dia hanya ingin dimanusiakan

dia hanya berusaha memperjuangkan hak-haknya. Namun agennya malah menuduhnya manja dan membungkamnya dengan ancaman harus membayar 200 USD, jika pulang tidak sesuai kontrak. Lalu dia memohon dipindahkan pada majikannya, agennya malah mendorongnya semakin tersiksa. Kulit tangannya yang merah, perih, dan terkelupas karena kepanasan akibat tidak adanya perlindungan dari cuaca panas, semakin diabaikan oleh majikannya. Keringatnya semakin diperas tanpa diberi kesempatan beristirahat dengan nyaman. Akhirnya dia berusaha kabur ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) yang ada di Sudan, namun hal itu malah menghantarkannya menjadi pengangguran selama enam bulan, yang berarti dia tidak menerima gaji. Di KBRI, dia berkumpul dengan sejumlah TKI sekaligus anak-anaknya. Karena sebagian besar, mereka membawa anak dan melahirkan anak di KBRI, tanpa status yang jelas.

145909pSeperti calon Tenaga Kerja Indonesia (TKI) pada umumnya, Yani (30Th), bukan nama sebenarnya, mendaftarkan diri di sebuah perusahaan terbatas (PT), tepatnya sebelum Idhul Adha 2006. Namun dengan tegas, dia mengaku tidak mengetahui nama PT tersebut.

“Yang saya tahu, saat itu seseorang telah mengurus semua keperluan pemberangkatan saya. Orang itu juga mengaku bahwa PT-nya legal. Jadi saya tidak merasa curiga,” tutur Yani ketika kutemui dengan seorang kawan. Menjelang keberangkatannya pada 15 Februari 2007, kejanggalan-kejanggalan mulai dirasakannya. Bermula ketika dia mengungkapkan keinginannya menjadi TKI di negara Jordania.

Sayangnya, ketika mengurus passport, jawaban agennya malah membingungkannya. “Yang penting kamu berangkat ke Timur Tengah!,” tukas Yani menirukan ucapan agen yang mengurus keberangkatannya menjadi TKI. “Tapi saya merasa dibodohi, karena ternyata saya diberangkatkan ke Sudan. Sedangkan Sudan itu tidak termasuk Timur Tengah, tapi Afrika,” lanjutnya.

Selain persoalan negara tujuan, Yani juga disuruh mengurus passport di Tanjung Priok, bukan di Tanggerang. “Padahal, kalau legal seharusnya mengurus passport-nya di Tanggerang. Tapi saya masih tidak mengerti kalau itu legal atau ilegal,” ungkapnya. Belum lagi, dia diminta berbohong, jika ada petugas yang menanyakan negara tujuannya. “Saya disuruh menjawab ke negara Malaysia, jika ada petugas menanyakan negara tujuan saya. Padahal yang saya tahu, akan diberangkatkan ke Jordania. Saat itu, saya masih belum tahu kalau akan diberangkatkan ke Sudan,” kata Yani.

Namun karena batal terbang hari itu, dia ditampung di sebuah asrama di Cipinang yang sangat tertutup. Bahkan untuk dudukduduk santai di depan asrama, pun dilarang. Esoknya, ketika berangkat dan akan menaiki pesawat, dia mengaku disuruh melewati pintu belakang secara diam-diam. “Tidak seperti penumpang lainnya, saya malah disuruh diam-diam masuk pesawat dan duduk di sebuah kursi. Pokoknya tidak wajar, bahkan passport saya juga tidak dikasih ke saya,” ungkapnya. Sesampainya di Sudan, Yani mengaku sangat kecewa karena bukan Jordania yang seperti dijanjikan. Namun dia tidak bisa berbuat apapun karena sudah terlanjur sampai di Sudan. Ketika sudah mulai bekerja, perlakuan majikannya terhadap seorang pekerja rumah tangga (PRT) sangatlah jauh berbeda dengan di negara lain yang pernah diketahuinya.Dia mengaku bisa membandingkan Sudan dengan negara lain, karena sebelumnya dia pernah dua kali berangkat menjadi TKI di Saudi Arabiyyah dan Jordania.

