kemalasan berfikir

aku pernah merasa gemas, bahkan heran, ketika menonton liputan konser musik pop di televisi. Di mana para penontonnya yang notabene masih remaja, selalu mempunyai jawaban yang seragam ketika ditanya bagaimana konsernya. Mereka pada umumnya serempak menjawab: “Keren banget,” “Bagus banget,” dan kata-kata praktis lainnya.

Dalam hal ini saya sepakat dengan Qaris Tajudin dalam pemikirannya tentang “Minimalisme” yang diangkat majalah TEMPO (26 Juli 2010). Membaca tulisan Qaris seperti menemukan menemukan kegelisahanku sendiri. kembali ke para remaja itu, bukannya mempermasalahkan kata-kata keren dan banget, tapi soal adjektiva yang dipakai. Selain itu-itu saja, mereka ternyata amat jarang bisa menjelaskan apa bagusnya, apa keren-nya. Mendeskripsikan sesuatu tampaknya lebih sulit daripada soal ujian akhir nasional.

Kegelisahan sekaligus keprihatinan Qaris, ditemuinya dalam sejumlah kesempatan memberikan pelatihan menulis di sekolah dan kampus. Ada satu hal yang selalu menjadi ganjalan. Para siswa dan mahasiswa itu selalu punya kendala dalam mengungkapkan apa yang mereka pikirkan atau rasakan. Walhasil, sebelum bicara tentang teknik menulis dan pernak-perniknya (termasuk membenarkan kesalahan eja yang parah), dia mengaku harus menghabiskan setengah waktu untuk memotivasi mereka mengungkapkan sesuatu dengan cara beragam.

Padahal menurutnya, mereka adalah siswa pandai, bahkan beberapa di antaranya siswa berprestasi dari sekolah unggulan. Otak mereka berisi. Hanya, mereka seperti botol saus yang segelnya baru dibuka: penuh isinya, tapi susah sekali dikeluarkan. Macet. Ketika dipaksa, daya ungkap mereka miskin, kaku, dan kadang rumit. Anehnya, untuk mahasiswa, kerumitan itu seakan dianggap sebagai simbol intelektuali tas. Semakin susah dimengerti, semakin intelek. Semula dia menganggap kegagapan mereka karena para siswa jarang menulis. Mungkin mereka perlu sedikit latihan agar daya ungkap mereka menjadi lancar. Tapi anggapan ini ternyata salah. Saat diminta mengungkapkan sesuatu secara lisan, mereka juga gagap.

Ada satu waktu dimana aku berfikir keras, ketika menemui diriku tak kunjung mendapatkan sebuah ide. Ide untuk berita yang akan diangkat di media LSM tempatku bekerja. Aku menangani beberapa hal berkaitan dengan keredaksian. Mulai dari reportase, penulisan berita, editing, dan correcting pasca layouting. Seperti tahun ini, ada empat media. Buletin mingguan, dua majalah dua bulanan, dan media on line. Tentu saja, media yang aku maksud berbeda dengan media harian yang ada. Isu yang diambil juga tidak semua isu diangkat menjadi berita. Hanya isu terkait persoalan kemanusiaan, persoalan perempuan, dan isu social tertentu.

Aku harus membuat tulisan berita yang memiliki keberpihakan terhadap persoalan kemanusiaan. Jika menulis tentang salah satu kasus trafiking, maka bagaimana agar tulisan tersebut memiliki keberpihakan terhadap korban trafiking yang notabene adalah perempuan. Aku selalu mengusahakan, agar satu peristiwa ditulis dalam dua berita. Straight news dan feature. Dalam straight news, mungkin kau tidak bisa menceritakan secara detail. Sehingga akan sulit untuk menggugah hati pembaca atau setidaknya menimbulkan empati.

Maka untuk membangkitkan empati pembaca, menulis feature adalah pilihan tepat. aku bisa menggambarkan bagaimana kondisi korban, setidaknya lebih detail dibanding straight news. Sedangkan untuk rubric laporan utama (Laput), aku menuliskannya secara mendalam. Proses menemukan gagasan yang tepat, tak jarang membutuhkan waktu berhari-hari. Beruntungnya aku menulis media bulanan. Setidaknya aku diberi kesempatan berfikir dalam waktu yang tidak terlalu cepat. Meski di satu waktu adakalanya aku begitu buntu, namun aku sungguh menikmati proses menemukan itu.

Aku jadi terkenang dengan masa-masa sulit ketika menyelesaikan skripsiku di tahun 2006. Kebetulan aku meneliti sebuah teks media dari tahun 1974-2002. Saat itu aku memilih analisis framing model Gamson dan Modigliani sebagai studinya. Memang, proses menganalisa tulisan-tulisan tahun 70-an sampai 2002 sungguh melelahkan. Yang aku hadapi di antaranya adalah teks media yang masih menggunakan ejaan lama, lengkap dengan warna kertasnya yang sudah menguning. Tapi sekali lagi, aku sungguh menikmati proses itu. Dari situlah, aku mulai menyadari kenapa ada istilah “ilmu itu mahal harganya”. Setidaknya aku merasa telah membuktikannya sendiri.

