Bapak Pohon Berkisah, Aku Tercerahkan

Pertama kali melihat sosoknya, sedikit banyak aku bisa menebak bagaimana pembawaannya. Tapi tidak terpikirkan bahwa dia akan berkisah panjang lebar tentang pohon. Dia begitu antusias, fokus, serta sesekali memecahkan tawa kami, para peserta temu blogger di Amprokan Blogger Bekasi. Ya, ketika itu kami telah sampai di Kota Jababeka, kota dimana President University dibangun. Di sanalah, Eka Budianta, Bapak pohon itu berkisah.

Pak Eka (memakai kaos warna merah), Bapak Pohon, di tengah riuh rendah perayaan ulang tahun pohon di Botanical Garden di Kota Jababeka

Amprokan Blogger di Kota Bekasi, memang sengaja digelar dalam rangka HUT kota Bekasi ke-13. Tema yang diambil dalam HUT itu sungguh sangat tepat di tengah kondisi lingkungan kita yang kian memprihatinkan. Tema tersebut adalah “Blogger Cerdaskan dan Hijaukan Bekasi”. Kawan, tentunya kau masih ingat dalam ceritaku tentang “Di Bekasi, Sisa Peradaban Tak Lagi Terbuang”. Kali ini pun aku masih ingin mengungkap tentang Kota Bekasi yang tengah berbenah diri. Kota Bekasi, kota yang begitu sibuk pada banyak hal. Bekasi tak sekadar berfikir bagaimana mendapatkan keuntungan dari pendapatan daerah. Bekasi juga berfikir keras bagaimana mencari jalan keluar terhadap persoalan lingkungan yang kian memprihatinkan.

Kepedulian yang tak terbatas

Bumi kita satu, tempat semua manusia hidup, berkembang, dan menciptakan peradaban. Melalui Botanical Garden di Kota Jababeka, Kota Bekasi seakan mengajarkan bahwa batas imajinatif nation state tidak membatasi kepedulian kita pada belahan bumi lain. Aku memang sudah lama mendengar sosialisasi tentang pentingnya mengurangi pemanasan global (global warming). Ya, karena global warming bukanlah isu baru. Dua hari di Kota Bekasi, aku benar-benar merasakan betapa memang kesadaran kita sebagai manusia perlu terus diperbarui.

Jujur, cuaca panas di Kota Bekasi memang begitu menyengat. Maka, adalah keputusan bijak dari pemerintah Kota Bekasi dengan membangun botanical garden di Kota Jababeka. Dan tentunya kebijakan yang peduli pada lingkungan hidup, harus secara nasional dimunculkan semua daerah di negeri ini. Ini menjadi penting, mengingat secara geografis posisi negeri ini rentan terhadap dampak perubahan iklim. Ya, Indonesia adalah negara agraris dengan tingkat produktivitas yang rawan mengalami gangguan akibat dampak global warming ini.

Kawan, tentunya kau telah lama mendengar bahwa negeri kita ini tercatat sebagai penyumbang terbesar ketiga karbon dioksida—salah satu jenis gas rumah kaca—akibat kebakaran hutan, perlu mengambil langkah yang revolutif meski sekarang kita memang sudah terlambat. Sungguh, Kota Bekasi benar-benar kota sibuk. Kota yang terus bergerak dan tak ingin tenggelam hanya karena persoalan lingkungan.

Banyak hal yang selama ini tidak terfikirkan olehku, tapi Direktur Project Jababeka Botanical Garden itu mampu menyadarkanku. Dia begitu menguasai dan mencintai profesinya. Aku yakin, tidak hanya aku yang dibuatnya terkesima, kagum, dan tercerahkan. Dia menyampaikan setiap pesannya dengan unik. Ya, terutama ketika lelaki kelahiran Jember itu, berkisah tentang masa kecilnya yang dilahirkan di bawah pohon sawo. Filosofi menarik yang mampu menghantarkannya menjadi sebagai sosok yang peduli pada pohon.

Ya, Bapak Pohon itu benar, kita mesti berterimakasih pada pohon. Tidak semata karena kita telah memperoleh manfaat dari potensi pohon untuk kemaslahatan kita, umat manusia, tetapi lebih dari itu. Pengetahuan dan kearifan hidup kita bisa ambil mulai dari akar, ranting, dahan, daun dan buahnya. Daun yang gugur adalah refleksi kehidupan manusia. Ia melayang jatuh dari pohon seusai menunaikan tugas mulianya menghasilkan oksigen. Sama halnya seperti kita, manusia, yang kelak akan meninggalkan dunia fana ini. Tak ada yang abadi, namun kita bisa memaknai kehidupan kita didunia ini dengan melakukan hal-hal terbaik bagi diri kita dan masyarakat.

Mari kita kian peduli terhadap lingkungan kita, termasuk pada penghijauan pohon-pohon kita. Artinya tidak sekadar bersih, karena untuk kondisi dunia sekarang ini, penghijauan adalah suatu keharusan. Banyak cara untuk peduli, meski kepedulian itu baru sekadar sosialisasi via jejaring sosial, seperti yang dilakukan blogger Bekasi melalui facebooknya maupun blognya. Jadi tidak heran jika dikatakan “Bekasi Bersih Partisipasi Blogger”.