di satu waktu

di satu sudut dan waktu, aku datang, lalu duduk, memilih berbaur dengan diriku. padahal di luar sana ada mereka dan suasana yang sepertinya begitu menarik. karena aku selalu gagal memerankan jiwa lain di luar jiwaku. aku sulit memerankan apapun, apalagi menikmatinya. di keramaian, riuh rendah, gegap gempita, perayaan kebanggan, dan segala yang memukau, aku tetap tak mampu menikmatinya. ketika mereka menikmatinya, aku malah sulit membuktikan bahwa aku menikmatinya. jika sudah begitu, aku memilih tak terlihat oleh apapun dan siapapun. di satu sudut dan waktu, aku lebih memilih berbaur dengan diri. menjadikan diri tak seperti yang lain, saat itulah aku merasakan betapa “magis”-nya menjadi diri sendiri. tak ada beban di sana.