tentang Curhat mereka

Para perempuan itu seperti biasa, selalu terlihat kuyu. Rutinitas mereka tetap sama. Aktifitas yang tentu saja membutuhkan energi yang lebih besar dibanding enerji para lelakinya. Pada saat dan tempat yang berbeda, mereka mengeluhkan persoalan yang sama. Yakni tentang anak perempuan mereka yang kini tengah menjadi buruh migran. Tepatnya beberapa pekan lalu, secara tidak sengaja di tempat yang berbeda, ada tiga perempuan paruh baya itu mencurahkan isi hatinya. Jika dikatakan kebetulan, memang benar. Kebetulan yang benar-benar real.

Curahan hati (Curhat) mereka sama, tentang nasib puterinya yang bekerja sebagai pekerja rumah tangga (PRT). Ibu pertama mengeluhkan nasib anak perempuannya yang sudah 18 bulan di Malaysia tanpa kabar berita. Ibu kedua menceritakan nasib anak perempuannya yang tengah sakit akibat dijatuhkan oleh anak majikannya di Arab Saudi dari lantai bertingkat. Ibu ketiga mengungkapkan bahwa kini anaknya tengah berada di kantor Polisi di Arab Saudi, namun tidak jelas apa masalah yang menyebabkannnya berada di sana. “Anak saya sepertinya disukai oleh anak lelaki majikan. Karena anak saya tidak suka, maka dia dijebloskan ke penjara,” demikian Ibu ketiga berkeyakinan tentang anaknya. Namun, dia masih sekadar menebak-nebak.

Kepada saya, mereka juga mengungkapkan hanya mampu mengandalkan upaya PJTKI. Ibu pertama kini pasrah. Ibu kedua malah berkeyakinan bahwa apa yang terjadi pada puterinya adalah karena ulah mantan suaminya. Mantan suaminya menyuruh orang pintar (paranormal) agar membuat isterinya tersebut tidak bahagia. Sementara ibu ketiga bersikukuh akan mengurusnya sendiri jika PJTKI penyalur tak kunjung menyelesaikan masalah puterinya yang masih di penjara.

Tentang Curhat ketiganya, memang tidak bisa dibilang parah dibanding mereka yang sampai mengorbankan nyawanya. Tapi jangan bilang kau bosan membaca dan mendengarnya. Bagaimana kita bisa bosan dengan hal-hal yang begitu real terjadi di sekitar kita. Kalaupun kau tak menemukan di sekitarmu, setidaknya kau mengetahuinya dari media. Entah kapan pemerintah kita bisa menjadi pintar. Berpuluh tahun berpengalaman sebagai Negara pengerah tenaga kerja ke luar negeri. Namun tidak juga berlajar dari pengalaman kegagalannya.

Dari sekian derita TKI dan keluarganya, lalu dimana pemerintah kita? Dimana para pengerah tenaga kerja ketika pekerja mereka tertimpa masalah di negaranya? Bukankah mereka begitu antusias ketika berebut rezeki dari potongan-potongan gaji TKI? Termasuk pihak swasta yang terdiri dari pengerah tenaga kerja, perusahaan asuransi, perusahaan angkutan, dan perbankan,di mana tanggungjawab mereka?

Karena terlalu banyak gagasan yang telah tertuang di media kita, maka tulisan ini bukan untuk menawarkan solusi, sekadar menggugah hati kita. Jika kau tak puas, maka kau bisa tanya pada Prof Google sepuas kau mau.