Kini menulis sebuah peristiwa menjadi makanan sehari-hariku. bahkan aku pikir bukan sekadar menulis. Tapi juga melakukan advokasi. aku pikir bekerja seperti ini bukan sekadar pekerjaan yang “asal gugur kewajiban”. Karena bagiku, di sana ada kombinasi antara hobi dan profesi. Paduan keduanya aku istilahkan sebagai “hidup”. Keduanya sama-sama besar nilainya. Sama-sama menyenangkan.

Aku bahkan masih menganggap diriku “beruntung”. Beruntung memiliki ketertarikan dan ketrampilan dalam dunia menulis. Karena proses menulis ini bukan sekadar merangkai kata, tapi bagaimana kita dituntut untuk berfikir keras menafsirkan apa yang terlihat dan terasa. Di sisi lain kadang aku berfikir, bagaimana mungkin seseorang bisa menikmati hidupnya tanpa menikmati menulis. Pemikiran ini memang terkesan arogan, karena aku hanya melihat dari sudut pandangku. Padahal seseorang memiliki hak untuk memilih suka atau tidak suka menulis. Bahkan ketika terpikir tentang anak-anakku kelak, aku ingin agar mereka cinta menulis. Aku ingin memperkenalkan kepada mereka bagaimana cara menikmati menulis. Proses menuangkan pemikiran mereka, tafsir mereka akan sesuatu.

Agar mereka tidak menjadi bagian dari anak-anak generasi muda yang dikhawatirkan Qaris Tajudin dalam pemikirannya tentang “Minimalisme” yang diangkat majalah TEMPO (26 Juli 2010). Membaca tulisan Qaris seperti menemukan menemukan kegelisahanku sendiri. Benar, aku sering heran dengan jawaban seragam yang dilontarkan remaja usai menonton konser.

Penyakit ini kemudian dibawa hingga tua. Mulai dosen, pengacara, peneliti, sampai polisi dan pejabat selalu kesulitan menerangkan sesuatu. Jangankan memudahkan sesuatu yang rumit, menerangkan hal sederhana saja harus berputar-putar tak keruan. Saat dia meminta selebritas mendeskripsikan diri sendiri untuk melengkapi tulisan profil mereka, mereka selalu memulai jawabannya dengan: “Hem… apa ya?” Lalu jeda lama dan diakhiri dengan jawaban yang klise. Lebih dari separuh mereka akan berkata, “Saya itu orangnya mengalir seperti air.” Membosankan.

Bahasa diciptakan untuk mengungkapkan apa yang kita pikir dan rasa. Tapi kenyataan di atas menunjukkan bahwa ada kegagalan berbahasa di banyak kalangan. Saya kemudian bertanya-tanya, apa yang terjadi dengan pelajaran bahasa Indonesia? Kenapa teori-teori yang pelik itu tidak mampu membuat mereka lebih mudah menggunakan bahasa ini? Kalau mau menyalahkan pendidikan bahasa di sekolah, gampang saja. Selain itu, soal itu sudah berkali-kali dibahas di kolom ini.Jarangnya pelajaran membaca karya sastra dan praktek mengarang memang masalah utama dalam hal ini. Tapi, selain itu, ada soal lain.

Tampaknya, bahasa Indonesia bagi suku selain Melayu belum benar-benar menjadi bahasa ibu. Tentu saja, bisa dikatakan semua orang Indonesia kini bisa berbahasa Indonesia dengan lancar. Tapi itu sangat terbatas. Daya ungkap itu kaku dan miskin gaya. Tidak luwes. Hal ini berbeda dengan saat orang-orang Melayu bicara.Mereka lebih fasih dan luwes. Mengobrol dengan mereka, kita akan menemukan banyak daya ungkap, amsal, dan peribahasa yang keluar bertaburan.

Padahal, ketika memakai bahasa daerah, mereka tak kesulitan memasukkan pepatah atau amsal dalam perbincangan sehari-hari. Misalnya, saat menunggu sesuatu yang mustahil terjadi, orang Jawa Timur dengan santai berkata: “Ngenteni linggis kambang,” atau menunggu linggis mengambang. Seperti menunggu Godot. Atau, orang Madura biasa berkata, “Poteh tolang ango poteh mata,” lebih baik berputih tulang daripada berputih mata. Lebih baik mati daripada menanggung malu.

Kekakuan kita berbahasa Indonesia tidak hanya terjadi dalam bahasa cakap yang informal, tapi juga dalam bahasa tulis. Coba perhatikan koran dan majalah kita. Hampir semua ungkapan ditulis dengan kalimat yang langsung pada inti permasalahan. Amsal dan peribahasa adalah barang langka. Kalaupun ada, pasti dijelaskan maksudnya. Bisa dibilang, gaya berbahasa kita adalah gaya yang minimalis. Sayang, keminimalisan ini bukan karena pilihan (ingin lebih efisien), melainkan karena keterpaksaan dan kemalasan berpikir.