katamu

di satu siang mendung;

Lelaki. Betapa kau, lelaki, tak pernah bisa mengerti dingin sukmaku. Sebab keringatmu selalu berhenti pada panas gelora yang terus kau sangka adalah rintihan pilu tubuhku. Kini aku tak tahu, siapa, hai lelaki yang sesungguhnya sekarat dalam sunyi. Kau atau aku? Atau kita sama-sama menyerah pada seteru ini!

di satu malam kejam;

Aku merasakan sekarang kau lelah pikir rasa dan fisik. Istirahatlah. Pejamkan segalanya. Dan aku turut merasa. Merasakan semuanya. Meski aku tak menangis sepertimu. Dalam keadaan apapun, aku teramat mencintaisayangimu. Teramat.