mereka terbanyak, tapi juga terminim

Ya, mereka terbanyak jumlahnya. Tetapi sayang, sampai sekarang terminim dalam mendapatkan perhatian pemerintah. Mereka adalah para perajin cobek di sejumlah desa di Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon.

Sekitar bulan April 2010, aku kembali singgah ke sejumlah desa di Kecamatan Mundu. Di beberapa desa di Kecamatan Mundu Kabupaten Cirebon, cobek tidak hanya dibuat dari batu, tetapi juga dikembangkan dari tanah liat, ada juga yang menggunakan pasir dan semen, selebihnya ada yang menggunakan bahan dasar kayu. Di antara desa yang masih mempertahankan kerajinan membuat cobek adalah Desa Sinarancang dan Desa Setu Patok.

Di Desa Sinarancang, hampir 80% warganya menjadi perajin cobek. Desa yang terletak di kawasan pegunungan itu mata pencaharian penduduknya memang cukup beragam, mulai dari petani, buruh, pedagang, hingga perajin cobek. Namun dibandingkan dengan petani, buruh, dan pedagang, perajin cobek adalah pihak yang paling banyak digeluti warga, khususnya para lelakinya. Sementara para perempuannya lebih banyak menjadi buruh pabrik. Banyaknya perajin cobek yang menggunakan bahan dasar tanah liat dimulai dari tahun 1998.

Bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi adalah Jawa dan Sunda Cerbonan. Sebab desa tersebut merupakan daerah transisi antardua suku di Cirebon. Menuju Desa Sinarancang hanya butuh waktu sekitar 30 menit dari pusat Kota Cirebon. Awalnya, Desa Sinarancang menyatu dengan Desa Satunangila, kemudian terjadi pemekaran. Baru pada 1983, Sinarancang resmi menjadi desa sendiri.

Cobek. Siapa yang tak kenal alat dapur satu ini. Sejak jaman dahulu, tentunya masyarakat Nusantara telah akrab dengan–yang namanya–sambal. Apalagi kalau sambal itu digerus langsung dengan tangan sendiri di atas cobek. Tentunya rasa sambal hasil kerja keras tangan sendiri sangat berbeda dengan sambal yang digerus dengan blender. Mereka yang menetap di pedesaan bisa dipastikan memiliki cobek di dapurnya. Cobek selain berfungsi untuk membuat sambal, juga bisa digunakan untuk membuat bumbu masak yang perlu dilembutkan. Cobek sendiri selain terbuat dari batu, ada juga yang terbuat dari bahan dasar tanah liat.

Di Sinarancang, meskipun 80% warganya memilih menjadi perajin cobek, namun perhatian dari pemerintah daerah (Pemda) sangat minim. Bahkan ketika ada program pemberdayaan ekonomi masyarakat yang masuk ke desa, perajin cobek tidak pernah mendapat kesempatan mendapatkan bantuan. Keadaan ini dikeluhkan Tamin (46 tahun), perajin cobek asal Desa Sinarancang.

Berharap Ada Koperasi

Puluhan tahun menjadi perajin cobek, Tamin mengaku belum pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah, baik bantuan dana maupun pelatihan-pelatihan untuk pengembangan profesinya.

“Yang ada, saya dapat bantuan hutang dari warung langganan saya. Karena setelah cobek jadi kan harus dipasarkan bukan hanya di desa, tapi juga ke luar kota. Semuanya itu butuh biaya. Karena tidak ada, ya ngutang lagi,” tuturnya ketika ditemui Blakasuta pada Kamis (14/4) di rumahnya.

Kondisi para perajin cobek di beberapa desa Kecamatan Mundu Kabupaten Cirebon tidak jauh berbeda dengan para perajin di sejumlah desa Wilayah III Cirebon. Pada umumnya mereka kurang mendapatkan perhatian pemerintah. Kendati demikian, mereka mampu bertahan dengan segala keterbatasan.

Menurut Tamin, di desanya lebih banyak perajin cobek dengan modal yang sangat terbatas. Tamin sendiri terkadang tidak setiap hari mencetak cobek. Mau tidak mau dia harus libur karena tidak ada modal untuk membeli bahan-bahannya, terutama membeli pasir dan semennya. Dulu, dia masih bisa membuat cobek dari tanah liat cadas, namun sekarang jarang dilakukan. Dia dan sejumlah perajin lainnya lebih banyak menggunakan pasir, semen, dan air.

“Kalau ada bahannya, saya bisa cetak setiap hari. Pasir biasanya beli di Kopi Luhur. Dalam sehari, saya cetak 50 buah kalau bentuk barangnya agak besar. Jadi tergantung ukuran barangnya. Saya jual dari harga Rp 3.500 sampai Rp 10.000 per cobek. Tapi tetap saja untungnya masih sangat sedikit, karena bikinnya susah. Apalagi modal saya kecil, untungnya buat makan saja kadang kurang,” papar lelaki tiga anak itu.

Para perajin di desanya tidak hanya memasarkan cobek di Cirebon. Banyak juga yang memasarkannya di Kalimantan, Sumatera, dan Aceh. Menurut Tamin, pada dasarnya selama ini para perajin cobek banyak keluar modal bukan hanya untuk membeli bahan cobek, tapi juga untuk memasarkan cobek ke luar kota. Tidak pernah ada bantuan dari pemerintah. Selain itu, di Desa Sinarancang juga tidak ada koperasi simpan pinjam.

