resah yang sama

Kapan kau berfikir waktu berjalan begitu cepatnya? Senja lalu aku masih di satu sudut, senja berikutnya aku tetap di satu sudut itu. Sungguh waktu berjalan begitu cepatnya. Dan mirisnya aku melewatinya tanpa menyadari waktu terus mengejarku. Apakah ini berarti aku harus mengejar waktu? Apakah kau pernah berfikir, mengejar waktu laiknya mengejar mimpi? Jangan bilang kau muak dengan istilah ini. Ya, maksud aku ‘mimpi’ itu. Aku merasa, di alam bawah sadarku ada yang tertawa miris, tepat ketika kata itu muncul di ruang kepalaku. Apakah memang begitu, kata itu terasa memuakkan. Sehingga tiba-tiba ketika aku terlintas dan menjelma huruf-huruf, aku buru-buru mengoreksi kata-kataku.

Ya, kau tau, aku tak ingin setiap kata-kataku begitu konkrit. Mungkin ini akan menyulitkan diriku sendiri yang berharap kau memahaminya. tapi inginku begitu kuat. Seakan tanpa toleransi, aku memaksamu untuk membaca kata-kataku yang memang tidak konkrit. Akhir-akhir ini aku terlalu banyak berfikir tentang setiap detail yang kulewati. Berfikir tentang bagaimana cara melangkah. Berfikir tentang melepas segala ingin yang memuakkan. Berfikir tentang ritme hidup yang begitu simple tapi juga rumit. Berfikir tentang pertanyaan-pertanyaanku yang tak pernah kau jawab, tapi aku terus saja menanyakannya. Berfikir tentang aku yang begitu bebal dengan sesuatu yang kuanggap memuakkan.

Ya, aku begitu bebal. Kenapa aku jadi begini. Aku masih saja tak ingin berhenti, bahkan singgah pun terasa berat. Aku sulit mengendalikan segala yang membuatku bebal. Tapi di satu waktu aku pernah merasa sampai pada titik jenuh. Sayangnya itu hanya sesaat. Karena ternyata tak ada titik jenuh di sana. Aku saja yang terlalu percaya diri menyimpulkannya. Ah, seperti biasa, kau pasti bosan dengan resah-resahku yang selalu sama.