lelaki mengerikan

beberapa pekan ini aku merasa aneh. tapi cuaca tetap terasa begitu cerah. tempat di mana kakiku berpijak, pelahan mulai menyengat. terkadang aku sulit membedakan cuaca cerah dan panas. aku masih terlalu sibuk dengan hal-hal yang mungkin kau anggap sepele. entah semuanya bermula dari hal-hal rumit yang tak sekadar membuat kepalaku pening. aku kembali pada aku sebagai perempuan dan kau sebagai lelaki atau sebaliknya. tiba-tiba aku tak ingin mengikatmu lagi. namun di tengah keinginan itu, aku kembali berfikir, bukankah selama ini aku tidak pernah mencoba mengikatmu? ini bisa diumpamakan seperti ketika sikapku dianggap salah olehmu, dan tiba-tiba aku berteriak bahwa sikapku tidaklah salah. aku pikir itu hanya persoalan aksi reaksi. aku bereaksi begini, karena kau beraksi begitu. jadi aku pikir bukan persoalan salah benar. hanya persoalan aksi reaksi, tidak lebih.

beberapa pekan ini aku masih berfikir aku begitu aneh. tiba-tiba kepalaku bagai pohon cemara tua dan menjulang tinggi, isi kepalaku tiba-tiba penuh persoalan yang terus bercabang dan bercabang. hingga aku sulit keluar dari semua itu. dalam kekalutanku aku banyak berfikir yang aku sendiri merasa takut memikirkannya. aku tak ingin mengatakan kau lelaki dan aku perempuan, atau aku perempuan dan kau lelaki. kau pasti bingung. kalau begitu kita jangan bicara lelaki atau perempuan, kita bicara atas nama manusia saja. untuk membedakannya, kita pakai istilah lelaki dan perempuan. keduanya memiliki titik nol. lelaki, aku pikir dalam kekalutanku, lelaki tetaplah lelaki. di kepalanya hanya ada dirinya dan dunianya. bagi lelaki hanya ada dua perempuan. perempuan yang melahirkannya dan perempuan darah dagingnya. lalu isterinya? bagi lelaki yang mengerikan, isterinya adalah seorang perempuan yang tidak begitu penting seperti kedua perempuan sebelumnya. karena perempuan sebagai seorang isteri, baginya bisa tergantikan dengan perempuan lain. seakan lelaki tersebut bisa sesuka hati berganti perempuan. sedangkan kedua perempuan sebelumnya tidak mungkin tergantikan, karena ada darah dan dagingnya yang menyatu di bagian tubuh keduanya. inilah pikiranku yang kusebut menakutkan. aku sendiri merinding jika harus mengungkapkannya. jika benar lelaki begitu mengerikan, entah. benar, aku benar-benar aneh kali ini.

maka jangan heran ketika lagi-lagi lelaki tertuduh sebagai pendominasi perempuan. dalam konteks ini, Mary Wollstonecraft (salah satu pemikir feminist liberal abad ke-18) benar. mereka, para perempuan itu dihambat untuk mengembangkan kemampuan nalarnya, dengan alasan hal yang terbaik yang dapat dilakukan adalah memanjakan diri dan menyenangkan orang lain, terutama lelaki. Padahal, lelaki pun sama, jika lelaki disimpan di dalam sangkar yang sama seperti perempuan. karena diabaikan kesempatannya untuk mengembangkan kekuatan nalarnya, untuk menjadi manusia bermoral dengan perhatian, motif, dan komitmen yang lebih dari sekadar kenikmatan pribadi, laki-laki, seperti juga perempuan, akan menjadi sangat “emosional”. istilah ini sering dihubungkan Wollstonecraft dengan hipersensitivitas, narsisme yang ekstrim, dan pemanjaan diri yang berlebih-lebihan.