secuil dari yang bersuara

“….Anda hanya melihat dan mendengarkan melalui media tentang buruh migran perempuan Indonesia yang diperlakukan tidak adil di Malaysia. Anda hanya mendapatkan sebagian kecil kisah-kisah yang jauh lebih menyedihkan di Malaysia. Saya melihat itu semua secara langsung dalam waktu yang lama. Dan menurut dokter saya, saya harus istirahat sementara untuk tidak bersentuhan dengan kasus-kasus buruh migran ini, karena saya mengalami tekanan jiwa yang hebat, karena melihat fakta di lapangan. ….Mengapa pemerintah anda tidak bisa bersikap keras dan tegas terhadap kekejaman Malaysia untuk menghentikan semua kekejaman ini? Semua kebijakan/peraturan/undang-undang penting, tapi paling penting adalah sikap pemerintah Indonesia dalam penanganan buruh migran ini.” (Alex Ong, Migrant Care Malaysia, dalam seminar di PMB-LIPI Oktober 2007. Dikutip dari buku hasil penelitian LIPI tentang Perlindungan Hukum terhadap Pengiriman Buruh Migran Perempuan Indonesia ke Malaysia)

“…Setelah peristiwa penyeretan temanku sesama TKI oleh majikan kami, aku tidak tahu lagi dia ada di mana. Namun yang aku dengar langsung dari salah satu Polisi Oman yang menemaniku saat perjalanan menuju kantor Polisi, bisa jadi temanku itu dibuang di Laut merah. Polisi itu pun sambil menunjukkan Laut Merah tersebut. Saat itu mobil yang kami tumpangi memang melewati Laut Merah. Laut Merah, konon adalah tempat pembuangan para buruh migran terutama dari Indonesia. Sebagian besar, para majikan tidak mau berurusan dengan pihak kepolisian secara berkepanjangan dan rumit. Sehingga para majikan tersebut sering bertindak sendiri dengan membuang para TKI mereka yang dianggap “bermasalah”. Terutama untuk menghilangkan jejak keberadaan dan identitas TKI tersebut. Saya merinding mendengar cerita Polisi tersebut, beberapa minggu setelah itu, saya memutuskan untuk dipulangkan ke negeriku Indonesia, pulang ke Cirebon. Dan temanku yang kepergok melakukan kesalahan, sampai sekarang tidak ada kabar dari siapapun…” (kutipan hasil wawancara Alimah bersama salah seorang mantan TKW asal Cirebon, Juni 2010)

Kutipan di atas hanyalah untuk menggambarkan kompleksitasss persoalan buruh migran di lapangan sering mengalami kesulitan ketika diterjemahkan dalam bahasa tulisan para wartawan pegiat kemanusiaan maupun peneliti sekalipun.