menemui Senja

Senja. jika kita patuh hukum alam, maka senja bermakna masa setelah terbenamnya matahari. Namun ketika tiba di ruang kepala manusia, senja memiliki maknanya sendiri-sendiri. Bisa jadi bergantung pada cerita masing-masing isi kepala. Senja pada akhirnya bermakna apapun. Lalu, sosok seperti apa yang muncul dipikiranmu ketika kau mendengar kata senja? Apakah sesuatu yang indah, dingin, bijak, perenung, romantis, angkuh, puitis, atau apa? Senja begitu sangat diinginkan bagi mereka yang merasa nasibnya sama seperti senja. Senja begitu dikenal, terutama bagi mereka yang telah menghabiskan waktunya untuk merenungkan diri. kau bisa mencari senja dimanapun, bahkan di ruang bawah sadarmu sekalipun. Kau tak perlu takut kehilangan senja.

Sepertiku yang semalam lalu menemui senja. Senja. Demikian aku lebih suka menyapanya. Kau, perempuan senja, akhirnya kita berkuasa pada waktu. Meski hanya dalam hitungan jam. Kau, dengan senyummu yang sempat kulihat beberapa kali, tepat ketika kita bertemu beberapa minggu lalu. Kini kau menyunggingkannya lagi, tapi kali ini hanya untukku. Senja, kau tahu? Tepat setelah kau menghubungiku untuk sekadar bertemu,aku sempat berpikir keras tentang kata apa yang akan aku mulai pada obrolan kita. Meski aku faham, ini kebiasaan burukku menjadi sosok yang gugup. Dan aku bersyukur, rasa itu muncul lalu tenggelam hanya sekejap mata. Hingga tiba dimana kau telah di depan mataku. Lalu aku mencoba masuk dari dunia senjamu. Aku memulainya dengan masuk pada setiap kata yang kau tulis di ruang mayamu. Tentang rencana-rencanamu yang ingin alfa dari ruang mayamu.

Dan menemuimu di senja itu adalah tepat. Aku mampu merasakan apa yang kau rasakan, hingga pada kesimpulan bahwa aku memahami alasanmu untuk alfa dari ruang mayamu. tapi aku yakin itu bukan vonis akhirmu. Karena sepertiku, kau pun mampu merasakannya, bahwa imajinasi dan pikiran takkan pernah terpenjara. Meski tubuh dibatasi ruang geraknya, tapi imajinasi dan pikiran tetap bebas melenggang kemanapun perginya. Selainmu, begitu banyak sosok yang tak gentar dengan serangan-serangan. Ada Ho, Hitler, Suu Kyi, Voltaire, atau siapa pun yang menulis dari penjara umumnya berusaha membayangkan kebebasan, yang tak mereka miliki pada saat itu. Ho Chi Minh, yang oleh orang Vietnam dipanggil Paman Ho, selalu percaya bahwa puisi adalah duta yang efektif bagi jiwa, ideologi, dan aksi, bahkan bisa menjadi senjata. “Puisi harus mengandung baja dan penyair harus tahu bagaimana menyerang,” katanya.

Dengan keyakinannya yang kuat, pria bernama asli Nguyen Sinh Cung itu terus menulis, bahkan ketika dia harus meringkuk di penjara; malah, di penjaralah– kehidupan yang harus dijalaninya beberapa kali pada masa perjuangannya untuk memerdekakan Vietnam dari penjajahan Prancis dan pendudukan Jepang sejak 1931– dia seperti merasa punya banyak kesempatan untuk terus menyerang. Aneka macam puisi dia hasilkan.

bersama Irma Susanti--seseorang yang kusebut Senja

Dan masih banyak tokoh-tokoh lain yang mampu membuktikan, bahwa meskipun tubuh mereka terpenjara dan terbatasi, tapi ruang kepala mereka tetap bebas. dan Senja, aku pun berharap sekaligus yakin, kau akan tetap bebas dengan imajinasi dan pikiranmu. tidak peduli kau perempuan dan mereka lelaki. karena aku yakin, enerji perempuan untuk berfikir dan bertahan lebih kuat dari sekadar otot-otot besar lelaki. belasan tahun kau telah membuktikan bahwa kau mampu mampu bertahan. maka langkah selanjutnya tinggal bagaimana kau mengendalikannya sesuai dengan inginmu.

teruntuk Senja dan Quinie