rumit

pikiran-pikiran itu tak bisa terus-menerus bergelantungan tak menentu. beberapa pekan ini tepatnya. tepatnya, puncaknya. persoalan kapan munculnya, sudah lama sekali dan terkadang tiba-tiba. lagi-lagi persoalan relasi antara lelaki dan perempuan. tapi inti dari yang dipersoalkan, pun sejatinya sudah terlalu biasa. aku dan suamiku terlalu sering mendiskusikan persoalan ini. kali ini aku kembali mengajaknya bersuara. “kenapa pasangan yang pernah saling mencintai setengah mati, tiba-tiba menjadi sangat menjauhi masing-masing? mereka saling membenci, menghujat, membeberkan keburukan masing-masing. lalu, dengan entengnya mengatakan bahwa itu kehendak Tuhan, atau yang paling populer “karena kita sudah tidak berjodoh lagi, karena takdir, dan lain sebagainya”. sungguh kasihan Tuhan yang menentukan takdir seseorang, kasihan karena selalu menjadi tertuduh kecerobohan manusia dalam mengistilahkan sesuatu.” kurang lebih, demikian tanyaku kepada suamiku. dalam beberapa hal, aku memang lebih suka mendiskusikan tentang apapun kepada suamiku sekaligus partnerku.

aku dan suamiku, kami saling memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. di celah-celah itulah, kami selalu memilih sharing (berbagi) tentang banyak hal. salah satunya itu tadi, tentang fenomena perceraian, pertengkaran yang dialami sejumlah publik figur. aku memang selalu tergelitik untuk membahas persoalan sesederhana apapun. karena dari situ, aku akan mendapatkan kepastian dan kepuasan. dan lagi-lagi, aku terbiasa membaginya dengan suamiku.

ya, aku terlalu sering mengamati persoalan rumah tangga publik figur maupun sejumlah teman-temanku. sekadar mengamati memang. tapi kali ini aku ingin berbagi. pikiranku gatal jika persoalan itu terus bergelayut di pikiranku. boleh aku sebutkan sejumlah contohnya? tentu saja boleh kawan, karena ini hanya berniat untuk pembelajaran. seperti Maya dan Ahmad Dani, Krisdayanti dan Anang, Ferry Irawan dan Isteri pertamanya (lupa namanya), Akhil Hayy dan Maizawati. yang terakhir itu, Akhil Hayy, adalah salah satu publik figur asal Jiran yang kini telah menikah untuk kedua kalinya dengan penyanyi perempuan asal Jiran juga, yaitu Waheedah.

Hemmmm….bayangkan, sempat-sempatnya aku mengamati kisruh rumah tangga artis sekaligus da’i muda negara seberang itu. sejatinya aku tidak sempat menonton gosip selebritis di televisi setiap harinya, kecuali jika gosip itu sangat populer hingga berminggu-minggu, karena biasanya aku dapat dari info di web, blog, milis, dan tabloid. tapi gosip yang satu ini, maksudku masih tentang akhil hayy, aku tergoda mengetahuinya ketika beberapa bulan lalu ada seorang bloger mengomentari isi blogku. lalu, seorang kawan tersebut mengajakku untuk register di web-nya. akupun penasaran, usai register, setiap hari aku selalu mendapatkan gosip-gosip selebritis Malaysia. salah satunya tentang akhil hayy yang saat itu masih digosipkan semakin dekat dengan penyanyi jelita, berjilbab, busana sopan dan rapi, dan bersuara merdu, yaitu waheedah.

awalnya biasa saja, tetapi beberapa pekan ini, aku tak lagi biasa. dengan sendirinya, aku kian emosional menyikapi fenomena itu. tepatnya beberapa minggu lalu, akhill hayy pun menceraikan isterinya yang bernama maizawati. bersama maizawati, akhil hayy sudah memiliki enam anak. selang beberapa minggu bercerai dengan isterinya, akhil hayy pun melenggang ke perempuan yang lama diidam-idamkannya, yaitu waheedah. ya, mereka pun akhirnya menikah. dan dari beberapa persoalan kisruh rumah tangga publik figur tersebut, hampir semuanya beralasan “karena sudah tidak berjodoh lagi,” atau “karena takdir kita sudah tidak seharusnya bersama lagi,” atau “mungkin ini yang tebaik bagi kita dari Tuhan,”. Hallllooooooooooooooooo!!! kenapa selalu karena Tuhan, takdir, nasib?? sungguh picik. terkadang di hati, aku hanya bisa tertawa, bisa-bisanya mereka salah menyebutkan alasan. takdir dan nasib bisa terjadi, karena campur tangan manusia. so, kenapa bukan mereka sendiri yang disalahkan? kesalahannya adalah pada pola pikir mereka, dan karena nafsu mereka sendiri. nafsu ingin memiliki sesuatu yang lebih dari yang lain, nafsu ingin dianggap baik, nafsu ingin “paling”, nafsu ingin dianggap bijak, dan nafsu akan segala-galanya.

manusia memang sempurna karena ketidaksempurnaannya. oleh karena itu manusia diberi nafsu. tetapi sejatinya nafsu, pun bisa dimenej. ada nurani di sana. ada moral di sana. bayangkan, isteri cantik dan solehah, anak enam, profesi sebagai pendakwah. apa yang kurang? yang kurang ada berfikir lagi dan lagi. sangat disayangkan, tapi itulah sikap manusia. ironi, picik, “lucu”, aneh, dan sebagainya. sayangnya, sebagian besar dari mereka adalah mereka yang mengaku dan dianggap berpendidikan, publik figur, dan mengerti agama tetapi menyalahgunakan tafsir agama sebagai kedok dan corong.

akhil hayy hanya salah satu saja. di Indonesia dan disudut belahan bumi lainnya, tidak kalah ironi-nya. hingga lagi-lagi, korban dari buah pola pikir mereka yang kurang bijak itu adalah mereka yang dianggap kaum rentan. anak-anak dan perempuan. lelaki memang tak jarang menjadi korban, tetapi sebagian besar dari mereka adalah subyek, penikmat. benar memang, akar dari semua itu adalah budaya patriarkat. ada relasi timpang di sana. tetapi sebagian besar, lelaki adalah penikmat dari budaya tersebut. setidaknya tanpa lelaki itu sadari. mereka penikmat, karena secara umum, budaya itu lebih banyak menguntungkan lelaki. dan lelaki sebagian besar menerimanya. alhasil, perempuanlah sebagai objeknya. kita memang tidak tahu persis persoalan yang sebenarnya seperti apa dari persoalan para artis itu ataupun teman-teman kita yang mengalami nasib serupa. tetapi setidaknya kita tahu akarnya secara umum.