biasanya…

biasanya dan biasanya. aku tak sanggup menguak tentang kita. aku memilih diam. tapi tidak ada yang aneh dengan semua itu. bukankah kita terbiasa begini? dengan kerumitan yang membosankan. semuanya tak akan mungkin disebut masalah jika kau dan aku memilih menikmatinya. aku harus bagaimana lagi? itu pertanyaan konyol yang pernah terlintas di pikiranku. tapi hanya terlintas. lalu bagaimana jika terkuak dan membakar semuanya, tentunya kau terkena perciknya. tidak. tidak sekadar terkena perciknya, kau pun mungkin ikut terbakar. tentang terbakar, mengingatkanku pada apa yang terlupakan. sepertinya memang sengaja terlupkan. ya, bukankah dulu aku pernah membuatmu terbakar. kau dan aku nyaris menjadi abu dan tiada. namun kita bukan kayu yang telah menjadi benda mati, sehingga terbakar dan pasrah. masih ada kekuatan yang entah, selalu saja dan terus menerus melempar kita dari api yang mampu membakar itu. tapi itu biasanya. kali ini tidak biasanya. ada yang ingin terburu terkuak. tapi apa? segalanya terbelenggu oleh kebiasaan-kebiasaan itu. hingga lagi-lagi tertahan dan dibiarkan membelenggu. aku benci semua ini. dan berharap kau memahaminya. tapi bukan pemahaman yang menjelma mendadak tepat setelah kumemintanya. tentunya kau telah belajar dari api yang nyaris membakar kita. tentunya. tentunya. dan tentunya. tapi sepertinya sulit. meskipun aku benci dengan pikiran ini.