membiarkan takut

Kau mengerti apa makna dari rasa “takut”? Atau setidaknya pernah merasakannya? Oke, tentang ini aku sulit bagaimana harus memulainya. Aku hanya bisa mengatakan, aku akan mengatakan atau setidaknya mengidentifikasi diri ketika aku berada di tengah-tengah rasa takut. Dimana rasa takut mulai menjalar ke rasa, hingga memberikan dampak yang fatal. Bahkan bisa menghunjam ke jantung, hingga bekasnya sangat sulit hilang. Aku takut seseorang kecewa atas efek dari kata-kataku. Rasa kecewa yang dirasakannya, ternyata juga menimbulkan rasa kecewaku yang disebabkan oleh rasa kecewanya. aku kecewa, karena dia kecewa atas kata-kataku. Juga karena aku tidak berharap dia kecewa atas kata-kataku, yang memang tidak untuk tujuan ataupun berniat dengan sengaja mengecewakannya. Dan biasanya, akan semakin perih lagi ketika semua itu berhenti di tengah jalan. Tidak jelas, apakah aku dan dia sudah merasa tenang dari rasa kecewa yang memang belum tuntas menjawab mengapa dan bagaimana seharusnya. Karena itu tadi, rasa itu dibiarkan atau terkadang dipaksa untuk menjadi baik-baik saja. Bahwa tak ada kecewa di sana. Segalanya baik-baik saja. Bisa saya analogikan begini, ketika kita sedang mendownload sebuah data dalam bentuk PDF atau Youtube misalnya, belum sampai terdownload sampai tuntas alias 100% namun tiba-tiba kita aborted atau kita stop di 60%. Apa yang terjadi? Tentu saja data belum sempurna terdownload, sehingga kemungkinan data atau program tidak bisa dibuka atau mungkin hanya setengah dari yang seharusnya.

Ya, aku ingin mengalir dalam menerjemahkan apa itu “takut”. Jadi jika tidak sesuai dengan teori psikologi, anggap saja aku memang malas untuk membuka referensi, atau bisa jadi aku memang ingin jujur tentang analisaku pada istilah “takut”. Kembali ke rasa takut yang bisa kapan saja dan di mana saja menderaku. Kenapa tiba-tiba aku ngoceh tentang rasa yang satu ini? Karena beberapa menit lalu aku baru saja didatangi rasa itu. Lagi-lagi dia, si “takut” itu, menderaku, menusuk jantungku, dalam sekali, hingga detak jantungku membutuhkan waktu lama untuk kembali normal. Tentu saja rasa itu tidak datang dengan sendirinya. Ada sebab di sana. Karena sudah jelas, rasa itu sendiri adalah akibat. Lalu siapa yang merangsang rasa takut itu keluar mendatangiku? Tentu saja jiwa lain yang baik sadar maupun tanpa sadar menstimulus rasa itu keluar. Dan aku rasa aku benar tentang ini. Karena hanya aku yang merasakannya. Aku takut, kecewa, perih, sungguh sangat perih. Tapi aku tak ingin menghilangkan rasa itu secara praktis dengan menganggap segalanya baik-baik saja. Aku ingin melepas rasa itu, biarlah bergerilya hingga ke jantungku, paru-paruku, lambungku, dan entah kemana lagi. aku tetap berfikir dan mengambil hikmah dari rasa itu. Seberapa seringpun aku merasakannya, takkan kubiarkan ataupun kupaksakan memutus rasa takut itu. Bahkan jika dengan menangis bisa mengurangi rasa takut, akan kubiarkan tangisku keluar, karena aku bukan robot.