“Jadi untuk memasarkan ke kota, kebanyakan perajin seperti saya ini meminjam modal ke warung maupun teman. Setelah kembali dan membawa untung yang tidak sedikit, uang itu dipakai lagi untuk membayar hutang dan makan anak isteri. Jadi, ya gali lobang tutup lobang. Karena di desa ini, pemerintah hanya memperjuangkan modal untuk para petani,” tukas Tamin yang tidak hanya mencetak cobek, tapi juga lumpang (nama lain dari liangan dan jubleg), lumpang batu kecil, serta ulekan (pasangan cobek).

Selain Tamin dengan modal pas-pasannya, ada Jaja (25 tahun) yang merasa mendapat keuntungan besar dari membuat cobek. Meski baru setahun membuat cobek, namun Jaja memiliki modal lumayan besar dibanding Tamin. Sehingga dia bisa membuat cobek dalam jumlah banyak. Dia juga dibantu para pekerjanya yang berjumlah sekitar 10 orang. Sebagian besar pekerjanya adalah kerabatnya. Mereka dibayar Rp 25 ribu untuk yang masih muda, sedangkan yang sudah cukup tua dibayar hingga Rp 40 ribu per hari kerja. Bayaran tersebut sudah bersih dari makan dan rokok. Biasanya mereka bekerja hingga pukul 16.00 WIB. Tanggungjawab mereka berbeda-beda, mulai dari nyacag sampai cetak.

Jaja memulai usahanya dengan modal Rp 500 ribu. Dengan modal tersebut, dia mendapatkan untung sampai Rp 1,5 juta. Dalam sehari, Jaja bisa mencetak 150 buah cobek. Namun itu baru cetaknya saja, karena untuk sampai kering membutuhkan waktu paling lama tiga hari. Sama halnya dengan Tamin, Jaja mengaku selama ini belum ada bantuan dari pemerintah. Dana pemerintah lebih banyak untuk petani. Padahal warga di Sinarancang lebih banyak sebagai perajin daripada petani.

“Kami inginnya–kalau ada sih–ada pinjaman dana dari pemerintah, supaya lancar. Karena kalau kita mau berangkat untuk memasarkan, itu harus cari pinjaman untuk ongkos dulu. Karena setelah selesai cetak, kita tetap butuh dana untuk berangkat memasarkan.”

Diklaim Mendapat Bantuan PNPM

Seperti terjadi di beberapa desa lain yang memiliki potensi usaha untuk dikembangkan, mereka selalu dianggap sudah mandiri. Padahal realitasnya, mereka masih banyak yang membutuhkan dukungan pemerintah. Hal serupa juga dirasakan para perajin cobek di Desa Sinarancang. Menurut Tafsirun (29 tahun), salah satu aktifis Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (GMBI) Cirebon yang melakukan pendampingan di wilayah Mundu, selama ini yang dibutuhkan perajin cobek adalah modal.

Untuk membantu para perajin cobek, Tafsirun yang juga salah satu aktifis FKPM Mundu, ini juga berencana membangun paguyuban terlebih daulu. Salah satunya dengan mendata para perajin yang ada. Kemudian menampung keluhan-keluhan mereka di lapangan. Apakah ada masalah pada biaya transportnya, biaya produksinya, atau lainnya.

“Karena sebenarnya cobek itu pernah menang dalam lomba yang digelar PNPM. Tapi mungkin pemerintah bingung dan tidak mengerti. Perajin cobek itu selalu dikira sudah sukses dan kaya. Padahal realitasnya tidak seperti itu. Lucunya, ketika sudah juara, mereka masuk dalam laporan bahwa cobek itu dibiayai oleh PNPM, ini kan fiktif,” papar Tafsirun.
Karena realitasnya mereka tidak pernah dibiayai oleh PNPM, lanjutnya. Bahkan berangkat ke Tanggerang untuk memasarkan cobek saja, mereka tidak dipinjamkan. “Jadi mereka selalu pas-pasan, mereka hanya bisa mencetak, tapi ketika berangkat dan pulangnya pas-pasan lagi.”

GMBI sendiri menurutnya telah memiliki data tentang bidang apa saja yang dibiayai oleh PNPM. Di Sinarancang ada 4 macam. Yaitu cobek, pertanian, hasil laut, dan pemberdayaan fasilitas seperti pembenahan dan pembetulan gang-gang.
“Namun ternyata yang lebih diutamakan itu pertanian, tapi tidak maksimal. Seperti bantuan pupuk, mereka hanya beberapa desa. Kalau cobek jelas, mereka tidak pernah mendapat aliran dana sama sekali. Padahal kalau mau diberdayakan, dengan Rp 15 juta bisa membantu 15 perajin cobek. Karena dengan Rp 1 juta juga mereka sudah bisa jalan,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Desa Sinarancang, Caca Efendi, ketika dikonfirmasi tentang persoalan perajin cobek, dia hanya mengungkapkan akan mengusahakan bantuan untuk para perajin cobek.

(hasil liputan ini juga diangkat di media LSM Fahmina-institute Cirebon baik di media cetaknya maupun online)