sebelum berpuluh pagi

sebelum berpuluh pagi. beribu pagi sudah berhasil terlewati. berpuluh pagi itu terlewati di Ibu Kota. semuanya terlewati dengan beragam beban. tentang rasa di tengah penat. tentang menemukan diri di tengah berpuluh sosok lain. lihatlah, sosok diri yang sebelumnya tak pernah dikenal. jangankan dikenal. ditengok atau sekadar dilirik, pun tidak. hingga tiba-tiba sosok ini berada di tengah-tengah berpuluh sosok yang sebelumnya enggan untuk menyapa, menengok atau bahkan sekadar melirik. setara. aku tidak mengatakan bahwa “istilah” itu tepat untuk sebuah penghargaan atas sosok diri.

karena ini bukan persoalan setara tidak setara, kawan. ini bukan persoalan mendaki di antara terjal yang tak kunjung berhasil dilewati, begitu tinggi, serta membutuhkan pengorbanan, hingga pada akhirnya mencapai puncak, lalu merasakan kepuasan tersendiri. bukan, tentu saja bukan itu kawan. tapi aku juga tidak bisa untuk selalu memastikan realitas dengan ketepatan sebuah istilah. kepuasan tidak bisa selalu diukur dengan kesetaraan. ayolah kawan, ini bukan persoalan kesetaraan. aku hanya membayangkan, kehidupan ini sungguh mudah ditebak. tapi tidak dengan hakikat kehidupan itu sendiri. ini bagiku kawan, entah bagimu.

bahkan sampai sekarang, aku tak ingin berpura-pura, setidaknya pada diriku sendiri. tentang ruang kepalaku yang tak kunjung menemukan makna. bahkan terkadang aku terkecoh. terkadang aku begitu arogan pada diri sendiri. memaksakan segalanya baik dan sempurna, padahal tidak. begitupun tentang menjalani hidup dengan cara yang biasa dan tidak biasa. aku tak pernah berfikir atau bahkan menata jalan hidupku menjadi biasa atau tidak biasa. oke, lagi-lagi aku tidak jelas dengan kata-kataku. Karena beginilah aku. hemmm…aku cukup menikmati kata-kataku. laiknya aku menikmati setiap rasa dari inginku yang terlihat dinamis, padahal tidak, sejatinya selalu terjadi kontraksi. tapi sudahlah, dinamis, kontraksi, atau apapun istilahnya, lagi-lagi aku tak peduli. karena aku selalu terlalu bahagia dengan ruang kepalaku yang tak henti-hentinya mengambil makna. bahkan sebelum berpuluh pagi itu muncul dan setelah kemunculannya. aku tetap sama.