laiknya bumi

hai perempuan-perempuan, apa yang ingin kau lihat di luar sana. ya, di balik cahaya itu. apakah yang ingin kau ingin sama seperti yang ingin kulihat?

seperti yang pernah kuungkap, di balik kabut itu, gegunung itu, juga bebukit itu, selalu ada kehidupan. termasuk kehidupan tepat di depan mataku. mereka hidup. bergairah. menantang. tak bisa “dikendalikan”. mimpi mereka sama kuatnya dengan mimpiku. tajam sorot mata mereka, sama tajamnya dengan sorot mataku. mereka menginspirasi gerakku. mereka memiliki mimpi, perempuan-perempuan itu, seperti halnya perempuan di luar sana. meski jalan mimpi itu tak harus sama seperti jalan mereka.

aku masih di sini, maka ungkapkan mimpimu dengan tajam sorot matamu. lalu aku akan membacanya. menafsirkannya. serta mencari cara bersama-sama melangkah menggapainya. kau tahu, gairahmu seperti menahanku untuk tetap di sini menemani meraih mimpimu. bahkan mimpiku untuk terbang ke sana ke mari dan diam-diam berada di balik cahaya itu, pelahan terasa hambar. saat itu kufaham bahwa duniaku bersama kalian, perempuan-perempuan dengan mimpi-mimpinya. benar, kakiku masih berpijak di bumi. bumi yang siap menerima segala beban. juga tempat di mana kita bangun dunia kita sendiri, hingga tanpa sadar kita telah menjadi dan membangun “sesuatu” untuk mereka.