menyusur wajah-wajah kuyu di Jarak-Dolly(3)

Sepertihalnya mereka, aku pun menyapanya Mia. Mia adalah salah satu perempuan penghuni Dolly. wajah sumringahnya membuatku merasa tak enak, ketika pak Nur dengan semangat mempersilahkanku untuk mengobrol-ngobrol dengan Mia. “kebetulan dia masih sepi konsumen,” ujar pak Nur meyakinkanku. maka dengan pengertian, aku segera mengambil waktunya dengan cepat. lalu kami mengobrol. aku dan Mia. dia tak hentinya menyunggingkan senyumnya. tak ada raut khawatir di sana. dia sangat terbuka. rambutnya nyaris sampai ke pundak. make up-nya, sama seperti yang lain. begitupun bajunya. aku sempat mencium harum minyak wanginya. namun aku tidak pandai menebak apa merk-nya.

“saya di sini baru sembilan bulan, dan saya enjoy di sini,” ujar Mia membalas rasa ingin tahuku. “tapi ini (menjadi PSK) demi anak, karena setelah cerai dengan suami, saya tidak ada penghasilan untuk membiayai anak-anak. mantan suami juga gak tau kemana,” aku Mia dengan tetap tersenyum. Hari sebelumnya, Mia baru saja mengikuti pengajian (ceramah agama) yang rutin digelar oleh pengurus kelurahan setempat. Mia mengaku betah, karena di Dolly dia lebih diterima dan mampu mengirimkan penghasilannya buat anak dan orang tuanya di Jawa Tengah.

“Maaf mba, takut ada tamu, jadi udah dulu ya. maaf loh, mba…,” tukas Mia gelisah, namun tetap terlihat ramah. lalu dengan berterima kasih, aku menjabat tangannya dan setengah berpelukan, akupun dengan ramah mempersilahkannya masuk ke ruangannya kembali.

menyusur sepanjang Jarak-Dolly, menemui mata sayu dan jiwa yang gelisah. di sana tak sekadar berurusan dengan nafsu syahwat. ya, gang Dolly, gang yang sudah ada sejak zaman Belanda dan dikelola oleh seorang perempuan keturunan Belanda yang dikenal dengan nama Tante Dolly. Keturunan dari Tante Dolly tersebut sampai sekarang masih ada di Surabaya, meskipun sudah tidak mengelola bisnis prostitusi tersebut.

masih menurut hasil riset Faidza Marzoeki, sekarang ini atas kesadaran sendiri, sebagian perempuan yang bekerja sebagai pelacur penyebut diri sebagai “Pedila”, singkatan dari Perempuan yang dilacurkan. Istilah ini mengadung kesadaran bahwa ada agen-agen lain yang menyebabkan dirinya bekerja sebagai pelacur, bahkan dipaksa atau terpaksa menjadi pelacur. karena aku merasakan langsung atmosfir di sana, samahalnya Faidza, aku menggunakan sebutan perempuan yang dilacurkan, karena memang bahwa ada pihak lain, agen lain yang menyebabkan ada perempuan bekerja sebagai pelacur.

dan aku sangat sepakat, bahwa perempuan sebagai manusia juga berhak dan ingin menjadi manusia. Bebas, merdeka dan bermartabat, setara dengan manusia lain, baik laki maupun perempuan.

Mengapa perempuan bersedia dilacurkan?

Masih berdasarkan banyak riset, mengatakan bahwa faktor kemiskinan menjadi pendorong utama para perempuan itu terseret dalam arus perdagangan sex. Faktor lain adalah budaya patriarki yang masih bersemayam dalam sistem masyarakat kita. Sehingga, dalam situasi kepepet itu, perempuan adalah “properti” yang paling mudah untuk dijinakan. Banyak kisah seorang Ayah menjual anak-anak gadisnya kepada para calo untuk dijual ke germo-germo di Dolly.

Menurut salah satu responden Faidza, perempuan itu diambil oleh para calo ke desa-desa, dengan membayar kepada orang tuanya sekitar Rp 2.000.000 s/d 5.000.000 per orang kepada orang tuanya. Calonya sendiri akan mendapatkan Rp 1.000.000 s/d 2.000.000 per orang. Uang tersebut (uang untuk si orang tua dan si calo) berasal dari calon germo si perempuan. Ketika perempuan itu sudah sampai di lokalisasi pelacuran dan siap bekerja, jumlah uang untuk orang tua dan calo langsung dibebankan kepada si perempuan. Beban itu disebut: Hutang. Selain hutang untuk orang tua dan calo, perempuan itu juga akan dikenakan uang makan, uang penginapan dan kebutuhan lain, yang dipinjami terlebih dahulu oleh sang germo. Jadi, perempuan itu sudah menanggung hutang jutaan sebelum ia bekerja. Pada detik ketika ia dipanggil oleh ayahnya untuk menemui calo, perempuan itu telah dirampas kebebasan dan harga dirinya. Ia harus menanggung beban kemiskinan dan kekuasaan ayah.