kian kuat

Rasanya seperti melempar kerikil yang telah lama bersarang di dalam sepatuku. Sepatu yang aku injak di bawah telapak kakiku. Setelah kerikil yang tersembunyi itu aku buang sekaligus aku lempar, aku kembali lega. Aku mampu melanjutkan langkahku. Rasa lega itu kini tengah menjalar dalam keseluruhanku. Hari-hariku kembali diisi dengan pikiran-pikiran penuh rencana normal. Tidak lagi penuh dengan was-was dan cemas yang konyol, melelahkan, sekaligus membosankan. Alam bawah sadarku membenarkan, bahwa seharusnya aku tidak lagi konyol dengan was-was yang tidak bertanggungjawab.

Untuk kali ke sekian, aku semakin kokoh. Rencana dan mimpi-mimpi kecilku semakin membuatku kian kuat. Ya, aku mampu meraihnya laiknya mimpi-mimpi yang telah menjelma nyata, yakinku. Selagi aku masih ingin membangun mimpiku, maka aku tetap berdiri. Selainku dan penguasa atas jiwaku, siapapun dan apapun takkan ada yang mampu mengehentikan langkahku. Ya, kecuali aku menginginkannya berhenti. Tapi tidak ada kata berhenti dalam kamusku. Kalaupun aku terkesan berhenti, itu karena aku tengah menyusun rencana berikutnya. Apa yang tidak kudapatkan bukanlah apa-apa, dibanding kerja kerasku untuk tetap berdiri dan melangkah lagi. Jadi jangan khawatir wahai kau—para kerikil-kerikil—tak mampu mengkerdilkan pikirku akan mimpi-mimpiku. Aku selalu sangat menikmati duniaku. Persoalan kapan aku akan sampai pada mimpiku berikutnya, itu hanya masalah waktu, kawan. Yang pasti, aku merasa kian kuat dan selalu nyaman dengan duniaku. Kau pun akan merasakan hal sama sepertiku ketika kau telah menemukan duniamu.