karena aku…

Mungkin benar. Mungkin juga tidak. Ruang kepala ini selalu dipenuhi dengan kemungkinan-kemungkinan. Kemarin begitu antusias. Kini tidak seantusias kemarin. Tapi selalu menolak dikatakan pesimis. Karena keinginan makin hari semakin besar. Selalu muncul keinginan-keinginan yang baru. Di suatu saat aku kembali dipertanyakan. Tapi enggan menjawab. Tepatnya lelah menjawab. Dan memilih menikmati ingin-inginku hanya dengan yakinku. Dan membiarkan isi kepalaku bergerilya tak terbatas ruang dan waktu.

Isi kepala tak henti-hentinya menerjang ruang kepalaku. Sungguh. Sungguh terus berkecamuk. Tentang kehidupan yang tak henti-hentinya dipenuhi ingin-ingin manusia lain. Hingga pada akhirnya sampai pada titik jenuh keinginan. Ini hanya persoalan mengarahkan inginku. Hingga menemukan hakikat dari isi kepalaku. Kawan, aku yakin kau mengerti apa artinya berkecamuk. Berkecamuk mencoba menemukan sesuatu dari sesuatu. Itulah yang tak henti-hentinya muncul. Kau tentunya merasakan, tentang tubuh yang hanya bergerak di satu tempat. Sedang pikiran entah menjelajah kemana. Hingga pada akhirnya, memutuskan untuk tidak harus menggerakkan tubuh dan pikiran seperti sewajarnya.

Aku tergagap, ketika menemukan diri sebagai sosok yang tak pernah menikmati stagnasi. Bahkan tipu muslihat dan pembelaan-pembelaan, pun tak mampu menahannya. Jiwaku menuntutku tuk terus bergerak dan liarkan kemana arah tujuannya. Sementara di sudut jiwa yang lain, menuntutku untuk bertahan dengan stagnasi. Benarkah stagnasi bisa dimaknai sebaliknya? Stagnasi atau sebaliknya, hanya sebagai sesuatu yang kita ciptakan sendiri. Tidak heran jika kita pun mampu membunuh stagnasi bagai membunuh seekor semut. Atau bahkah mahluk yang lebih kecil dari semut. Kita mampu. Kita mampu, kawan. Kita memiliki kekuasaan penuh menikmati dunia dengan ingin-ingin kita yang lain. Kita mampu menciptakan dunia kita sendiri. Dunia yang tidak harus sama dengan dunia yang mereka banggakan. Karena hanya kita yang menikmati bagaimana rasanya, maka hanya kita yang berhak menciptakan bentuknya.

Aku memulainya dengan tak pernah takut menjadi berbeda. tak pernah takut menjadi sendiri. Tak pernah takut dikerdilkan. Tak pernah takut dipandang sebelah mata atau malah sama sekali tidak dianggap. Tak pernah takut menerjang arus. Tak pernah takut melangkahkan kakiku di jalan yang tak sama dengan jalan mereka. Tak pernah resah dengan sindiran mereka. Tak pernah direpotkan dengan tuntutan-tuntutan mereka. Tidak resah dengan rencana-rencana, keinginan-keinginan, maupun impian-impian yang tak kunjung tercapai. Tunggulah. Tunggulah. Aku pasti akan sampai di titik itu. Dengan caraku sendiri. Dengan tidak terburu. Dengan segala dayaku, bukan dengan daya yang lain. Dan aku yakin, dunia masih menyisakan tempat untuk mereka yang yakin dengan dayanya. Karena mereka adalah yang kuat. Kuat bertahan dengan segala kemungkinan.