tentang ‘lalu’

otakku berusaha menyerap fakta. tentang masa lalu yang tak seperti masa lalu mereka. menyerap, menganalisis, dan menerimanya. hingga sampai di satu kesadaran, aku mendidik diriku menjadi sosok yang penuh dengan fakta-fakta rumit. dan menatanya selangkah demi selangkah. mencoba memperbolehkan diri keluar selangkah demi selangkah dari jalur yang kata mereka telah ditetapkan. karena aku meyakini, tidak ada satupun jalur yang ditetapkan. kecuali oleh logika masing-masing isi kepala. lalu? lalu mendapatkan segalanya dengan keringat, perencanaan dan usaha. semua itu adalah inti dari keseluruhanku. dan aku mengakuinya, tentang hasil keturunan, cara lingkunganku mendidikku secara langsung dan tidak langsung, serta standar yang ketat bagi diriku sendiri.

di manapun aku terdampar, aku mencoba untuk tahu apa yang hendak kulakukan di sana, karena manusia harus melakukan sesuatu di suatu tempat. tak perduli sesederhana apapun, seremeh temeh apapun itu. hidup butuh bertualang. ketika kau tak mampu menempuhnya dengan tubuhmu. maka pikiran dan jiwamu berbicara, menuntut, dan menerjang. dan tidak peduli apa jenismu. dunia bukan milik siapa-siapa, dan itu berbeda ketika jiwa-jiwa di dunia ini mulai mengklaim dengan segala logika pembenarannya.