian batik, terlihat sopan dan rapih. Tugas para lelaki itu adalah menggaet konsumen lelaki dan menawarkan kepada mereka para perempuan yang sudah terpajang.

Aku menangkap jiwa yang lelah…

Tapi aku menangkap jiwa yang lelah dari para perempuan itu. Kaki-kaki mereka duduk seragam, menyilang. Mereka duduk berderet di sofa di balik kaca dengan lampu terang sehingga memungkinkan mereka terlihat jelas dan gampang dipilah-pilah. Mereka setia menghadap para pengunjung yang duduk-duduk di depannnya. Para pengunjung laki-laki konsentrasi memperhatikan deretan perempuan dari keremangan kursi. Mereka terlihat sedang sibuk memilih mana yang bakal dibeli.

Para perempuan yang dipajang itu mengenakan pakaian terbuka sejenis tanktop, rok mini dan sepatu ber hak tinggi. Kebanyakan berambut panjang, lurus, dan indah. Mereka duduk dengan kaki-kaki disilangkan, setia berdiam diri, sambil sesekali memainkan HPnya (seperti ber SMS-an) menunggu “dibeli”. Tidak seperti di Jarak, para perempuan itu sudah dihargai. Mulai dari Rp 75.000/jam hingga Rp 300.000/jam ke atas. Di kawasan Dolly, menurut pa Nur, para perempuan itu memang diseleksi terlebih dahulu. Di Dolly, usia para perempuan itu hampir semuanya dibawah 30 tahun. Jika sudah berusia di atas 30 tahun, mereka biasanya dialihkan ke Jarak. Perempuan di Dolly juga cantik-cantik dan berkelas.

Aku juga sempat menengok sejenak ke satu wisma di kawasan Dolly yang khusus merekrut perempuan Indramayu, Cirebon, Kuningan dan Majalengka. Aku cukup lama tertegun menatap mereka yang memang terlihat resah menanti konsumen. Memang, seperti perempuan di kawasan Dolly lainnya, mereka berdandan seragam. Mereka dihargai (dibandrol), dinistakan dan diperas sampai ke keringat keringnya.
( mohon maaf, masih ada kelanjutannya)