Kabur ke KBRI, setelah Agen Lepas Tangan

Di Sudan, dia diperlakukan tidak selayaknya manusia. Ketika sudah selesai bekerja, dia tidak diberi kesempatan untuk beristirahat dengan nyaman. Bahkan selama bekerja enam bulan di Sudan, tempatnya bukan di dalam, tapi di luar rumah. “Sedangkan cuaca Sudan, itu sungguh sangat panas dibanding negara lain yang pernah saya tahu. Satu tahun itu panas dan tidak ada hujan, hingga kulit tangan saya merah-merah, panas, mengelupas dan perih karena terbakar,” paparnya. Belum lagi, lanjutnya, ketakutannya terjangkit penyakit mematikan karena setiap hari menjadi santapan nyamuk malaria. Namun lagilagi dia tidak mendapatkan perlindungan berupa fasilitas berupa pendingin ruangan atau AC. Karena tidak tahan, Yani pun akhirnya mengungkapkan ketidaknyamanan dan keinginannya agar diberikan fasilitas AC. Namun yang terjadi, majikannya malah tidak menghiraukan serta dengan enteng menyalahkannya. “Majikan saya malah bilang, kalau luka di tangan saya itu hanya akibat hukum alam biasa, sewaktu meminta AC juga malah dibilang lemah dan manja. Padahal, tangan saya sampai terluka seperti itu karena memang benar-benar panas dan tidak diberi fasilitas yang melindungi saya sebagai pekerja,” akunya.

Setelah tidak mempan mengadukan kondisinya kepada majikan, akhirnya dia menghubungi agen dan mengungkapkan keinginannya untuk pindah atau dipulangkan. Namun agennya malah menyuruhnya menandatangani perjanjian agar bekerja dua tahun penuh. Jika tidak, Yani diharuskan membayar uang senilai 200 dolar.

Sementara itu menurut Kabid Pelatihan dan Produktivitas Tenaga Kerja Dinsosnaker Kabupaten Indramayu, Drs. Iwan Hermawan, M.Pd, mengaku baru mengetahui masalah yang menimpa Yani ketika mendapat informasi dari Alifatul Arifiati, Program Officer (PO) antitrafiking, LSM Fahmina-Institute Cirebon.

“Karena kalau dari awal pemberangkatannya sudah ilegal, kami tidak tahu jika tidak ada yang melaporkan. Kami akan mencoba membantu, jika data TKI sudah ada. Cukup dengan nama TKI, tahun berapa berangkatnya, di negara mana, dan yang penting adalah nama agen atau PT yang memberangkatkannya. Jadi, silahkan laporkan kepada kami, di sana ada laporan penanganan kasus. Karena kalau tidak dilaporkan, maka kami tidak tahu,” jelas dia.

Dia juga menyayangkan, sampai saat ini semakin banyak masyarakat yang berangkat menjadi TKI secara ilegal alias tidak ada laporan. Sehingga, jika terjadi masalah pada TKI, pihak Dinsosnakertrans tidak mengetahui. “Padahal, jika mereka legal dan terlaporkan, yang akan diurus bukan hanya persoalan gaji yang tidak dibayarkan, tetapi juga persoalan asuransinya. Persoalannya kalau ada kasus, baru para TKI
itu bilang. Tapi itulah tugas kami, untuk mensosialisasikan kepada masyarakat,” ungkap sosok yang biasa disapa Iwan.

* ditulis oleh Alimah dan pernah diangkat di majalah “Blakasuta” edisi Juli 2009
* sumber gambar: http://www.kompas.com/read/xml/2009/02/13/2140413/tkw.ilegal.jabar.rentan.trafficking