Ironi menyambut ‘bulan suci’

bulan

malam itu, seperti beberapa pekan sebelumnya, aku masih menikmati lelahku. pulang malam hari. dengan macet di jalan raya yang sangat panjang. malam itu, aku sama sekali tak merasakan bisingnya jalan raya. karena ada mp3 yang siap menghanyut-lenakanku. lewat kaca jendela bus, aku diajak bernostalgi setiap jejak di pinggir jalan. Dan malam itu memang ada yang berbeda. aku sadar, malam itu adalah beberapa malam sebelum bulan suci tiba. di beberapa desa yang balaidesa dan masjidnya di pinggir jalan raya, aku menyaksikan beragam acara yang digelar khusus menyambut bulan suci. di satu desa, dengan khidmat sebuah acara pengajian (siraman rohani) dan do’a bersama digelar. di desa yang lainnya, sebuah panggung hiburan berdiri mentereng dan diserbu puluhan pemuda-pemudi. sesampainya di desaku, aku disambut suara melengking dari arah masjid desa yang terletak di pinggir jalan raya dan berdampingan tepat dengan kantor kepala desa. diskusi yang digelar di serambi masjid jami’, itu sengaja menggunakan soundsystem, agar seluruh warga di rumah-rumah mendengarnya.

oh, rupaya suara itu adalah suara sejumlah warga yag terdiri dari tokoh agama, tokoh masyarakat, dan warga biasa. mereka tengah mendiskusikan finishing pembangunan kamar mandi dan tempat wudlu masjid jami’. setibanya di rumah, aku malas beranjak ke kamar mandi. meski sebenarnya dikarenakan ketertarikanku mendengarkan lebih lama lagi proses diskusi tersebut. tapi sepertinya hanya bapak-bapak saja yang ada dalam diskusi tersebut. ya, aku yakin. karena aku sempat menengok sejenak ketika melewati depan masjid. hal itu juga terdengar dari suara perempuan yang tak sejenak pun terdengar. dari karakter suaranya, semuanya suara lelaki berumur di atas 25 tahun. entah dimana para pemudanya. belum lama tanyaku terjawab, aku terhenyak oleh suara sepupuku yang bercerita hebat tentang acara-acara yang digelar oleh desa kami malam itu. dari situ aku mulai faham, ternyata para pemudanya telah menggelar acara tersendiri yang dilaksanakan malam itu juga.

kembali lagi ke diskusi warga tadi. akhir dari diskusi yang kudengar langsung, ternyata selain membicarakan anggaran secara blak-blakan, juga membicarakan agenda yang akan digelar di bulan suci ramadhan. mereka juga secara detail membahas apa yang perlu dipersiapkan agar jama’ah tarawih merasa nyaman dan tentram. mulai dari, persoalan parkir yang aman, koordinator yang bertanggungjawab mengontrol anak-anak pada saat kuliah subuh dan pengajian di siang hari, hingga menggelar istighosah di malam Lailatur Qodar. setelahnya, spontan hatiku tergetar akan kepedulian mereka. sementara di sisi lain, aku ngungun dengan pemuda-pemudi yang menggelar acara musik dangdut dan joget-jogetan untuk menyambut bulan suci ramadhan. bahkan, suara musiknya jelas bertabrakan dengan suara diskusi warga di masjid. mungkin karena jaraknya yang memang tak jauh. di sini, aku tak ingin mengatakan mana yang baik dan mana yang buruk. mana yang hitam mana yang putih. aku hanya ingin mengungkapkan, betapa “ironi-nya” geliat pemuda-pemudi itu.

Untuk saudara-saudaraku tercinta, khususnya di dunia blog, secara pribadi saya mohon maaf atas segala khilaf. dan untuk yang menjalankan Ibadah Puasa, selamat datang kembali di bulan suci.